Mata Banua Online
Sabtu, April 25, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Penjualan Mobil Turun

by Mata Banua
22 Mei 2025
in Ekonomi & Bisnis
0

JAKARTA – Pengamat Otomotif Riyanto men­ya­taka, industri mobil mengalami resesi, lan­taran penjualan turun dalam dua tahun be­run­tun. Ironisnya, tahun ini berlaku opsen pajak di beberapa daerah.

“Jadi, ibaratnya industri mo­bi­l sudah jatuh tertimpa tangga. Oleh sebab itu, industri mobil, te­rutama ICE yang stagnan mem­bu­tuhkan insentif,” kata dia.

Berita Lainnya

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

24 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026

Riyanto menyatakan, pem­be­rian insentif berkorelasi kuat de­ng­an penjualan. Contohnya, de­ng­an model regresi, penjualan BEV yang mendapatkan insentif 57% lebih tinggi dibandingkan ya­ng tidak.

Oleh sebab itu, dia me­ng­a­ta­kan, waktunya pemerintah mem­perluas insentif pajak, se­per­ti PPN DTP ke mobil ICE, LCGC, hingga hybrid, dngan pat­okan emisi. Sebab, faktanya, emi­si BEV berdasarkan metode well to wheel tidak lebih rendah da­ri hybrid.

Dia yakin, efek insentif LCGC, HEV, dan ICE lebih be­sar ke ekonomi dibandingkan BEV. Saat ini, BEV menghadapi tan­tangan berupa kecemasan ja­rak tempuh dan keterbatasan in­fra­struktur SPKLU.

Hal ini, kata dia, membuat BEV lebih diburu pemilik mobil ke­duadan ketiga, bukan mobil per­tama. Sebaliknya, mobil ICE, LCGC, dan HEV berpeluang men­jadi mobil pertama, karena tak menghadapi tantangan ter­se­but.

“Dalam jangka pendek, perlu ke­bi­jakan fiskal seperti saat pan­demi, entah itu diskon PPN atau PPnBM untuk menyelamatkan in­dustri dari krisis. Hal yang pen­ting adalah harga kendaraan tu­run,” ungkap dia.

Dalam jangka panjang, dia men­yatakan, pemerinth perlu membuat kajian untuk me­ne­mu­kan tarif pajak ideal dari sisi in­dus­tri dan negara. Intinya, jangan sam­pai industri dan masyarakat te­r­bebani pajak yang kini 40% le­bih. Tarif ini perlu dikurangi.

Dia menilai, mestinya pe­me­rin­tah tak perlu takut rugi ketika mem­berikan pajak ke industri mo­bil. Sebab, dampak ekonomi in­sentif ini sangat besar.

Hitungan Riyanto, pembe­rian insentif PPnBM 0% dapat men­yumbangkan PDB 08% dan tam­bahan tenega kerja di otomotif 23 ribu dan dalam perekonomian (mul­tiplier) 47 ribu orang.

Sekretaris Umum Gabungan In­dustri Kendaraan Bermotor In­do­nesia (Gaikindo) Kukuh Ku­ma­ra menyatakan, pihknya men­du­kung adanya pemberian in­sen­tif pajak kendaraan khususnya mo­bil. Sebab, bisa menjadi obat mu­jarab untuk menaikkan pen­ju­alan mobil dalam jangka pe­n­dek. Hal tersebut sudah di­buk­ti­kan pada 2021 lalu.

Dia mengakui, saat mem­be­ri­kan insentif, penerimaan negara bi­sa berkurang. Tetapi, ini akan ter­normalisasi, begitu pasar mobil pulih.

“Kami tidak minta utang atau sub­sidi, melainkan penundaan pen­yetoran pajak pada periode ter­­ten­tu. Begitu ekonomi bangkit, pe­nerimaan pemerintah akan kem­bali,” kata dia.

Dia menyatakan, Gaikindo ju­ga menyerukan evaluasi ke­bi­jak­an insentif otomotif yang bisa ber­dampak jangka panjang dan me­mastikan target yang di­ca­na­ng­kan tercapai. Sebagai contoh, tar­get produksi kendaraan listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV) pada 2030 mencapai 600 ribu unit. Semua pihak, kata dia, ha­rus memastikan BE diproduksi di dalam negeri, bahkan kalau bi­sa diekspor. Artinya, Indonesia men­jadi basis produksi BEV do­mestik dan ekspor. lp6/mb06

Penjualan Mobil Turun

JAKARTA – Pengamat Otomotif Riyanto men­ya­taka, industri mobil mengalami resesi, lan­taran penjualan turun dalam dua tahun be­run­tun. Ironisnya, tahun ini berlaku opsen pajak di beberapa daerah.

“Jadi, ibaratnya industri mo­bi­l sudah jatuh tertimpa tangga. Oleh sebab itu, industri mobil, te­rutama ICE yang stagnan mem­bu­tuhkan insentif,” kata dia.

Riyanto menyatakan, pem­be­rian insentif berkorelasi kuat de­ng­an penjualan. Contohnya, de­ng­an model regresi, penjualan BEV yang mendapatkan insentif 57% lebih tinggi dibandingkan ya­ng tidak.

Oleh sebab itu, dia me­ng­a­ta­kan, waktunya pemerintah mem­perluas insentif pajak, se­per­ti PPN DTP ke mobil ICE, LCGC, hingga hybrid, dngan pat­okan emisi. Sebab, faktanya, emi­si BEV berdasarkan metode well to wheel tidak lebih rendah da­ri hybrid.

Dia yakin, efek insentif LCGC, HEV, dan ICE lebih be­sar ke ekonomi dibandingkan BEV. Saat ini, BEV menghadapi tan­tangan berupa kecemasan ja­rak tempuh dan keterbatasan in­fra­struktur SPKLU.

Hal ini, kata dia, membuat BEV lebih diburu pemilik mobil ke­duadan ketiga, bukan mobil per­tama. Sebaliknya, mobil ICE, LCGC, dan HEV berpeluang men­jadi mobil pertama, karena tak menghadapi tantangan ter­se­but.

“Dalam jangka pendek, perlu ke­bi­jakan fiskal seperti saat pan­demi, entah itu diskon PPN atau PPnBM untuk menyelamatkan in­dustri dari krisis. Hal yang pen­ting adalah harga kendaraan tu­run,” ungkap dia.

Dalam jangka panjang, dia men­yatakan, pemerinth perlu membuat kajian untuk me­ne­mu­kan tarif pajak ideal dari sisi in­dus­tri dan negara. Intinya, jangan sam­pai industri dan masyarakat te­r­bebani pajak yang kini 40% le­bih. Tarif ini perlu dikurangi.

Dia menilai, mestinya pe­me­rin­tah tak perlu takut rugi ketika mem­berikan pajak ke industri mo­bil. Sebab, dampak ekonomi in­sentif ini sangat besar.

Hitungan Riyanto, pembe­rian insentif PPnBM 0% dapat men­yumbangkan PDB 08% dan tam­bahan tenega kerja di otomotif 23 ribu dan dalam perekonomian (mul­tiplier) 47 ribu orang.

Sekretaris Umum Gabungan In­dustri Kendaraan Bermotor In­do­nesia (Gaikindo) Kukuh Ku­ma­ra menyatakan, pihknya men­du­kung adanya pemberian in­sen­tif pajak kendaraan khususnya mo­bil. Sebab, bisa menjadi obat mu­jarab untuk menaikkan pen­ju­alan mobil dalam jangka pe­n­dek. Hal tersebut sudah di­buk­ti­kan pada 2021 lalu.

Dia mengakui, saat mem­be­ri­kan insentif, penerimaan negara bi­sa berkurang. Tetapi, ini akan ter­normalisasi, begitu pasar mobil pulih.

“Kami tidak minta utang atau sub­sidi, melainkan penundaan pen­yetoran pajak pada periode ter­­ten­tu. Begitu ekonomi bangkit, pe­nerimaan pemerintah akan kem­bali,” kata dia.

Dia menyatakan, Gaikindo ju­ga menyerukan evaluasi ke­bi­jak­an insentif otomotif yang bisa ber­dampak jangka panjang dan me­mastikan target yang di­ca­na­ng­kan tercapai. Sebagai contoh, tar­get produksi kendaraan listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV) pada 2030 mencapai 600 ribu unit. Semua pihak, kata dia, ha­rus memastikan BE diproduksi di dalam negeri, bahkan kalau bi­sa diekspor. Artinya, Indonesia men­jadi basis produksi BEV do­mestik dan ekspor. lp6/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper