Mata Banua Online
Rabu, Maret 4, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Penjualan Mobil Turun

by Mata Banua
22 Mei 2025
in Ekonomi & Bisnis
0

JAKARTA – Pengamat Otomotif Riyanto men­ya­taka, industri mobil mengalami resesi, lan­taran penjualan turun dalam dua tahun be­run­tun. Ironisnya, tahun ini berlaku opsen pajak di beberapa daerah.

“Jadi, ibaratnya industri mo­bi­l sudah jatuh tertimpa tangga. Oleh sebab itu, industri mobil, te­rutama ICE yang stagnan mem­bu­tuhkan insentif,” kata dia.

Berita Lainnya

Kue Kering Kebanjiran Pesanan Jelang Lebaran

Kue Kering Kebanjiran Pesanan Jelang Lebaran

3 Maret 2026
Buah Kelapa Terlaris Selama Bulan Puasa

Buah Kelapa Terlaris Selama Bulan Puasa

3 Maret 2026

Riyanto menyatakan, pem­be­rian insentif berkorelasi kuat de­ng­an penjualan. Contohnya, de­ng­an model regresi, penjualan BEV yang mendapatkan insentif 57% lebih tinggi dibandingkan ya­ng tidak.

Oleh sebab itu, dia me­ng­a­ta­kan, waktunya pemerintah mem­perluas insentif pajak, se­per­ti PPN DTP ke mobil ICE, LCGC, hingga hybrid, dngan pat­okan emisi. Sebab, faktanya, emi­si BEV berdasarkan metode well to wheel tidak lebih rendah da­ri hybrid.

Dia yakin, efek insentif LCGC, HEV, dan ICE lebih be­sar ke ekonomi dibandingkan BEV. Saat ini, BEV menghadapi tan­tangan berupa kecemasan ja­rak tempuh dan keterbatasan in­fra­struktur SPKLU.

Hal ini, kata dia, membuat BEV lebih diburu pemilik mobil ke­duadan ketiga, bukan mobil per­tama. Sebaliknya, mobil ICE, LCGC, dan HEV berpeluang men­jadi mobil pertama, karena tak menghadapi tantangan ter­se­but.

“Dalam jangka pendek, perlu ke­bi­jakan fiskal seperti saat pan­demi, entah itu diskon PPN atau PPnBM untuk menyelamatkan in­dustri dari krisis. Hal yang pen­ting adalah harga kendaraan tu­run,” ungkap dia.

Dalam jangka panjang, dia men­yatakan, pemerinth perlu membuat kajian untuk me­ne­mu­kan tarif pajak ideal dari sisi in­dus­tri dan negara. Intinya, jangan sam­pai industri dan masyarakat te­r­bebani pajak yang kini 40% le­bih. Tarif ini perlu dikurangi.

Dia menilai, mestinya pe­me­rin­tah tak perlu takut rugi ketika mem­berikan pajak ke industri mo­bil. Sebab, dampak ekonomi in­sentif ini sangat besar.

Hitungan Riyanto, pembe­rian insentif PPnBM 0% dapat men­yumbangkan PDB 08% dan tam­bahan tenega kerja di otomotif 23 ribu dan dalam perekonomian (mul­tiplier) 47 ribu orang.

Sekretaris Umum Gabungan In­dustri Kendaraan Bermotor In­do­nesia (Gaikindo) Kukuh Ku­ma­ra menyatakan, pihknya men­du­kung adanya pemberian in­sen­tif pajak kendaraan khususnya mo­bil. Sebab, bisa menjadi obat mu­jarab untuk menaikkan pen­ju­alan mobil dalam jangka pe­n­dek. Hal tersebut sudah di­buk­ti­kan pada 2021 lalu.

Dia mengakui, saat mem­be­ri­kan insentif, penerimaan negara bi­sa berkurang. Tetapi, ini akan ter­normalisasi, begitu pasar mobil pulih.

“Kami tidak minta utang atau sub­sidi, melainkan penundaan pen­yetoran pajak pada periode ter­­ten­tu. Begitu ekonomi bangkit, pe­nerimaan pemerintah akan kem­bali,” kata dia.

Dia menyatakan, Gaikindo ju­ga menyerukan evaluasi ke­bi­jak­an insentif otomotif yang bisa ber­dampak jangka panjang dan me­mastikan target yang di­ca­na­ng­kan tercapai. Sebagai contoh, tar­get produksi kendaraan listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV) pada 2030 mencapai 600 ribu unit. Semua pihak, kata dia, ha­rus memastikan BE diproduksi di dalam negeri, bahkan kalau bi­sa diekspor. Artinya, Indonesia men­jadi basis produksi BEV do­mestik dan ekspor. lp6/mb06

Penjualan Mobil Turun

JAKARTA – Pengamat Otomotif Riyanto men­ya­taka, industri mobil mengalami resesi, lan­taran penjualan turun dalam dua tahun be­run­tun. Ironisnya, tahun ini berlaku opsen pajak di beberapa daerah.

“Jadi, ibaratnya industri mo­bi­l sudah jatuh tertimpa tangga. Oleh sebab itu, industri mobil, te­rutama ICE yang stagnan mem­bu­tuhkan insentif,” kata dia.

Riyanto menyatakan, pem­be­rian insentif berkorelasi kuat de­ng­an penjualan. Contohnya, de­ng­an model regresi, penjualan BEV yang mendapatkan insentif 57% lebih tinggi dibandingkan ya­ng tidak.

Oleh sebab itu, dia me­ng­a­ta­kan, waktunya pemerintah mem­perluas insentif pajak, se­per­ti PPN DTP ke mobil ICE, LCGC, hingga hybrid, dngan pat­okan emisi. Sebab, faktanya, emi­si BEV berdasarkan metode well to wheel tidak lebih rendah da­ri hybrid.

Dia yakin, efek insentif LCGC, HEV, dan ICE lebih be­sar ke ekonomi dibandingkan BEV. Saat ini, BEV menghadapi tan­tangan berupa kecemasan ja­rak tempuh dan keterbatasan in­fra­struktur SPKLU.

Hal ini, kata dia, membuat BEV lebih diburu pemilik mobil ke­duadan ketiga, bukan mobil per­tama. Sebaliknya, mobil ICE, LCGC, dan HEV berpeluang men­jadi mobil pertama, karena tak menghadapi tantangan ter­se­but.

“Dalam jangka pendek, perlu ke­bi­jakan fiskal seperti saat pan­demi, entah itu diskon PPN atau PPnBM untuk menyelamatkan in­dustri dari krisis. Hal yang pen­ting adalah harga kendaraan tu­run,” ungkap dia.

Dalam jangka panjang, dia men­yatakan, pemerinth perlu membuat kajian untuk me­ne­mu­kan tarif pajak ideal dari sisi in­dus­tri dan negara. Intinya, jangan sam­pai industri dan masyarakat te­r­bebani pajak yang kini 40% le­bih. Tarif ini perlu dikurangi.

Dia menilai, mestinya pe­me­rin­tah tak perlu takut rugi ketika mem­berikan pajak ke industri mo­bil. Sebab, dampak ekonomi in­sentif ini sangat besar.

Hitungan Riyanto, pembe­rian insentif PPnBM 0% dapat men­yumbangkan PDB 08% dan tam­bahan tenega kerja di otomotif 23 ribu dan dalam perekonomian (mul­tiplier) 47 ribu orang.

Sekretaris Umum Gabungan In­dustri Kendaraan Bermotor In­do­nesia (Gaikindo) Kukuh Ku­ma­ra menyatakan, pihknya men­du­kung adanya pemberian in­sen­tif pajak kendaraan khususnya mo­bil. Sebab, bisa menjadi obat mu­jarab untuk menaikkan pen­ju­alan mobil dalam jangka pe­n­dek. Hal tersebut sudah di­buk­ti­kan pada 2021 lalu.

Dia mengakui, saat mem­be­ri­kan insentif, penerimaan negara bi­sa berkurang. Tetapi, ini akan ter­normalisasi, begitu pasar mobil pulih.

“Kami tidak minta utang atau sub­sidi, melainkan penundaan pen­yetoran pajak pada periode ter­­ten­tu. Begitu ekonomi bangkit, pe­nerimaan pemerintah akan kem­bali,” kata dia.

Dia menyatakan, Gaikindo ju­ga menyerukan evaluasi ke­bi­jak­an insentif otomotif yang bisa ber­dampak jangka panjang dan me­mastikan target yang di­ca­na­ng­kan tercapai. Sebagai contoh, tar­get produksi kendaraan listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV) pada 2030 mencapai 600 ribu unit. Semua pihak, kata dia, ha­rus memastikan BE diproduksi di dalam negeri, bahkan kalau bi­sa diekspor. Artinya, Indonesia men­jadi basis produksi BEV do­mestik dan ekspor. lp6/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper