
BANJARMASIN – Menghadapi krisis sampah di Banjarmasin diperlukan dukungan semua pihak, termasuk para pelaku usaha. Untuk itu edukasi tentang pengelolaan sampah yang baik diberikan juga kepada para pelaku usaha seperti ekonomi kreatif (ekraf) dan subsektor hotel, restoran, dan kafe (Horeca) oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin.
Wakil Walikota Banjarmasin, Hj Ananda, yang menjadi narasumber utama, menyebut bahwa pengelolaan limbah dari sumbernya adalah solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah sampah di kota ini.
“Kita sedang dalam kondisi darurat sampah. Tapi kita juga tahu Banjarmasin punya kekuatan besar di sektor ekonomi kreatif, ada 17 subsektor. Nah, subsektor ini juga menghasilkan limbah, dan sebagian besar belum memiliki SOP (standar operasional prosedur) terkait pengelolaan limbahnya,” kata Ananda, di salah satu hotel Banjarmasin, Rabu (23/4).
Menurutnya, pelatihan ini sebagai pembinaan terhadap kepedulian lingkungan. “Kami tidak ingin langsung memberikan sanksi. Kita ingin kesadaran itu tumbuh dulu. Ketika pelaku usaha tahu dampaknya dan tahu bagaimana seharusnya mereka bertindak, barulah bisa ditegakkan aturan secara adil,” jelasnya.
Ananda juga menyinggung tentang limbah industri kain Sasirangan, baik itu sisa tekstil dan pewarna sasirangan. Menurutnya, penggunaan pewarna sintetis dalam proses produksi kain tersebut menghasilkan limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan.
“Kalau pewarna alami sih insya Allah aman, tapi kalau pewarna buatan ini perlu perhatian khusus. Kita tidak tahu selama ini limbahnya dibuang ke mana,” ungkap dia.
Ia berharap, pelaku ekonomi kreatif di Banjarmasin punya kepedulian.
Plt Kepala Disbudporapar Kota Banjarmasin, Fitriah, menyebut restoran, hotel, dan kafe memiliki kontribusi besar terhadap timbunan sampah kota, namun belum semuanya memiliki sistem pengelolaan yang memadai. “Dari monitoring yang kami lakukan, masih ada beberapa hotel yang belum memilah sampah atau belum mengelola limbah organik dan non organiknya dengan baik. Melalui pelatihan ini, kami ingin memberikan mereka wawasan dan keterampilan praktis agar mereka bisa mulai dari tempat usaha masing-masing,” harap Fitriah.
Dia berharap, pelatihan ini dapat jadi pelopor perubahan dalam memerangi sampah. ” Sebab kalau mereka bergerak, efeknya akan luas,” katanya lagi. via

