Mata Banua Online
Jumat, April 10, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Waspadai Risiko Paparan Bahan Kimia Pada Parfum

by Mata Banua
25 Maret 2025
in Mozaik
0
D:\2025\Maret 2025\26 Maret 2025\11\waspadai.jpg
(foto:mb/web)

Produk wewangian seperti parfum dapat mengandung bahan-bahan kimia yang bisa menimbulkan masalah kesehatan.

Menurut siaran Health pada Rabu (19/3), hasil penelitian menunjukkan bahan kimia seperti paraben dan fenol, yang digunakan untuk memperpanjang masa simpan wewangian, serta ftalat, bahan kimia yang umum digunakan dalam wewangian, dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti penyakit jantung dan hipertensi hingga masalah kehamilan dan kelahiran prematur.

Berita Lainnya

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

10 Februari 2026
5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

10 Februari 2026

Ftalat digunakan sebagai pelarut dan penstabil dalam wewangian.

“Ftalat dikenal sebagai racun reproduksi,” kata Julia Varshavsky, PhD, MPH, asisten profesor kesehatan masyarakat dan ilmu kesehatan di Universitas Northeastern.

Beberapa ftalat serta paraben dan fenol merupakan pengganggu endokrin, dapat meniru, menghalangi, atau mengganggu hormon yang diproduksi oleh sistem endokrin tubuh.

Menurut tinjauan tahun 2021 terhadap studi pada manusia dan hewan, paparan ftalat dapat merusak sistem neurologis, perkembangan, dan reproduksi manusia.

Kontak dengan ftalat telah dikaitkan dengan masalah kesehatan orang pada semua umur, tetapi waktu yang paling sensitif untuk paparan ftalat adalah selama perkembangan janin menurut Varshavsky.

Sedangkan paraben telah dihubungkan dengan infertilitas pada perempuan. Namun, Varashavsky mengatakan bahwa sudah ada banyak penelitian khusus tentang efek ftalat pada sistem reproduksi pria.

Menurut dia, paparan ftalat antara lain berhubungan dengan perkembangan sistem reproduksi pria, jumlah dan kualitas sperma rendah, cacat lahir seperti kriptorkismus (testis tidak turun ke skrotum), dan hipospadia, yang mempengaruhi uretra.

John Meeker, ScD, profesor ilmu kesehatan lingkungan di University of Michigan, mengatakan bahwa banyak penelitian awal tentang ftalat dilakukan pada hewan, tetapi hasil penelitian yang lebih baru pada manusia juga menunjukkan hasil yang konsisten.

Meeker mengatakan, kandungan bahan kimia dalam produk wewangian kadang tidak dicantumkan secara eksplisit pada kemasan.

Paraben biasanya muncul pada label kemasan sebagai metil paraben (MP), butil paraben (BP), etil paraben (EP), atau propil paraben (PP).

Sementara ftalat dapat dicantumkan sebagai dietil ftalat, DEHP, DBP, BBP, atau DEP pada kemasan produk.

Guna meminimalkan risiko paparan bahan kimia yang dapat membahayakan, Meeker mengatakan, langkah pertama yang harus dijalankan adalah mengecek kandungan bahan kimia parfum pada label kemasan.

Kalau produk parfum yang digunakan mengandung ftalat dan tidak ingin berganti produk, ia melanjutkan, maka sebaiknya berusaha mengurangi paparan bahan kimia ini dengan menggunakan produk kosmetik lain yang bebas ftalat.

Ftalat memiliki waktu paruh yang sangat pendek, yang berarti waktu yang dihabiskannya di dalam tubuh relatif singkat.

“Tubuh kita dapat membuang bahan kimia ini dengan sangat cepat, dalam rentang waktu satu hari atau kurang dan tidak terakumulasi secara biologis, itu kabar baik,” kata Stephanie Eick, PhD, asisten profesor dan ahli epidemiologi lingkungan dan reproduksi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Rollins Universitas Emory.

“Namun, bahan kimia ini terdapat dalam begitu banyak produk sehingga paparannya cukup konstan,” ia menambahkan.

Efek paparan ftalat dapat dikurangi dengan membatasi penggunaan produk yang mengandung ftalat.

“Ini adalah masalah yang dapat dipecahkan. Jika kita menghilangkan paparan, kita dapat dengan sangat cepat mengeluarkannya dari tubuh kita,” kata Varshavsky merujuk pada efek paparan ftalat. ant

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper