Mata Banua Online
Sabtu, April 11, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Kenaikan Harga Jelang Ramadhan, Mengapa Berulang?

by Mata Banua
25 Februari 2025
in Opini
0
D:\2025\Februari 2025\26 Februari 2025\8\foto opini 1.jpg
Sejumlah harga sembako telah merangkak naik di pasaran menjelang bulan Ramadhan.( Foto: mb/ist)

Oleh: Mariatul Adawiyah, ST

Data BPS tentang kenaikan harga di 2025 menunjukkan beberapa tren yang menarik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) Januari 2025 sebesar 123,68 atau naik 0,73%. Kenaikan harga ini terutama dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: Kenaikan Harga Beras: Harga beras premium di penggilingan naik 0,82%, sedangkan harga beras medium naik 1,29%. Kenaikan Harga Kelompok Makanan: Indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 3,16%. Kenaikan Harga Kelompok Transportasi: Indeks harga kelompok transportasi naik 4,19%, dikutip dari (www.bps.co.id).

Berita Lainnya

Arak-arakan Pegon, Tradisi Turun Temurun Warga Pesisir Selatan Jember

Arak-arakan Pegon, Tradisi Turun Temurun Warga Pesisir Selatan Jember

7 April 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Menghidupkan Kembali Kejayaan Pelabuhan Panarukan

7 April 2026

Setiap menjelang Ramadan, fenomena kenaikan harga bahan pokok seolah menjadi tradisi yang terus berulang. Dari tahun ke tahun, masyarakat selalu dihadapkan pada lonjakan harga pangan, mulai dari beras, minyak goreng, gula, hingga daging. Peningkatan permintaan menjelang Ramadan memang menjadi faktor yang sering disalahkan atas kenaikan harga. Namun, jika ditelaah lebih jauh, masalahnya jauh lebih kompleks. Ketidakstabilan harga bukan hanya soal permintaan, melainkan juga berakar pada persoalan produksi, distribusi, dan permainan pasar, dikutip dari (Radarpos.com.klaten).

Seolah sudah menjadi hal yang “wajar,” alasan klasik pun selalu digaungkan. Kebijakan pemerintahan pun dikeluarkan untuk mengatasi masalah, tapi pada faktanya malah menambah masalah dan tidak ada solusi yang yang bersifat hakiki. Namun, benarkah ini satu-satunya penyebab? Ataukah ada akar masalah yang lebih dalam yang selama ini dibiarkan tanpa solusi?

Faktor penyebab terjadinya kenaikan harga jelang Ramadhan yang terus berulang yaitu:

1. Ketidakstabilan Harga: Harga bahan pokok sering berfluktuasi akibat sistem distribusi yang tidak merata dan rantai pasok yang dikuasai oleh segelintir pihak.

2. Mafia Impor dan Kartel: Kelompok-kelompok tertentu yang mengontrol pasokan dan harga, sehingga memperoleh keuntungan yang tidak wajar.

3. Ketergantungan pada Impor: Kebijakan impor yang tidak terkendali, sehingga memperburuk ketidakstabilan harga.

4. Permintaan yang Meningkat: Permintaan akan kebutuhan pokok meningkat menjelang Ramadan, namun tidak diimbangi dengan persediaan yang memadai.

5. Kurangnya Pengawasan: Kurangnya pengawasan dari pemerintah terhadap praktek monopoli dan penimbunan barang, sehingga memperburuk kondisi.

Dampak yang terjadi akibat terjadinya kenaikan harga jelang Ramadhan yang terus berulang yaitu:

1. Meningkatnya Biaya Hidup: Kenaikan harga bahan pokok membuat biaya hidup meningkat, sehingga mempengaruhi kualitas hidup masyarakat.

2. Meningkatnya Kemiskinan: Kenaikan harga bahan pokok dapat membuat masyarakat yang sudah miskin menjadi semakin miskin.

3. Meningkatnya Ketidakpuasan Masyarakat: Kenaikan harga bahan pokok dapat membuat masyarakat menjadi tidak puas dengan pemerintah dan sistem ekonomi.

Islam menjamin kestabilan harga dan distribusi pangan. Sistem ekonomi Islam, negara memiliki peran sentral dalam memastikan kestabilan harga dan distribusi pangan. Islam menetapkan bahwa kebutuhan pokok rakyat adalah tanggung jawab negara. Bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pengelola yang memastikan setiap individu mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasarnya.

Negara Islam akan memberikan solusi yang hakiki dalam persoalan kenaikan harga menjelang Ramadhan yang terus berulang dalam sistem kapitalis ini, solusi negara Islam yaitu:

1. Menjamin Produksi Pangan

– Meningkatkan produksi dalam negeri dengan memberikan dukungan penuh kepada petani dan peternak.

– Mengelola sumber daya alam dan pertanian dengan sistem yang mandiri, tanpa ketergantungan pada impor.

2. Mengatur Distribusi Secara Adil

– Menghapus praktik monopoli, kartel, dan mafia pangan yang mempermainkan harga.

– Menyediakan pasar yang stabil dan terkontrol agar distribusi bahan pokok merata ke seluruh masyarakat.

3. Mencegah Penimbunan dan Kecurangan

– Islam melarang keras praktik iktikar (penimbunan barang untuk menaikkan harga). Dalam hadis, Rasulullah bersabda:

_”Tidaklah seseorang melakukan penimbunan (ihtikar) kecuali dia adalah orang yang berdosa.”_

(HR. Muslim) . Negara akan memberlakukan sanksi tegas bagi pihak yang mempermainkan harga demi keuntungan pribadi.

4. Menjamin Harga yang Stabil dan Terjangkau

– Negara akan langsung turun tangan jika terjadi lonjakan harga yang tidak wajar.

– Pengendalian harga dilakukan tanpa intervensi kapitalistik yang hanya menguntungkan segelintir pihak.

Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa solusi hakiki atas masalah ini adalah dengan kembali kepada sistem ekonomi Islam yang diterapkan dalam naungan Khilafah. Sebuah sistem yang memastikan pangan tersedia, distribusi merata, dan harga tetap terjangkau bagi semua. Dengan sistem ini, rakyat tidak perlu lagi merasa khawatir setiap kali Ramadan tiba, karena kebutuhan pokok mereka dijamin oleh negara sebagai bagian dari tanggung jawabnya kepada umat

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper