
BANJARMASIN – Ratusan pemulung dan pengepul yang biasanya mencari penghasilan dari memilah sampah di TPA Basirih tampak lesu, usai mengetahui seluruh aktivitas TPA Basirih disegel oleh Kementrian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) RI awal Februari 2025.
Mereka juga pasrah dan bingung sampai kapan TPA Basirih disegel, karena mata pencaharian mereka satu-satunya sudah dilarang dimasuki.
Nurul Masitah, salah seorang pemulung, mengaku sudah 20 tahun mencari nafkah di TPA Basirih dan selama ini sudah dapat menghidupi 3 anaknya.
“Lumayan sehari ini minimal seratus ribu perhari untuk menutupi kebutuhan dapur sehari-hari,” Nurul Masitah.
Ia sendiri mengungkapkan keterkejutannya karena penutupan TPA Basirih terasa mendadak. Pastinya menambah kesulitan para pemulung mencari rejeki untuk menyambung hidup bersama keluarganya. Apalagi jika sampai ditutup permanen.
Menurutnya, untuk mencari pekerjaan lain juga sangat sulit, termasuk menjadi petani pun sulit karena lahan pertanian di sekitaran sini sudah tercemar. “Bagaimana kami melanjutkan hidup dan bagaimana anak-anak kami sekolah,” ujarnya.
Tampak juga Ketua Pengepul TPA Basirih, Firmansyah yang mengaku bingung semenjak ditutup sehingga tidak dibolehakan ada lagi aktivitas pengepul ataupun pemulung yang disana
Saat ini, mereka hanya diberi waktu untuk membereskan pekerja tersisa sebelum ditutupnya TPA Basirih.
“Sabtu kemarin disegel dan kami diberi waktu 1×24 jam untuk membereskan. Namun kami meminta kelonggaran dan berkonsultasi dengan kementrian hingga diberi waktu 7 hari untuk membereskan,” tutur Firmansyah.
Terhitung sejak Sabtu kemarin, waktu tersisa tinggal 3 hari lagi dimana Jumat (7/2) mendatang sudah tidak diperbolehkan ada aktivitas apapun di TPA Basirih.
Penutupan ini sendiri lanjutnya, sangat berdampak kepada para pengepul terutama ratusan pemulung yang bergantung hidup di TPA Basirih.
“Bayangkan ketika 1 pemulung itu menghidupi tiga orang. Artinya ada ribuan yang bergantung di TPA Basirih,” ujarnya.
Ia berharap KLHK bisa bijak dan mempertimbangkan keputusannya lagi untuk penutupan TPA Basirih. “Mempertimbangkan asas kemanusiaan yang bergantung hidup di sini,” harapnya.via

