
BANJARMASIN – Beberapa sekolah di Kota Banjarmasin terpaksa melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), lantaran sekolahnya terendam banjir cukup tinggi.
Dari pantauan di lapangan, hampir seluruh jalan dan halaman tergenang bahkan sudah masuk ke dalam ruang belajar.
Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pembina SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin, Ibnul Qayyim, dilaporkan ada tujuh sekolah yang terendam banjir saat ini.
Tujuh sekolah itu yakni SDN Pemurus Dalam 5, SDN Pemurus Dalam 6, SDN Pemurus Dalam 4, SDN Pemurus Dalam 3, SDN Pemurus Dalam 2, SDN Pemurus Dalam 7 dan SDN Pemurus Baru 3.
“Semua sekolah yang terendam ada di wilayah Kecamatan Banjarmasin Selatan,” kata Qayyim, Rabu (22/1).
Qayyim mengungkapkan, dari tujuh sekolah tersebut, hanya ada tiga sekolah yang baru mengajukan Pembelajaran Jarak Jauh
“Sudah kita berikan izin dan baru-baru ini mereka mengusulkan,” tuturnya.
Izin itu sendiri, lanjutnya, diberikan selama banjir masih tinggi hingga proses belajar mengajar di sekolah tidak bisa dilakukan.
“Kalau airnya sudah normal kita kembalikan proses pembelajaran normal anak-anak bisa hadir di sekolah” pungkasnya.
Sementara, SD Negeri 3 Pemurus Baru yang berlokasi di Jalam Prona II No.45 Pemurus Baru, Kecamatan Banjarmasin Selatan, terpaksa menghentikan kegiatan belajar tatap muka karena terdampak banjir yang tak kunjung surut.
Berdasarkan pemantauan lapangan di Banjarmasin, Selasa pagi, halaman sekolah masih tergenang air dengan ketinggian mencapai mata kaki orang dewasa.
Wali Kelas IV SDN Pemurus Baru 3 Rumiani mengungkapkan bahwa pihak sekolah memutuskan untuk meliburkan siswa selama tiga hari, dari Senin hingga Rabu.
Selama tiga hari masa libur, pembelajaran para siswa dialihkan melalui sistem daring atau pembelajaran jarak jauh.
“Kami berencana membuka kembali sekolah pada hari Kamis karena akan ada peringatan Isra Mi’raj. Namun, jika situasi memburuk, kemungkinan besar kami akan mempertimbangkan opsi lain,” ujarnya.
Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan masukan dari para orang tua siswa yang mengeluhkan kesulitan mengantar anak-anak mereka akibat genangan air yang juga mengganggu akses menuju sekolah.
Selain itu, dia mengungkapkan bahwa kondisi ini telah berlangsung sejak penghujung tahun lalu sehingga sekolah terpaksa harus membuat keputusan.
“Banjir ini sudah terjadi sejak akhir Desember 2024 dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda surut,” kata Rumiani.
Dia menuturkan bahwa genangan kali ini belum memasuki ruang kelas, meskipun sebelumnya air pernah merendam sampai ke beberapa ruang belajar.
“Biasanya, genangan air sampai masuk ke dalam kelas, terutama Kelas 4, 5, dan 6 adalah yang paling sering terkena dampak,” katanya. via/ant

