
BANJARMASIN – Panti Asuhan di Kalsel, khususnya di Kota Banjarmasin di nilai memiliki potensi mengangkat produk lokal melalui pelatihan wirausaha mandiri.
Hal itu disampaikan Wakil Walikota Banjarmasin H Arifin Noor sebagai gagasan dan langkah inspiratif mengembangkan kewirausahaan berbasis lokal untuk seluruh lembaga kesejahteraan sosial (LKS) panti asuhan di Kalsel, Sabtu (14/12).
Ia mencontohkan Ikatan Keluarga Pengurus Panti Indonesia (IKAPPI) Kalsel yang menggelar bimbingan untuk pengembangan wirausaha mandiri bagi anggota bertajuk; Membangun Amal Usaha Agar Panti Asuhan Mandiri.
“Kegiatan seperti ini sangat penting karena bertujuan menjadikan panti asuhan di provinsi mandiri melalui kewirausahaan. Kami berharap usaha-usaha kreatif seperti beternak Itik di Amuntai dapat menjadi contoh yang dapat di replikasi,” ujarnya.
Ia menekankan kewirausahaan tidak harus di mulai dengan modal yang besar, tetapi membutuhkan kreativitas, kualitas produk, dan konsistensi. Salah satu ide sederhana, yakni berjualan makanan lokal dengan cita rasa unggulan.
“Misalnya membuka satu outlet saja seperti gerobak pentol yang enak dan nyaman. Jika di kelola dengan baik, satu gerobak bisa menghasilkan pendapatan harian Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. Kuncinya adalah rasa yang lezat dan kenyamanan pelanggan,” katanya.
Arifin menyebutkan, usaha kuliner khas daerah seperti Ketupat Kandangan atau Paliat Tabalong memiliki potensi besar jika dikembangkan dengan standar cita rasa tinggi. Bahkan, usaha kecil semacam itu bisa mendatangkan keuntungan hingga Rp 3 juta per bulan.
Selain itu, lanjut dia, contoh sukses amal usaha Aisyiyah Muhammadiyah dengan produk kuliner, seperti Jukung Julak yang menyajikan Soto Banjar berkualitas premium.
“Kita perlu mengangkat potensi lokal. Pelanggan tidak akan ragu membayar lebih mahal untuk rasa yang memuaskan. Saya harap ide-ide ini dapat memotivasi para pengelola panti asuhan untuk menciptakan usaha yang berdaya saing tinggi, sehingga panti asuhan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada donasi,” ucap Ariffin.
Ia pun berharap kegiatan ini menjadi langkah awal perubahan paradigma pengelolaan panti asuhan dari hanya mengandalkan bantuan menjadi entitas lembaga yang produktif dan mandiri secara ekonomi.
“Dengan kewirausahaan berbasis komunitas dan potensi lokal, panti asuhan dapat meningkatkan taraf hidup anak-anak yang di asuh sekaligus berkontribusi pada perekonomian daerah. Mari kita buktikan bahwa panti asuhan juga bisa menjadi pelopor kewirausahaan kreatif dan inspiratif di Kalimantan Selatan,” pungkasnya. ant

