
JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melemah.
Direktur Utama BRI Sunarso menyebut data ini direkam dalam BRI Micro & SME Index (BMSI). Batasannya adalah level 100, di mana jika kurang dari itu berarti menunjukkan pesimistis.
Ada tiga output dari BMSI. Pertama adalah indeks bisnis UMKM. Sunarso mencatat geliat perekonomian di kuartal III 2024ini lesu.
“Kita lihat selama tiga bulan lalu, geliat ekonomi di UMKM itu menurun, tapi masih di atas 100 (turun dari 109 ke 102). Tapi yang jelas terjadi penurunan,” ucapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta Pusat.
“Penurunannya diukur (dari) omzet UMKM (yang) menurun, pembelian oleh UMKM menurun, penjualan menurun, dan penggunaan tenaga kerja menurun,” jelas Sunarso.
Kedua, BMSI mengukur indeks ekspektasi bisnis UMKM dalam tiga buan mendatang. Bos BRI itu mengatakan hasilnya juga terjadi pelemahan. Ekspektasi UMKM untuk tiga bulan ke depan alias kuartal IV 2024 turun dari 126 ke 122. Sunarso menegaskan para pelaku bisnis kecil agak pesimistis menghadapi sisa akhir tahun ini.
“(Output ketiga) indeks kepercayaan UMKM terhadap kemampuan pemerintah mengelola ekonomi. Itu juga ternyata menurun dari 130 menjadi 125, tapi masih di atas 100. Artinya, ya gak pesimis-pesimis banget,” tuturnya.
Di lain sisi, Sunarso merinci realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR). Ia menegaskan ini adalah tugas khusus yang diberikan oleh negara kepada BRI selaku penyalur mayoritas.
Dirut BRI itu mengatakan penyaluran KUR sekarang sudah masuk ke generasi kedua. Ini dimulai sejak 2015 lalu dengan bunga yang turun menjadi 16 persen, di mana sebanyak 10 persennya dibayari APBN. cnn/mb06

