Mata Banua Online
Sabtu, April 18, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Kenali Ambliopia, ‘Mata Malas’ pada Anak yang Wajib Segera Ditangani

by Mata Banua
15 Oktober 2024
in Mozaik
0
D:\2024\Oktober 2024\16 Oktober 2024\11\Halaman 1-11 Rabu\kenali.jpg
(foto:mb/web)

Penyakit mata malas (lazy eye) atau ambliopia bukan persoalan sepele. Perlu ada penanganan segera guna menyelamatkan penglihatan anak.

Skrining atau deteksi dini penglihatan anak sangat penting. Dokter mata sub spesialis pediatrik oftamologi dan strabismus RS Cicendo Bandung Feti Karfiati menuturkan, skrining akan membantu orang tua mendeteksi ambliopia atau mata malas pada anak.

Berita Lainnya

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

10 Februari 2026
5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

10 Februari 2026

Dia menjelaskan, ambliopia adalah penurunan perkembangan penglihatan yang terjadi ketika otak tidak mendapat rangsangan normal dari mata.

“Saat mata menyampaikan gambaran yang baik, tajam, enggak buram, maka [gambaran] tersimpan di otak, otak mengerti. Namun, bila yang disampaikan dua atau satu mata buram, otak enggak bisa menerima. Komunikasi antara mata dan otak tidak terjadi,” kata Feti dalam webinar Hari Penglihatan Sedunia bersama Kemenkes, Senin (7/10).

Ambliopia hanya terjadi di usia anak. Penyebabnya paling sering adalah kelainan refraksi yang tidak dikoreksi, strabismus atau mata juling, dan kelainan pada mata seperti katarak.

Deteksi dini jadi jalan terbaik untuk mendeteksi ambliopia. Pasalnya, anak kerap tak memiliki keluhan saat penglihatannya buram atau kurang jelas.

“Kalau deteksi dini di usia sekolah, bisa jadi telat [penanganan], ambliopia mulai sulit ditangani,” imbuhnya.

Feti menyarankan deteksi dini dilakukan di usia sebelum 5 tahun. Makin kecil usia saat diterapi, maka peluang untuk memulihkan penglihatan hingga 100 persen makin besar.

Sebaliknya, saat ambliopia tidak ditangani dengan baik, masalah penglihatan pada anak bisa permanen. Penyebab umum kehilangan penglihatan usia 20-70 tahun adalah ambliopia pada masa kanak-kanak yang tak tertangani. web

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper