Mata Banua Online
Jumat, April 24, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Uang Kian Tiris, Kelas Menengah Pilih Barang Murah

by Mata Banua
8 Oktober 2024
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2024\Oktober 2024\9 Oktober 2024\7\7\Halman ekonomi (09 Oktober   )\hal 7 - 2 klm (Bawah).jpg
(foto:mb/web)

JAKARTA – Asosiasi Pe­ng­e­lo­la Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai daya beli mas­ya­rakat menurun. Hal ini lan­tar­an uang untuk berbelanja ma­kin tipis.

Ketua Umum APPBI Alpho­n­sus Widjaja mengatakan de­­ng­an kondisi sulit saat ini, mas­ya­rakat cenderung memilih har­ga yang lebih murah untuk ba­rang yang sama.

Berita Lainnya

Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026
Stok Beras Bulog 5 Juta Ton, Rekor Tertinggi

Stok Beras Bulog 5 Juta Ton, Rekor Tertinggi

23 April 2026

“Dikarenakan uang yang di­pegang semakin sedikit, maka sa­at ini pola belanja masyarakat ke­las menengah bawah cend­e­ru­ng untuk membeli barang atau­pun produk dengan nilai atau har­ga satuan yang lebih kecil atau murah,” ujarnya.

Menurutnya, penurunan da­ya beli masyarakat terjadi sejak awal tahun. Penurunan makin pa­rah seelah Hari Raya Idulfitri 2024, terutama di luar pulau Jawa.

Kondisi keuangan mas­ya­ra­kat kelas menengah yang menipis ini menjadi salah satu penyebab me­reka memilih barang impor. Pa­salnya, harga yang murah men­jadi fokus utama pembeli.

“Inilah juga yang menjadi sa­lah satu penyebab kenapa ba­rang impor ilegal semakin marak di­karenakan harganya yang sa­ng­at murah akibat tidak mem­ba­yar berbagai pungutan dan pa­jak sebagaimana mestinya,” je­lasnya.

Alphonsus memperkirakan kon­disi ini akan berlangsung sam­pai akhir tahun. Imbasnya, ia memprediksi pertumbuhan in­dus­tri usaha ritel sepanjang 2024 an­jlok atau hanya single digit di­ban­dingkan sebelumnya.

Ia menekankan untuk me­ng­a­tasi permasalahan ini, peng­usaha tidak bisa sendiri. Berb­a­gai langkah telah ditempuh mulai da­ri memperkecil kemasan hi­ng­ga menyelenggarakan prog­ram belanja seperti Jakarta Great Sa­le sampai Indonesia Shopping Fes­tival dengan memberikan dis­kon besar-besaran, tapi tetap ti­dak berhasil.

Karenanya, ia mendesak pe­me­rintah turun tangan. Salah sa­tu­nya, menunda rencana ken­a­ik­an Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen mulai 1 Januari 2025. Pasalnya, ke­bi­jakan itu dinilai akan me­nam­bah beban masyarakat dan mem­per­buruk industri usaha ritel.

“Rencana kenaikan PPN da­ri 11 persen menjadi 12 persen ada­lah salah faktor yang ber­po­ten­si memperlemah daya beli mas­yarakat kelas menengah ba­wah, sehingga sebaiknya ren­ca­na tersebut diunda sementara wak­tu sampai dengan kondisi te­lah menjadi lebih baik,” pu­ng­kasnya.

BPS mencatat Indonesia se­be­lumnya mengalami deflasi da­lam lima bulan berturut-turut se­jak Mei 2024. Pada September 2024, deflasi tercatat 0,12 per­sen (mtm). Ini menjadi yang ter­pa­rah dalam lima tahun terakhir ke­pemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pakar Kebijakan Publik dan Eko­nom UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat me­ng­a­ta­kan deflasi ini memang pertanda pe­nurunan daya beli masyarakat dan ketimpangan ekonomi yang se­makin lebar. cnnmb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper