Mata Banua Online
Kamis, Februari 19, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Cegah Deflasi Berlanjut, Pemerintah Harus Apa?

by Mata Banua
4 September 2024
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2024\September 2024\5 September 2024\7\Halman ekonomi (05 Sept )\7\Halman ekonomi (05 Sept )\master 7.jpg
DEFLASI – Deflasi yang sudah terjadi 4 bulan berturut-turut harus menjadi perhatian Pemerintah, terutama dalam membuat kebijakan yang cenderung mempunyai dampak negatif terhadap konsumsi rumah tangga. Komuditas telur ayam, merupakan salah satu penyumbang terjadiya deflasi Agustus 2024.(foto:mb/ant)

 

JAKARTA – Pengamat Ekonomi Celios Nailul Huda menyoroti terkait deflasi yang dia­lami Indonesia selama empat bulan ber­turut-turut. BPS mencatat Indonesia me­ng­alami deflasi sejak Mei hingga Agustus 2024. Per Agustus 2024, BPS melaporkan de­f­lasi 0,03 persen.

Berita Lainnya

Harga Ayam dan Telur Resahkan Emak-emak

Harga Ayam dan Telur Resahkan Emak-emak

18 Februari 2026
Harga Emas Antam Melorot Rp40 Ribu

Harga Emas Antam Melorot Rp40 Ribu

18 Februari 2026

Nailul Huda menilai kondisi deflasi ya­ng terjadi saat ini memang lebih banyak di­pengaruhi oleh faktor domestik. Pada def­lasi sebelumnya seperti di tahun 2008-2009 mi­salkan, faktor krisis global menyebabkan deflasi terjadi beberapa bulan berturut-turut.

Sedangkan di masa pandemi covid-19 ju­ga sama ada faktor extra ordinary yang men­yebabkan permintaan melemah. Se­men­tara saat ini, kata Nailul, faktor deflasi ban­yak disebabkan oleh pelemahan daya beli ya­ng disebabkan kebijakan pemerintah yang ku­rang tepat.

“Saya melihat kondisi harga komoditas ma­sih bisa dibilang oke meskipun terjadi pe­nu­runan. Covid-19 sudah berjalan be­be­rapa tahun ke belakang dan perdagangan glob­al juga sudah dibuka,” kata Nailul Rabu.

Sementara, jika dilihat pada tahun 2022 pe­me­rintah menaikkan harga pertalite yang pa­da akhirnya menggerus daya beli. Selain itu, kondisi pelemahan daya beli kelas me­ne­ngah juga disebabkan faktor pelemahan in­dustri dan investasi yang seret. “Jadi treat­ment terhadap isu deflasi saat ini ber­be­da dengan kondisi deflasi tahun-tahun se­be­lumnya,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mengatasi deflasi ya­ng berkelanjutan Pemerintah harus pintar mem­buat kebijakan yang cenderung mem­punyai dampak negatif terhadap konsumsi ru­mah tangga.

“Rencana kenaikan tarif PPN tahun de­pan bisa dibatalkan. Pembatasan pertalite ha­rus dilakukan secara matang dengan me­li­hat unsur keadilan bagi penerima sub­si­di,” pungkasnya.

Ekonom Indonesia Strategic and Eco­no­mic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita, menilai risiko dari deflasi yang ber­kelanjutan dalam empat bulan adalah pe­nu­runan tingkat konsumsi rumah ta­ng­ga.

Sehingga sangat berpotesi akan me­ne­kan angka pertumbuhan ekonomi di kuartal III tahun ini, karena kontribusi konsumsi ru­mah tangga sangat besar kepada per­tum­buhan ekonomi nasional.

Risiko lanjutanya yakni prospek in­ves­tasi untuk beberapa sektor yang terkait de­ngan konsumsi rumah tangga dan daya beli sehari-sehari masyarakat akan mem­bu­ruk di satu sisi. Bahkan berpotensi ter­ja­dinya PHK alias gulung tikar, misalnya un­tuk sektor consumer good, manufaktur, te­r­utama tekstil, dan properti. lp6/mb06

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper