Mata Banua Online
Sabtu, April 25, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Petani Panen Padi Masih Gunakan “Ranggaman”

by Mata Banua
2 September 2024
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2024\September 2024\3 September 2024\5\Petani memanen padi (mangatam banih) menggunakan alat.jpg
PETANI memanen padi (mangatam banih) menggunakan alat “ranggaman” (ani-ani) di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Sabtu (31/8).(foto:mb/ant)

BANJAR – Petani di Kabupaten Banjar yang menjadi lumbung padi Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), ternyata masih menggunakan alat tradisional berupa ranggaman (ani-ani) saat panen padi.

Pewarta ANTARA Kalsel di Banjarmasin, Ahad, melaporkan warga tani “Bumi Barakat” Banjar itu menggunakan ranggaman saat memanen (mangatam) padi di Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar.

Berita Lainnya

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

24 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026

Kecamatan Aluh-Aluh merupakan salah satu sentra pertanian yang banyak menanam varietas lokal di Kabupaten Banjar.

“Amun banihnya (kalau padinya) varietas unggul bisa mangatam menggunakan arit. Tapi jika padi lokal sulit menggunakan arit karena tangkainya panjang menjadi lebih nyaman (enak) menggunakan ranggaman,” ujar petani Yuni (40).

Menurut dia, petani lebih memilih menggunakan arit dibanding ranggaman saat memanen padi unggul.

“Tapi kebanyakan orang mangatam banih unggul pakai mesin,” ujar ayah dari dua anak tersebut.

Pada beberapa wilayah Kabupaten Banjar, kini sudah mulai panen padi sawah di Kecamatan Aluh-Aluh dan Kecamatan Beruntung Baru (pemekaran dari Aluh-Aluh).

Hampir sebagian besar wilayah Banjar merupakan sentra pertanian persawahan, antara lain Kecamatan Gambut, Sungai Tabuk, Kertak Hanyar, Tatah Makmur dan Kecamatan Astambul.

Sementara, warga di daerah perbukitan, menanam padi pada lahan kering masih menggunakan varietas lokal yang lebih harum, seperti “Si Buyung”.

Harga “Si Buyung” sekitar Rp20.000 per liter atau lebih mahal dibanding beras lokal biasa, seperti varietas “Mayang Mutiara” mencapai Rp1 8.000 per liter dan varietas unggul Ciherang atau IR42/IR46 seharga Rp13.000/liter. ant

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper