
BANJARMASIN – Sempat ramai diawal-awal 2024, seiring waktu destinasi kampung ketupat semakin sepi pengunjung bahkan tutup. Pihak pengelola PT Juru Supervisi Indonesia menargetkan dioperasionalkan lagi pada Juni lalu, namun tak kunjung terealisasi.
Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina mengungkapkan telah melakukan pertemuan dengan investor dan menyampaikan kendala yang mereka hadapi.
“Mereka menyampaikan tentang gagal pengelolaan. Tapi karena kerja sama dengan Pemko selama 5 tahun ke depan, jadi mereka berupaya cari pengelola baru,” kata Ibnu, akhir pekan lalu.
Dari situ, PT Juru Supervisi mencoba menggandeng pengelola lokal yang paham dengan bagaimana pariwisata Banjarmasin, sebab tipikal orang sini beda dengan orang luar.
“Mungkin pola harus dipahami karena dalam pengelolaan wisata ada tipikal dan khasnya di kawasan Banjarmasin ini,” ujarnya.
Ia juga berpendapat bahwa dalam pngelolaan wisata di Banjarmasin agar tidak berbayar lagi alis gratis saat memasuki area Kampung Ketupat. Namun, bisa saja nanti baru dipungut bayaran dengan mengoptimalkan fasilitas bermain.
“Termasuk makanan yang disajikan sesuai standar. Paling tidak sesuai lidah Banjar. Misalnya yang legend-legend itu bisa direkrut untuk berjualan di sana,” jelasnya.
Menurutnya, berbeda dengan wisata Pulau Jawa yang tetap banyak pengunjung meski ada tarif masuknya.
Namun itu tak berlaku di Kota Banjarmasin hingga memang harus dievaluasi dan disesuaikan agar bisa menarik wisatawan untuk datang.
“Paling penting itu jangan bayar, tapi dimaksimalkan wahana bermain dan makanannya disana. Insya Allah orang akan tertarik datang,” tuturnya.
Mengingat kegagalan pengelola terjadi sudah terjadi dua kali, ia berharap pengelola bisa belajar dan tentunya berharap Kampung Ketupat bisa kembali operasional. via

