Mata Banua Online
Sabtu, April 11, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Peran Penting Sastra

by Mata Banua
21 Agustus 2024
in Opini
0
D:\2024\Agustus 2024\22 Agustus 2024\8\Femas Anggit Wahyu Nugroho.jpg
Femas Anggit Wahyu Nugroho (Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah)

 

Barangkali kita sendiri atau orang-orang di sekitar kita sering bertanya-tanya, apa untungnya membaca novel, cerpen, atau puisi? Apa dengan membaca karya-karya sastra serupa itu dapat menambah wawasan? Jika tujuannya untuk menambah wawasan, mengapa tidak membaca buku-buku pengetahuan saja yang sudah jelas pasti isinya? Dan mungkin masih banyak pertanyaan lainnya.

Berita Lainnya

Arak-arakan Pegon, Tradisi Turun Temurun Warga Pesisir Selatan Jember

Arak-arakan Pegon, Tradisi Turun Temurun Warga Pesisir Selatan Jember

7 April 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Menghidupkan Kembali Kejayaan Pelabuhan Panarukan

7 April 2026

Berbagai pertanyaan tersebut pada akhirnya akan mengerucut pada sebuah pertanyaan yang paling mendasar, apa peran penting sastra dalam kehidupan kita?

Menarik untuk merenungkan ungkapan Seno Gumira Ajidarma: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Ungkapan ini merupakan kalimat pembuka dari salah satu esainya yang berjudul Kehidupan Sastra di Dalam Pikiran. Lebih lanjut, Seno menyatakan bahwa bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran.

Apa yang kita sebut kebenaran sering kali berisikan fakta-fakta yang sebenarnya rentan telah mengalami manipulasi atas dasar berbagai kepentingan. Hanya karena dituturkan turun temurun kita menganggapnya sebagai kebenaran. Pada akhirnya, tanpa kita sadari apa yang kita anggap sebagai kebenaran tiada lain hanyalah akumulasi penyimpangan fakta.

Sastra membawa semacam alternatif kebenaran dan realitas kedua. Sastra menjadi medium kritik untuk membongkar dan mempertanyakan kembali apa yang selama ini telah kita anggap sebagai kebenaran. Salah satunya adalah kebenaran dalam konteks sejarah. Banyak karya sastra Indonesia yang mengangkat temasejarahmemiliki daya magis untuk memengaruhi pembacanya agar merenungkan kembali kebenaran sejarah yang telah diajarkan di buku-buku sekolah.

Novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menjadi salah satu contoh yang bagus. Novel ini sebenarnya kumpulan trilogi di mana dua bagian lainnya berjudul Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala.Berlatar tahun 1960-an yang penuh gejolak politik, berkisah mengenai kehidupan warga dukuh Paruk yang terbelakang. Warganya buta huruf, bodoh, malas, dan melarat. Karena kebodohan mereka terseret arus propaganda salah satu partai politik yang tiada lain adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Kesenian tari ronggeng di dukuh itu sering kali ditampilkan dalam rapat-rapat partai dan diberi embel-embel kesenian rakyat, kebudayaan rakyat, dan embel-embel sejenisnya.

Begitu puncak gejolak politik pecah, di mana siapa pun atau apa pun yang berkaitan dengan PKI diburu habis-habisan, warga di dukuh tersebut yang sebenarnya tidak tahu apa-apa ikut kena batunya. Dalam satu malam dukuh Paruk dibumihanguskan. Namun, tidak diungkapkan secara jelas dalam novel mengenai siapa pelaku dan atas dasar motif apa tragedi itu terjadi. Bisa saja memang berkaitan dengan gejolak politik atau karena hal lain.

Novel tersebut seolah hendak mempertanyakan kembali mengenai sikap kita terhadap sejarah kelam bangsa di tahun 1960-an itu. Bersedia dan beranikah kita untuk membuka kembali luka lama sejarah secara lebih objektif dan jujur, terutama terhadap mereka yangbisa saja sebenarnyatidak tahu apa-apa tetapi ikut terhakimi?

Sastra menjadi begitu penting peranannya dalam kehidupan kita karena sifatnya. Jika buku-buku pengetahuan haruslah bersifat general, sastra justru bersifat individual. Sastra merupakan tulisan personal. Pandangan seorang penulis terhadap satu hal termanifestasikan dalam karyanya yang sering kali membuka penafsiran yang personal pula dari pembaca.

Melalui sastra, kita bisa menemukan berbagai pemikiran dari hasil kerumitan emosi dan imajinasi.Di mana harus kita akui bahwa masing-masing individu memiliki tafsirannya sendiri atas realitas dunia melalui refleksi pribadi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Hal ini memunculkan penghayatan nilai-nilai yang beragam pada individu.

Dapat kita jumpai tokoh-tokoh dalam karya sastra yang digambarkan begitu unik oleh penulisnya. Sifat tokoh dan nilai-nilai yang menjadi pegangan hidupnya digambarkan sedemikian rupa baik melalui dialog maupun narasi langsung. Hal ini membuka kesadaran terhadap karakter orang-orang di sekitar kita yang masing-masing pada hakikatnya khas meskipun terkadang kita menganggapnya aneh karena tidak sejalan dengan nilai-nilai yang kita jadikan pegangan maupun pandangan hidup yang kita hayati.

Sebagai contoh adalah buku kumpulan cerpen berjudul Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma. Berlatar di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Budi Darma tampak mencoba mengungkapkan nilai-nilai yang dihayati oleh masyarakat di sana melalui beberapa cerpen di dalam buku tersebut yang mengisahkan kehidupan tokoh-tokoh yang bagi kita mungkin cenderung aneh, individualis, dan anti sosial. Selain itu, melalui alur penceritaan yangbisa dibilang sederhanaBudi Darma mengeksplorasi kondisi-kondisi terdalam jiwa manusia yang justru tidak sederhana. Kondisi-kondisi yang justru hampir kita semua pernah mengalaminya seperti kesepian, dengki, dan prasangka.

Sastra juga menjadi cerminan suatu zaman. Melalui sastra, kita dapat menengok ulang kondisi zaman yang telah lampau. Kita dapat menggali pembelajaran darinya yang bisa jadi masih relevan dengan kehidupan pada zaman kita sekarang..

Novel berjudul Atheis karya Achdiat Karta Mihardja menjadi salah satu contoh dari sekian banyak karya sastra lainnya. Mengisahkan kehidupan seorang tokoh bernama Hasan yang pada awalnya alim dan taat agama. Seluruh hidupnya hanya diarahkan untuk bekal kehidupan di dunia seberang (akhirat). Sampai akhirnya ia menjadi “seorang pencari” yang dirundung kebimbangan setelah terpengaruh oleh teman pergaulannya bernama Rusli yang menganut Marxisme. Ia semakin bimbang dalam pencarian akan kebenaran dan tujuan hidup ketika harus berurusan dengan temanlain bernama Anwar, seorang nihilis dan anarkis individualis.

Tema ideologi dan keagamaan yang diangkat sejalan dengan zaman di mana novel tersebut diterbitkan untuk pertama kali pada pertengahan abad-20, tepatnya pada tahun 1949. Dalam sejarah pergerakan pada abad-20, ideologi seperti Marxisme-Leninisme, nihilisme, dan anarkismebegitu menjamur sebagai bentuk perlawanan terhadap bayang-bayang kolonialisme dan imperialisme.

Dengan demikian, bagai angin yang mengembara dari waktu ke waktu yang entah seberapa lamanya dan dari tempat ke tempat yang entah seberapa jauhnya, peran penting sastra pada dasarnya melingkupi seluruh kehidupan kita di sepanjang zaman dan peradaban.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper