Mata Banua Online
Selasa, Mei 5, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Polisi Simpulkan Brigadir RAT Tewas Bunuh Diri

- Kompolnas Pertanyakan 6 Kejanggalan

by Mata Banua
28 April 2024
in Headlines
0
Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto.

JAKARTA – Polisi menyimpulkan kematian anggota Satlantas Polresta Manado berinisial Brigadir RAT karena bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri menggunakan senjata api (senpi). Namun beberapa warga yang pada saat kejadian berada tidak jauh lokasi mengaku tidak mendengar letusan atau tembakan. Mereka baru mengetahui ada polisi bunuh diri pada saat banyak petugas berdatangan ke tempat kejadian perkara (TKP).

Seorang remaja bernama Endun yang rumahnya berada di seberang rumah gedong lokasi kejadian Brigadir RAT diduga bunuh diri, mengaku tidak mendengar tembakan. Padahal saat kejadian pelajar SMK itu sedang membongkar motor di rumah di belakang tembok dari rumah tempat kejadian perkara. Dia mengaku pada hari Kamis (25/4) dirinya bersama temannya berada di sekitar lokasi itu dari siang hingga malam hari.

Berita Lainnya

Nadiem Jalani Sidang dengan Tangan Diinfus

Nadiem Jalani Sidang dengan Tangan Diinfus

4 Mei 2026
JCH Meninggal Tak Lama Setelah Tiba di Madinah

JCH Meninggal Tak Lama Setelah Tiba di Madinah

4 Mei 2026

“Nggak dengar apa-apa (suara tembakan). Nggak dengar sama sekali. Dari siang sampai malam di sini (bongkar motor),” ujar Endun saat ditemui sekitar lokasi kejadian di Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Ahad (28/4), seperti dikutip Republika.co.id.

Hal yang sama juga disampaikan oleh seorang pria berinisial I. Dia mengaku tidak mendengar secara pasti letusan tembakan pada saat kejadian Kamis (25/4) sekitar pukul 18.25 WIB. Memang dia mendengar samar-samar suara seperti petasan, tapi dia enggan memastikan suara apa yang didengarnya. Bahkan, kata dia, warga juga tidak mengetahui ada kasus bunuh diri di lingkungannya pada hari kejadian.

“Iya (sama-samar suara letusan). Tapi kata orang itu yang bunyi petasan. Kalau pas kejadiannya enggak ada yang tahu cuma ramainya pas Jumat malam abis magrib itu orang pada tahu karena mobil polisi pada datang,” ungkapnya.

Rumah gedong yang diduga bekas kediaman Fahmi Idris, mantan Menteri Perindustrian era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dikelilingi pagar tembok dengan gapura tinggi serta pintu gerbang motif papan kayu warna coklat. Diketahui saat ini rumah tersebut dimiliki oleh seseorang bernama Indra Pratama yang diduga merupakan pengusaha tambang batu bara.

Sebelumnya, Indra Pratama mengaku sedang tidak berada di lokasi pada saat korban tewas pada hari Kamis (25/4) malam. Indra juga mengaku hubungan dirinya dengan korban sebatas teman dan korban sering berkunjung ke kediamannya tersebut.

“Saya tidak ada di lokasi. Saya berada di luar. Itu semua nanti bisa dibuktikan semua,” ucap Indra Pratama.

Ia juga membantah bahwa rumah tersebut milik Fahmi Idris. Dia menegaskan bahwa rumah lokasi Brigadir RAT diduga bunuh diri adalah miliknya bukan sewa. Pernyataan Indra Pratama disampaikan karena ada keterangan seorang yang menyebut bahwa rumah lokasi bunuh diri Brigadir RAT itu milik Fahmi Idris.

Brigadir RAT ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa di dalam Toyota Alphard B 1544 QH. Pada saat ditemukan RAT duduk di bagian kemudi dan terdapat luka tembak di bagian kepalanya. Detik-detik korban RAT ditemukan terekam oleh kamera pengawas atau CCTV di lokasi kejadian. Di dalam mobil itu juga ditemukan sepucuk senjata api jenis HS dengan kaliber 9 milimeter (mm).

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Ade Rahmat Idnal menduga motif anggota Polisi Brigadir RAT melakukan aksi bunuh diri karena permasalahan pribadi. Namun untuk mendalaminya, pihaknya bakal membuka isi ponsel milik anggota Satlantas Polresta Manado tersebut. Termasuk meminta keterangan dari istri dan pihak keluarga korban.

“Untuk motif, dia bunuh diri (karena) masalah pribadi. Itu masih kita dalami kepada istri, kerabat, dan keluarga. Kita akan buka nanti isi handphone yang bersangkutan,” ujar Ade Rahmat saat dikonfirmasi, Sabtu (27/4).

Ade menegaskan, kembali bahwa meninggalnya Brigadir RAT karena bunuh diri bukan korban pembunuhan. Hal itu diketahui setelah pihaknya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), dan pemeriksaan terhadap belasan saksi serta rekaman kamera pengawas atau CCTV di lokasi kejadian.

“Clear, kan, itu bukan pembunuhan, itu bunuh diri. Kita sudah olah TKP, kita periksa rekaman CCR-nya, sudah beberapa saksi, sudah sekitar 18 saksi diperiksa di TKP,” tegas Ade.

Sementara, Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto mempertanyakan enam poin kejanggalan di kasus dugaan bunuh diri anggota Polresta Manado Brigadir RAT di Jakarta yang terjadi baru-baru ini.

Pertama, benny mempertanyakan soal legalitas penugasan Brigadir RAT. Baginya, legalitas sebuah penugasan pasti memiliki surat perintah.

Kedua, Benny mempertanyakan surat tugas Brigadir RAT apakah ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) atau dari hasil penggeledahan di tempat korban menginap.

Benny turut mempertanyakan pihak yang menugaskan RAT. Sebab, ia mengatakan pengakuan istri Brigadir RAT, suaminya sudah ditugaskan sejak tahun 2022 untuk mengawal.

“Siapa yang menugaskan? Karena menurut istrinya sejak 2022 ditugaskan untuk mengawal, penjelasan atasan langsung sangat diperlukan,” kata Benny dalam keterangannya, Minggu (28/4), seperti dikutip CNNIndonesia..

Keempat, Benny mempertanyakan adanya sosok Polwan yang dimaksud istri Brigadir RA yang mengajak Brigadir RA ke Jakarta.

Kemudian kelima, Benny mempertanyakan hasil digital forensik terhadap media sosial, handphone dan rekan kerja Brigadir RA.

“Terkait legalitas senjata, apakah ada surat izin membawa senjata? Dan senjata tersebut terdaftar di satuan mana?” tanya Benny di poin terakhirnya.

Benny mengatakan Kompolnas sudah meminta klarifikasi terkait poin-poin kejanggalan tersebut kepada kepolisian dan masih menunggu jawabannya.

“Kami memaklumi karena proses sedang berjalan dan belum selesai. Dari pemberitaan hasil wawancara dengan isteri korban dan pemilik rumah memang ada beberapa hal yang perlu segera diungkap agar keluarga dan publik tidak curiga,” kata dia.

Kompolnas, lanjutnya, juga telah mendorong agar Propam dan Itwasda Polri ikut memeriksa poin-poin ini. Ia berharap motif dan latar belakang kasus ini dapat terselesaikan.

“Kompolnas juga mendorong untum dilakukan evaluasi dan kajian atas kasus-kasus bunuh diri yang terjadi berturut turut dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk antisipasi ke depan agar tidak terjadi lagi,” ungkapnya. web

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper