Mata Banua Online
Minggu, April 5, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Idealkah Eksistensi BEM UPI YPTK?

by Mata Banua
29 Januari 2024
in Opini
0
D:\2024\Januari 2024\30 Januari 2024\8\8\Rayhan Zickri Al-Fajri.jpg
Rayhan Zickri Al-Fajri (Mahasiswa UPI YPTK Padang)

“Sejatinya BEM adalah jantung gerakan mahasiswa dan lidah perjuangan, sehingga jantung ini mestilah dirawat dan lidahnya jangan sampai diamputasi”

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan wadah yang dibuat oleh para aktivis untuk mencetak aktivis-aktivis berikutnya. Dengan tujuan melanjutkan estafet perjuangan dan memperpanjang umur nafas perjuangan dalam upaya pengawalan kebijakan di dalam kampus maupun luar kampus (pemerintahan). BEM memiliki sejarah perjalanan yang panjang dalam dinamika kehidupan mahasiswa. Berawal dari perjuangan mahasiswa untuk menyalurkan aspirasi dalam pengelolaan kebijakan. Jika kita membaca sejarah di berbagai referensi BEM sebagian besar berakar pada gerakan mahasiswa pada era 1960-an dan 1970-an ketika mahasiswa turut aktif dalam pergerakan sosial dan politik di Indonesia. Momen paling bergengsi adalah saat Tisakti dan peristiwa bersejarah pada tahun 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru.

Berita Lainnya

KorupsiBerjamaah dan SimbolisKepala Daerah

KorupsiBerjamaah dan SimbolisKepala Daerah

31 Maret 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

SKB Kesehatan Jiwa Anak Disepakati 9 Kementerian dan Lembaga

31 Maret 2026

Berdasarkan sejarahnya BEM juga berperan besar di setiap momen-momen perubahan terjadi di Indonesia. Setelah peristiwa ikonik itu kebebasan berekspresi dan berorganisasi mahasiswa semakin berkembang. Seiring perjalanan waktu BEM menjadi salah satu Ormawa (Organisasi mahasiswa) yang sebagian besar hadir di tiap-tiap kampus di Indonesia. Organisasi ini merupakan sarana yang menjembatani aspirasi mahasiswa di perguruan tinggi ataupun universitas. Dari hal itu BEM seharusnya bertanggung jawab untuk menyuarakan aspirasi, kepentingan dan masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa kepada pihak universitas/kampus.

Mempertanyakan Eksistensi BEM UPI YPTK

Di salah satu kampus swasta di Padang, tepatnya di UPI YPTK Padang juga terdapat BEM yang dimana menggunakan istilah BEMU (Badan Eksekutif Mahaiswa Universitas) di Rema (Republik mahasiwa). Kebetulan BEMU UPI sedang diamanahkan menjadi koordinator pusat pada aliansi BEM-Sumatera Barat periode 2022/2023. Namun sayangnya organisasi eksekutif tersebut kurang dalam memberikan keberdampakan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana kebermanfaatan BEM UPI itu sendiri terhadap mahasiswa, bisa dikatakan tidak ada dampak maupun efek organisasi ini.

Bisa dikatakan organisasi ini hanya sebagai pajangan dalam arti sekadar pelengkap dalam tatanan administrasi kampus. Kita bisa melihat tentang bagaimana kampus-kampus dan juga BEM sebagian besar kampus di Indonesia gigih untuk bergerak cepat dalam menanggapi persoalan isu politik, hukum, sosial, budaya, dan berbagai isu lainnya.

Mengingat jelang Pemilihan Umum (pemilu) 2024, banyak BEM luar yang berpartisipasi dalam upaya menyelamatkan kebangsaan yang di aktualisasikan dalam kuliah umum kebangsaan, uji gagasan capres-cawapres dan membedah visi-misi. Momen seperti ini tentunya secara langsung akan memberikan pendidikan politik terhadap mahasiswa, yang dimana, pendidikan seperti ini tidak disajikan di dalam kelas. Namun BEM UPI masih tertidur pulas sembari bermimpi indah tentang kesejahteraan dan kemerdekaan sejati itu datang secara ajaib.

BEM UPI harus sadar bahwa mereka merupakan representatif dari mahasiswa kampus itu sendiri, artinya perlu kepedulian dan kepekaan yang tinggi terhadap isu kerakyatan, kesejahteraan dan juga politik. Semestinya jika tidak ada yang “menina bobokan” kenapa harus “bobok” sendiri?. Sangat disayangkan jika mahasiswa kurang lebih 14.000 orang (data dilansir dari padeks, 20 Oktiber 2022) direpresentatifkan oleh kelembagaan yang sedemikian.

Jika dilihat dari program BEM UPI itu sendiri dari tahun ke tahun hanyalah terfokus kepada pelaksanaan HIRM (Hari Ikatan Republik Mahasiswa) yang dimana merupakan acara seremonial yang rutin diadakan satu kali dalam satu tahun. Pada acara ini merupakan penyambutan dari lembaga-lembaga yang tergabung di Rema untuk menyambut mahasiswa baru, sekaligus pembujukan yang ditujukan kepada mahasiswa baru untuk ikut atau bergabung kedalam lembaga.

Artinya dari berbagai referensi yang didapatkan baik dari data maupun dari realitas berdasarkan pengalaman penulis sebagai mahasiswa UPI YPTK. Memperlihatkan bahwa tidak ada dobrakan baru dalam rangka edukasi intelektualitas terhadap mahasiswa kampus, semua yang dilaksanakan hanyalah program turunan dan seremonial.

Max Weber memperkenalkan sebuah konsep dalam karyanya yang berjudul “The Protestant Ethic and the spirit of capitalism”. Dalam buku ini Max Weber mengemukakan istilah agent of change, iron stock, direct of change, moral of force. Dimana konsep ini jika diakumulasikan dan dikaitkan terhadap mahasiswa itu sejalan, karna ide dari gagasan ini ialah pembawa perubahan, penanaman semangat terhadap individu maupun kelompok, dan pengembangan budaya, sosial masyarakat. Konsep ini juga sering dimainkan perannya oleh mahasiswa sehingga menjadikan konsep ini sebagai fungsi mahasiswa. Istilah-istilah ini juga kerap kita temukan didalam orasi sang orator di saat menggelar aksi demonstrasi.

Namun bagaimana BEM UPI bisa menjalankan nilai-nilai yang seharusnya dimiliki mahasiswa. Misalnya keberdampakan terhadap masyarakat banyak dengan skala lebih luas dan besar. Sedangkan didalam internal/persoalan kampus saja tidak didapati progres bahkan tidak didapati proyeksi yang akan dicapai. Tidak ubah dari pelaksanaan proyek turunan dari tahun ke tahun. Naifnya seringkali para organisatoris berkampanye tentang keapatisan mahasiswa terhadap organisasi. Namun yang seharusnya disorot bukanlah perihal keapatisan melainkan mengenai masalah keberdampakan dan orientasi yang seharusnya dicapai dibanding eksistensi euphoria semata.

Oleh karena itu keadaan ini memunculkan dua pertanyaan besar yang harus dijawab oleh BEM UPI itu sendiri. Sudah sampai mana kebermanfaatan BEM UPI terhadap mahasiswa kampus itu sendiri dan sejauh mana BEM UPI mengawal kebijakan kampus? Karena belum adanya keberdampakan yang terwujud, misalnya masih banyaknya yang putus kuliah karena tidak mampu membayar uang kuliah. Bukankah seharunya ini menjadi atensi yang harus diperjuangkan oleh BEM UPI. Sudah waktunya mahasiswa bersuara dan mempertanyakan hal ini, agar BEM UPI itu tidak lagi bertele-tele dan tidur dalam mimpi indahnya.

Sehingga beberapa masalah fundamental di ataslah yang harus dijawab oleh BEM UPI. Baik itu dijawab melalui forum terbuka maupun pelaksanaan program nyata. Bertransformasi, melakukan perbaikan dan mewujudkan perubahan demi esensi dan keutuhan nilai-nilai BEM UPI untuk memberikan keberberdampakan baik untuk masyarakat Indonesia secara umum maupun untuk menyiapkan generasi penerus di masa depan.

 

Tags: BEM UPI YPTKMahasiswa UPI YPTK PadangRayhan Zickri Al-Fajri
Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper