
Donald Trump merupakan Presiden Amerika Serikat ke-45 sejak tahun 2017 sampai tahun 2021. Trump bukanlah seorang politisi. Ia lebih dikenal sebagai ‘businessman’ dan bahkan artis. Trump bukanlah ‘artis’ pertama yang menjadi Presiden Amerika Serikat. Sebelum Trump, ada Ronald Reagan (Presiden Amerika Serikat ke-40) yang berprofesi sebagai artis dan bintang film. Lalu mengapa artis di seperti Trump dan Reagan bisa menjadi Presiden Amerika Serikat? Pada artikel ini, saya ingin menyoroti cara Trump menjadi Presiden. Alasannya adalah, akses informasi kepada Trump lebih luas. Dan cara Trump menjadi Presiden sudah berhasil digunakan oleh beberapa pemimpin di dunia dan bahkan Indonesia. Lantas, bagaimana cara Trump menjadi Presiden?
Sebelum menjadi Presiden, pada tahun 2004, Trump memulai reality show berjudul “The Apprentice” di NBC. Acara ini menggambarkan Trump sebagai seorang pebisnis yang sukses yang mencari calon entrepreneur atau pebisnis handal. Setiap minggunya, para peserta akan diuji kemampuan bisnisnya. Dan jika mereka tereliminasi, Donald Trump akan menunjuk peserta itu dengan mengucapkan “You’re Fired” (kamu dipecat). Acara ini bisa dikatakan acara yang sukses karena acara ini berjalan sampai lima belas musim.
Melalui acara “The Apprentice” inilah, Trump menerapkan sebuah teori yang saya sebut sebagai ‘Teori Proyeksi’. Cara kerjanya begini. Selama acara ini berlangsung, Trump ‘didepiksi’ atau diperlihatkan sebagai seorang pebisnis yang sukses. Bagi orang Amerika Serikat, orang yang berhasil adalah orang yang sukses berbisnis, karena itulah orang-orang banyak menonton acara “The Apprentice”. Di dalam acara ini, ciri-ciri Trump sebagai pebisnis sukses diperlihatkan pada banyak hal. Satu, Trump memiliki helikopter pribadi dan jet pribadi (dalam beberapa adegan, Trump juga diperlihatkan datang ke kantornya naik helikopter pribadi). Dua, Trump punya kantor pribadi yang berpuluh-puluh tingkat di tengah Kota New York. Tiga, beberapa bagian di kantor Trump dilapisi dengan emas (padahal cuma di cat warna emas saja).
Terlebih daripada itu, Donald Trump bukanlah seorang pebisnis yang sukses. Kekayaan yang ia miliki berasal dari warisan yang ayah, yaitu Tred Trump, yang merupakan pengembang ‘real-estate’ di New York. Donald Trump sendiri sudah sering gagal atau bangkrut. Beberapa bisnisnya yang gagal adalah “Trump Airline” (Maskapai Penerbangan Trump), “Trump’s Taj Mahal Casino Resort in Atlantic City”, “Trump University”, “Trump’s Vokda”, dan “Trump’s Steak”.
Lalu, Trump juga diperlihatkan sebagai pemimpin yang tegas. Penggambaran ini diperlihatkan ketika memberikan misi-misi tertentu kepada para peserta “The Apprentice”. Kelihatannya Trump ini memberikan tugas yang penting, padahal ia hanya membicarakan script atau naskah yang telah disiapkan. Trump mengucapkan kata “You’re Fired” kepada peserta gagal lolos ke babak selanjutnya. Padahal peserta ini hanya tereliminasi, tapi mereka malah digambarkan dipecat.
Berangkat dari popularitas yang ia miliki, Trump mendeklarasikan diri maju sebagai Calon Presiden pada Bulan Juli 2016. Acara deklarasi itu diselenggarakan di Trump Tower, agar ia pamer aset milik yang bernilai ratusan juta dolar itu kepada media. Pada acara deklarasi, Trump secara terang-terangan menyoroti masalah imigran ilegal yang masuk ke Amerika Serikat dari Meksiko. Sorotan ini dilakukan Trump agar rakyat Amerika melihat dirinya sebagai orang yang tegas dan berani untuk mengatasi masalah imigran gelap yang datang ke Amerika Serikat.
Teori proyeksi ini ternyata ‘manjur’ sekali. Trump berhasil menjadi Presiden Amerika Serikat mengalahkan Hillary Clinton. Rahasianya adalah, dari acara “The Apprentice” itu sendiri. Trump berhasil membuat para penonton acara itu untuk membayangkan bagaimana ia akan menjadi Presiden. Trump akan menjadi Presiden yang berhasil mengelola negara, seperti ia mengelola bisnisnya. Dan ia akan menjadi Presiden yang tegas, seperti ia ‘memecat’ para kontestan dari acara “The Apprentice”.
Presiden Ukraina sekarang, Volodymyr Zelenskyy, juga menggunakan teori proyeksi ini. Sebelum menjadi Presiden, Zelenskyy lebih dikenal sebagai komedian. Lalu, ia membintangi sebuah drama series yang berjudul “The Servant of The People”. Awalnya, Zelenskyy berperan sebagai seorang guru sejarah di sebuah sekolah. Lalu guru ini mengkritik korupsi yang ada di pemerintahan Ukraina. Kritikannya ini direkam oleh seorang muridnya dan menjadi video yang berviral. Akhirnya, guru ini mendapat dukungan dari masyarakat untuk menjadi Presiden Ukraina.
Lewat drama series ini, Zelenskyy diperlihatkan sebagai Presiden yang serius menghadapi masalah korupsi. Penggambaran ini ‘tertanam’ di pikiran masyarakat Ukraina. Akhirnya, apa yang telah diproyeksikan oleh Zelenskyy menjadi kenyataan. Zelenskyy maju pada pemilihan Presiden Ukraina pada tahun 2019 dan ia berhasil menang menjadi Presiden sampai sekarang.
Teori proyeksi ini sangat efektif untuk meraih dukungan masyarakat. Trump dan Zelenskyy yang bukan politisi, hanya perlu berakting sebagai pemimpin di dalam acara mereka sendiri. Akhirnya, mereka berdua mampu mendapatkan jabatan yang sangat diinginkan oleh lawan politik mereka, tanpa harus mendirikan partai politik atau berkiprah sebagai politisi selama bertahun-tahun.
Di Indonesia, sebenarnya teori proyeksi ini sudah dilakukan oleh beberapa artis. Namun mereka tidak pernah sampai untuk menjadi Presiden atau Menteri. Mereka hanya bisa menjadi Wakil Gubernur atau Anggota DPR. Contohnya saja Dedi Mizwar yang secara tidak langsung sudah menggunakan teori ini sehingga beliau berhasil menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat pada tahun 2013 – 2018.
Di dalam sinetron Kiamat Sudah Dekat atau Para Pencari Tuhan, Deddy Mizwar memerankan Haji Romli dan Bang Jack, kedua karakter ini diperlihatkan sebagai orang yang bijaksana, tinggi ilmu, dan penuh wibawa. Karena itulah popularitasnya naik, dan ia berhasil membuat gambaran bagi para penonton acaranya, jika ia menjadi pemimpin, maka ia akan menjadi seorang yang bijaksana seperti karakternya di dua sinetron di atas.
Oleh karena itu, bagi para pembaca yang ingin menjadi Presiden, atau memiliki jabatan tertentu di tingkat pemerintahan, teori proyeksi ini bisa dilakukan. Memang, teori ini butuh waktu yang lama untuk diterapkan. Namun, saat anda menerapkan teori ini, anda akan menjadi artis di dalam sinetron dan film. Anda bisa mengumpulkan pundi-pundi uang yang akan anda gunakan nanti saat berkampanye.
Jika anda berniat untuk menerapkan teori proyeksi ini, saya sarankan agar anda belajar akting terlebih dahulu. Karena akting itu juga berguna bagi pejabat-pejabat kita, terutama sekali ketika mereka akting berbohong untuk melakukan korupsi.

