
Di dunia ini, ada beberapa negara yang mendapat julukan sebagai negara adidaya, atau negara superpower. Contohnya adalah Amerika Serikat dan China. Kedua negara ini memiliki keunggulan pada bidang ekonomi dan bidang militer.
Namun, kedua negara ‘superpower’ ini tidak bisa menguasai dunia secara keseluruhan, terutama sekali tentang geopolitik. Contohnya saja, Amerika Serikat dan sekutunya tergabung dalam aliansi NATO (North Atlantic Treaty Organization). Bahkan Amerika bersama Inggris, dan Australia juga menciptakan pakta kerjasama antara tiga negara, kerjasama itu disebut AUKUS. Hal ini semata-mata dilakukan Amerika Serikat untuk menarik Australia ke dalam lingkar sekutu terdekatnya. Sedangkan China dan sekutunya mendirikan aliansi BRICS (Brazi, Russia, India, China, and South Africa).
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Mengapa Indonesia tidak tergabung ke dalam NATO atau ke dalam BRICS? Atau bahkan bergabung ke dalam AUKUS? Ini alasan mengapa Indonesia bisa menjadi pemain penting dalam geopolitik dunia. Karena Indonesia selalu konsisten dalam status ‘netral’ dan tidak memihak kepada pihak manapun. Posisi netral ini secara tidak langsung memperlihatkan, jika Indonesia bisa berdiri sendiri tanpa harus ikut ke dalam salah satu aliansi geopolitik yang ada di dunia.
Sejak dahulu, posisi Indonesia selalu berada di posisi netral. Hal ini bisa dilihat pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955. Konferensi ini merupakan proses awal daripada Gerakan Non-Blok (GNB) Indonesia. Posisi netral Indonesia masih berlangsung sampai sekarang.
Terbaru, kita bisa melihat bagaimana posisi Indonesia memilih untuk tetap netral dalam perang di Ukraina. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah, Indonesia menyatakan jika invasi yang dilakukan oleh Rusia kepada Ukraina adalah “hal yang tidak dapat diterima”. Di saat yang bersamaan, Indonesia tetap mengkritik pemberian hukuman ‘sanction’ dari negara-negara barat terhadap Rusia.
Posisi netral dari Indonesia ini bisa dilihat dari usaha Presiden Jokowi untuk menjadi ‘juru damai’ konflik Rusia dan Ukraina ini. Pada bulan Juni tahun 2022 yang lalu, Presiden Jokowi berkunjung ke Ukraina untuk bertemu Presiden Zelensky. Setelah itu, beliau langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Putin. Hal ini menunjukkan jika Indonesia tidak memihak kepada Rusia ataupun kepada Ukraina. Namun, Indonesia menginginkan perdamaian untuk kedua negara ini.
Indonesia tidak hanya sekali ini saja memainkan peran ‘juru damai’ di antara dua negara yang sedang berkonflik. Pada akhir tahun 2020 dulu, Pak Jusuf Kalla terbang ke Kota Kabul, Afganistan. Ia lalu bertemu dengan Mohammad Qasim Halimi Menteri Agama Afghanistan pada saat itu. Halimi meminta meminta agar Indonesia menjadi ‘juru damai’ antara pemerintah Afghanistan saat itu dan Taliban. Meskipun pada akhirnya hal ini tidak terwujud, namun yang bisa dipelajari dari keadaan ini adalah, sudah ada negara yang memandang jika Indonesia memiliki kedudukan yang dihormati di Geo-politik Benua Asia.
Posisi Indonesia sebagai negara yang netral membuat Indonesia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah ajang G20 yang berlangsung pada bulan November tahun 2022 kemarin.
Meskipun pada waktu itu Rusia dan Ukraina masih berlangsung, Indonesia tetap memegang teguh posisi netralnya. Hal ini bisa dilihat bahwa Indonesia tetap mengundang Rusia untuk menghadiri acara G20 ini, walaupun undangan kepada Rusia ini mendapat banyak protes dari negara-negara lain. Ini menunjukkan jika Indonesia tidak gentar dengan protes-protes dari negara lain agar Indonesia menjaga status netralnya. Indonesia bahkan menekankan, mengundang Rusia ke ajang G20 ini akan membuka ruang dialog untuk negara barat dan Rusia, sehingga perdamaian bisa dicapai untuk konflik Rusia dan Ukraina.
Baru-baru ini, Presiden Jokowi menghadiri KTT Perayaan 50 Tahun Hubungan Persahabatan dan Kerjasama Asean-Jepang. Di saat yang bersamaan, Indonesia juga dipercaya untuk memimpin agenda ke-empat, yaitu agenda yang bertemakan “Partners for Co-Creation of Economic and Society of The Future”. Pencapaian Indonesia pada G20 dan KTT Asean-Jepang membuktikan jika negara-negara dunia menaruh rasa hormat yang tinggi kepada Indonesia sebagai pemain penting dalam forum-forum resmi di dunia.
Selain itu pula, Indonesia menjadi ‘rebutan’ antara Amerika Serikat dan China. Posisi Indonesia yang terletak di Laut Cina Selatan menjadi posisi yang strategis. Letak geografi ini akan menjadikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam kontestasi antara dua negara ‘superpower’. Apabila Amerika Serikat atau China mampu ‘menarik’ Indonesia menjadi sekutu mereka, maka posisi negara ‘superpower’ ini akan semakin kokoh dan kuat, karena mereka memiliki ‘sekutu’ yang ada di daerah Indo-Pasifik yang sangat strategis ini. Namun kita semua tahu, Indonesia akan selalu berada di posisi netral dan tidak memihak kepada pihak atau kepada negara manapun.
Dengan posisi yang ada sekarang, Indonesia hanya perlu ‘memainkan kartunya’ dengan benar dan penuh hati-hati. Dengan begitu, Indonesia akan bisa mendapatkan keuntungan ganda dari China dan Amerika Serikat. Bahkan, Indonesia bisa menjadi poros-sentral di Indo-Pasifik. Akhirnya Indonesia akan mampu menjadi pemain penting dengan pengaruh yang kuat dalam papan-catur geo-politik dunia untuk tahun-tahun yang akan mendatang.

