TANJUNG- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabalong bersama masyarakat, menyampaikan aparesiasi, syukur, serta ucapan terima kasih pada Pemerintah Republik Indonesia.

Karena pasalnya, Kementrian Kebudayaan telah menobatkan tradisi asli di daerah ini yakni Makan Batalam Bakipas Pangeran dan Bagunung Perak sebagai Waris Budaya Tak Benda (WBTB), Jum’at, (11/9) lalu.

Sebelumnya pada tahun 2025 tradisi lokal asal bumi Sarabakawa dikenal dengan sebutan Manyampir Buaya telah mendapatkan penetapan sebagai budaya nasional.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tabalong, Gusti Judid Ihsan Permana menyampaikan apresiasi mendalam atas pencapaian bersejarah bagi kelestarian budaya daerah tersebut.

“Pencapaian ini adalah milik kita bersama, Terima kasih kepada pemerintah pusat, Kementerian Kebudayaan yang membuat kami dan masyarakat Tabalong khususnya menjadi berbangga hati, bersyukur atas penetapan ini,” katanya, Selasa (15/9).

Judid mengungkapkan, bahwa masyarakat tanpa lelah terus menjaga, merawat, dan menghidupkan kearifan lokal.

Pengakuan pada tingkat nasional, semakin memberikan semangat dalam menjaga kebudayaan daerah agar tetap lestari di masa depan.

“Pemkab Tabalong pada tahun 2027, disebutkan akan mengusulkan WBTB seperti Paliat, Tawas Ja’a dan Mongket Manau untuk diakui sebagai warisan budaya nasional,” ujarnya.

Camat Banua Lawas, Arianto mengatakan Makan Batalam adalah tradisi religius makan bersama dalam satu nampan besar yang rutin diadakan.

Khususnya di Kecamatan Banua Lawas, untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Nama tradisi ini berasal dari kata talam, yaitu nampan atau piring besar tempat menyajikan makanan,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, kegiatan seperti ini sudah ada sejak lebih dari satu abad lalu dan diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang.

Adapun cara pelaksanaan hidangan dalam satu talam biasanya berisi nasi, lauk seperti seekor ayam atau itik, ikan panggang, lengkap dengan sayur dan kuah yang kemudian dinikmati secara bersama-sama oleh empat hingga enam orang.

“Maknanya adalah persatuan, silaturahmi dan rasa syukur. Sehingga dapat dikatakan menjadi simbol pemersatu warga dari berbagai desa di Tabalong,” tegasnya.

Camat juga menjelaskan makna tradisi Bakipas Pangeran yang menurutnya jangan langsung dimaknai sebagai tradisi feodal.

“Istilah dan praktiknya lebih menarik dari itu. Secara sederhana, bakipas berarti mengipasi, sedangkan pangeran merujuk kepada tokoh bangsawan/kerajaan,” jelasnya.

Tradisi Batalam berkaitan dengan penghormatan dan pelayanan kepada tamu yang dianggap penting, khususnya dalam ingatan masyarakat terhadap lingkungan Kerajaan Banjar.

“Jadi konsepnya adalah tamu penting yang datang, disambut, dihormati kemudian dilayani dan diberikan jamuan makan,” ungkapnya.

Sementara kipas pada masa lalu merupakan bagian dari tata krama pelayanan kepada orang yang dihormati.

Tradisi Batalam kemudian tidak hanya menjadi acara makan, tetapi menjadi ruang sosial untuk perjamuan, perkumpulan dan menghormati tamu.

Dalam perkembangannya, tradisi ini berbaur dengan kehidupan masyarakat dan nilai-nilai Islam.

Ia pun menambahkan, Batalam dipahami sebagai tradisi kerajaan yang bertemu budaya Banjar dan nilai Islam yang kemudian akhirnya menjadi tradisi masyarakat.

Kemudian, ketika tradisi itu berkembang ke dalam kegiatan Maulid Nabi, orientasinya juga berubah.

“Mereka yang dihormati bukan lagi semata-mata status bangsawan, tetapi para ulama, guru agama, tokoh masyarakat, tamu, dan seluruh warga dalam suasana kebersamaan,” tegasnya.

Camat pun mengajak kita semua agar berhati-hati mengatakan bahwa tradisi Batalam sekarang sama dengan feodalisme.

“Sebab orang duduk bersama, makan menggunakan satu talam, berbagi hidangan dan membangun silaturahmi,” tuturnya.

Sementara Bakipas Pangeran, menurut Arianto, adalah bagian dari ingatan sejarah tentang bagaimana masyarakat Banjar menghormati dan menjamu seorang tamu yg dimuliakan.

“Tetapi yang diwariskan hari ini bukan sistem kebangsawanannya, melainkan budaya menghormati tamu, berbagi dan menjalin kebersamaan,” pungkasnya.yan/rds