1.487 Hotspot Terdeteksi di Wilayah Kalimantan
BANJARBARU – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan semakin parah hingga Kamis (20/8). Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru pun mengeluarkan surat edaran resmi terkait jam masuk sekolah.
Mulai Kamis, 20 Agustus 2026, pelajar di Banjarbaru masuk sekolah pukul 09.00 Wita. Sementara bagi wilayah dengan kabut asap parah diminta untuk menyesuaikan secara situasional.
“Satuan pendidikan bisa memulai pelaksanaan pembelajaran pada pukul 09.00 Wita bagi sekolah terdampak,” ujar Kepala Disdik Banjarbaru, Abdul Basid, Kamis (20/8), seperti dikutip CNNIndonesia.com.
Ia menjelaskan bahwa SE dengan nomor 400.35./1738/P.SMP/Disdik tanggal 19 Agustus itu berlaku sejak Kamis (20/8) hingga kabut asap mereda. Hal ini diambil sebagai langkah untuk memastikan peserta didik bisa menempuh pendidikan dengan situasi yang lebih baik.
Adapun instruksi ini berlaku untuk sekolah di bawah naungan Disdik Banjarbaru, yakni PAUD-TK, SD, dan SMP. Basid menegaskan, para tenaga pengajar bisa tetap ke sekolah sesuai dengan jam yang telah diberlakukan, yakni datang lebih awal sebelum jam masuk sekolah.
“Bagi tenaga pendidik dan pendidik untuk bisa melaksanakan tugas sesuai dengan jam kerja yang telah ditetapkan,” katanya.
Basid meminta kepada setiap kepala sekolah untuk tetap memonitor kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sembari menanggulangi kabut asap di area sekolah, agar proses belajar mengajar bisa lancar.
Banjarbaru menjadi salah satu wilayah yang mengalami kabut asap parah. Asap tebal menyelimuti kota Banjarbaru sejak pagi hari dan mengganggu jarak pandang pengendara.
Selain itu, asap tebal yang menyelimuti Banjarbaru juga mengganggu sistem pernafasan masyarakat. Sehingga, masyarakat maupun pelajar telah dihimbau untuk menggunakan masker saat keluar rumah.
Salah satu orang tua siswa, Firman menyebut anaknya sudah mulai menggunakan masker saat ke sekolah sejak minggu lalu, bahkan anak-anaknya juga tidak ia bolehkan untuk beraktivitas lama di luar rumah.
“Sudah wajib masker dari minggu kemarin, pokoknya apabila tidak ada kepentingan kami tidak mengizinkan anak-anak keluar rumah,” ucapnya.
Ia berharap, kabut asap yang menyelimuti Banjarbaru bisa segera mereda dan kasus Karhutla pun bisa segera berakhir. Sebab, dalam beberapa waktu terakhir anaknya sempat mengalami batuk dan sesak nafas akibat karhutla.
“Semoga bisa segera berakhir, kasihan anak-anak terdampak. Batuk, bahkan sesak nafas karena ini lumayan parah kabutnya dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.
Sementara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ada total 1.487 titik panas atau hotspot dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terdeteksi di wilayah Kalimatan.
Daftar titik karhutla Kalimantan itu berdasarkan data pemantauan terbaru dari Satelit NOAA-20.
“Berdasarkan data pemantauan terbaru dari Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8), sebaran hotspot di wilayah Kalimantan sebanyak 1.487 hotspot,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Kamis (20/8), seperti dikutip CNNIndonesia.com.
Berdasarkan data, daftar titik karhutla Kalimantan paling banyak ada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik. Kemudian, disusul Kalimantan Barat 560 titik, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik serta Kalimantan Utara sebanyak 3 titik.
Berton mengatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan lintas sektor untuk mengantisipasi potensi meluasnya karhutla.
“BNPB bersama pemerintah daerah melakukan pemantauan perkembangan titik panas, pemetaan wilayah rawan, serta koordinasi untuk menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi di lapangan,” ujarnya.
BNPB turut mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau, khususnya karhutla.
Disampaikan Berton, pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan, pemantauan, serta deteksi dini terhadap potensi karhutla dan memastikan ketersediaan sarana prasarana pemadaman.
“Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran di wilayah yang rawan terbakar. Apabila masyarakat mengetahui atau melihat kejadian kebakaran, segera lapor kepada otoritas daerah setempat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif,” tutur dia. web
