BANJARBARU-Anggota DPR RI,Drs. H. Bambang Heri Purnama, S.T., S.H., M.H sambut kedatangan jemaah umrah yang terlantar di Jeddah dengan selamat.

Sebanyak 36 jemaah umrah datang di Bandara Internasional Syamsudin Noor disambut dengan gembira oleh Kepala Bidang Bina dan Pengendalian Haji dan Umrah,H.Rasyid Luthfiana,Danlanud,Danlanal dan lainnya.

Ditemui, Anggota DPR RI,Drs. H. Bambang Heri Purnama, menyampaikan kepada seluruh biro perjalanan umrah dan para petugas agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Selain itu, masyarakat yang akan berangkat umrah diminta lebih selektif dalam memilih travel yang memiliki reputasi baik agar tidak mengalami kendala saat kepulangan maupun selama berada di Tanah Suci.

“Jangan hanya bisa berangkat, tetapi saat pulang justru terlantar di sana. Kondisinya sangat memprihatinkan, apalagi suhu udara mencapai 43 hingga 44 derajat Celsius. Persediaan uang mereka hampir habis, bahkan makanan yang tersedia hanya roti dan bihun instan,” ujar Bambang di Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru,Jumat (7/8) pagi.

Ia bersyukur seluruh jemaah akhirnya dapat kembali ke Indonesia dalam keadaan selamat dan sehat.

Terkait langkah lanjutan, ia menyatakan akan membawa persoalan tersebut dalam rapat bersama Kementerian Luar Negeri.

“Apabila ada warga negara Indonesia yang mengalami persoalan serupa di luar negeri, perwakilan Indonesia seperti Kedutaan Besar maupun Konsulat Jenderal Republik Indonesia harus dapat memberikan respons dan pendampingan dengan cepat,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar kasus ini dilaporkan secara resmi,sehingga dapat menjadi bahan evaluasi dan tidak kembali menimpa jemaah umrah lainnya.

Kepala Bidang Bina dan Pengendalian Haji dan Umrah,H.Rasyid Luthfiana,mengatakan terkait jemaah umrah yang kemarin terlantar “kami sudah melakukan pemanggilan kepada pihak travel pada tanggal 30 dan 31. Namun, pada hari Kamis dan Jumat mereka tidak datang ke kantor kami untuk memberikan klarifikasi,” katanya.

Sesuai dengan yang disampaikan Pak Bambang, Anggota DPR RI, mengimbau kepada masyarakat Banua yang ingin melaksanakan ibadah umrah agar memperhatikan beberapa hal.

Pertama, pastikan travel yang digunakan memiliki izin resmi. Jika masih ragu, masyarakat dapat menanyakan langsung ke Kantor Wilayah atau Kantor Kementerian Haji di kabupaten/kota.

Kedua, pastikan tiket yang diberikan merupakan tiket pulang-pergi agar kejadian seperti ini tidak terulang.

Selain itu, pastikan juga akomodasi hotel di Tanah Suci serta rincian paket perjalanan yang ditawarkan.

Ketiga, harga paket harus rasional dan tidak berada di bawah standar. Berdasarkan kesepakatan asosiasi, kisaran harga sekitar Rp35 juta masih tergolong wajar.Terakhir, pastikan visa yang digunakan adalah visa umrah.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Banua, khususnya di Provinsi Kalimantan Selatan, agar memperhatikan hal-hal tersebut sebelum berangkat umrah, sehingga tidak terjadi lagi kasus jemaah terlantar di Makkah maupun Madinah,” tegasnya.

Terkait proses hukum, ia juga sudah berkoordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalimantan Selatan, khususnya Subdit II.

” Saat ini mereka masih menunggu adanya laporan resmi. Apabila laporan telah diterima, proses hukum akan segera ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

Jemaah Umrah,Hikmah Umaidi,Alhamdulillah, sudah kembali ke Banjarmasin. Kemarin terlantar di Jeddah selama empat hari karena tidak diberikan tiket kepulangan.

“Tidak lama kemudian, Pak Bambang menghubungi kami melalui putranya. Setelah itu kami dievakuasi oleh KJRI ke Wisma Haji. Terima kasih kepada Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah menampung kami di Wisma Indonesia dan memberikan makan kepada seluruh jemaah,” jelasnya.

Sesampainya di Wisma Indonesia, ia disambut oleh Pak Bambang.

“Saya menceritakan kronologi kejadian kepada beliau. Alhamdulillah, beliau langsung bersedia membiayai tiket kepulangan kami dan juga memberikan uang saku sebesar Rp1 juta untuk setiap jemaah.”tambahnya.

Awalnya pihak owner mengatakan tiket sudah ada dan hanya perlu tanda tangan. Namun belakangan diketahui tiket tersebut ternyata palsu.

“Saat menginap di hotel pun kami akhirnya diusir karena pihak hotel menyatakan pembayarannya belum dilakukan. Karena itu kami terpaksa memviralkan kejadian ini,” tandasnya.

Kecurigaan sejak awal perjalanan sejak di Madinah sebenarnya sudah mulai curiga karena pembayaran hotel dilakukan sedikit-sedikit, seperti dibayar per hari.

“Jelas kami akan melapor dan datang ke kantor untuk membicarakan langkah yang akan dilakukan. Upaya hukum juga memungkinkan, nanti akan kami bahas bersama,” tegasnya.

Total ada 36 jemaah. Dua orang sudah pulang lebih dulu karena membiayai sendiri kepulangannya. Mereka sampai harus berutang karena ada keluarganya yang bekerja di bidang tiket dan membantu membelikan tiket.

“Alhamdulillah, kami sangat senang sekali karena banyak pihak yang membantu, terutama Pak Bambang yang membiayai kepulangan kami. Kami benar-benar tidak menyangka, rasanya seperti sebuah keajaiban,” ujarnya.

Biaya umrah yang di bayarkan bervariasi. Ada yang membayar Rp32 juta, ada juga yang Rp33 juta.rds