
BANJARBARU – Berdasarkan data Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan selama triwulan I (Januari hingga Maret) 2026, telah terjadi 67 kali bencana alam di Kalsel yang di dominasi bencana angin puting beliung.
Kabid Penanganan Bencana pada Dinsos Kalsel H Achmadi SSos mengatakan, bencana angin puting beliung terjadi sebanyak 55 kali, dan terbanyak di Kabupaten Banjar 19 kali, di susul tujuh kali di Kabupaten Barito Kuala (Batola).
“Kemudian, masing-masing tercatat enam kali di Kota Banjarbaru, Kabupaten Tapin dan Hulu Sungai Selatan (HSS), empat kali di Kota Banjarmasin, tiga di Kotabaru, dua di Tanah Bumbu (Tanbu), dan masing-masing satu kali di Hulu Sungai Tengah (HST) dan Tanah Laut (Tala),” ujarnya, Rabu (8/4).
Selain angin puting beliung, lanjut dia, bencana banjir juga terjadi sebanyak 11 kali di Kalsel, masing-masing satu kali di Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, HSS, HST, HSU, Balangan, Tabalong, Batola dan Kabupaten Tanah Laut (Tala), dan dua kali di Tapin, serta satu kali tanah longsor di Kabupaten Tapin.
“Bencana alam itu menyebabkan 75.953 kepala keluarga (KK) atau 230.101 jiwa terdampak, terbanyak di Kabupaten Banjar 37.964 KK atau 107.538 jiwa, di susul HSU tercatat 14.326 KK atau 41.694 jiwa, dan Batola 8.752 KK atau 25.491 jiwa,” katanya.
Ia menambahkan, 64 rumah penduduk juga mengalami kerusakan berat, 137 rumah rusak ringan, dan 41.860 rumah mengalami kerusakan ringan, terbanyak di Kabupaten HSU tercatat 13.086 buah.
Ketika ditanya asumsi kerugian akibat bencana alam selama triwulan I itu, ia menyebutkan asumsi sementara ditaksir mencapai Rp 210,415 miliar.
“Kerugian itu terbesar di alami Kabupaten HSU sekitar Rp 65,430 miliar, di susul Kabupaten Banjar sekitar Rp 44,870 miliar, Batola Rp 35,735 miliar, HSS Rp 17,355 miliar, Tapin Rp 18,150 miliar, Balangan Rp 9,590 miliar, Tabalong Rp 7 miliar, Tala Rp 6,240 miliar, HST sekitar Rp 5,3 miliar, dan Kota Banjarbaru Rp 390 juta,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, Achmadi mengingatkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung meningkatkan kewaspadaan guna mengurangi resiko akibat bencana itu. ani

