Mata Banua Online
Senin, April 6, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Perajin Tahu-Tempe Makin Tergencet

by Mata Banua
5 April 2026
in Ekonomi & Bisnis
0
KACANG KEDELAI NAIK – Harga kedelai terus melonjak menimbulkan kekhawatiran kalangan pengrajin tahu dan tempe, karena berdampak pada penjualan produksi mereka.(foto:mb/ant)

JAKARTA – Harga kedelai ya­ng terus melonjak dalam sebulan te­rakhir mulai menimbulkan kek­hawatiran di kalangan pengrajin ta­hu dan tempe. Kenaikan ini di­picu dinamika geopolitik global dan berpotensi menekan biaya pro­duksi pelaku usaha kecil.

Wakil Ketua Umum Ga­bu­ng­an Koperasi Produsen Tempe Ta­hu Indonesia (Gakoptindo), Hedy Kuswanto, me­ng­u­n­g­kap­kan bahwa harga kedelai dalam sa­tu bulan terakhir terus m­e­ng­a­la­mi kenaikan seiring dinamika geo­politik global.

Berita Lainnya

Harga Plastik Naik, PKL Menjerit

Harga Plastik Naik, PKL Menjerit

5 April 2026
Bulog Klaim Stok Beras Capai 4,4 Juta Ton

Bulog Klaim Stok Beras Capai 4,4 Juta Ton

5 April 2026

Ia menjelaskan, sebelumnya har­ga kedelai di tingkat pengrajin ta­hu dan tempe berada di kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.200 per ki­logram. Namun kini, harga ter­se­but telah melonjak menjadi Rp 10.800 hingga Rp 11.000 per ki­lo­gram.

“Memang kecenderungan tren harga kedelai terus naik, te­ru­tama dalam satu bulan terakhir aki­bat faktor geopolitik global,” ka­ta Hedy

Meski demikian, dampak ke­na­ikan harga belum sepenuhnya di­rasakan para pelaku usaha. Hal ini karena sebagian besar anggota ko­perasi belum kembali ber­pro­duk­si pasca libur Hari Raya Idulfitri. “Sebagian besar anggota ka­mi masih berada di kampung ha­laman, sehingga belum se­pe­nuh­nya kembali beraktivitas pro­duksi,” ujarnya.

Hedy memperkirakan ke­luh­an dari pelaku usaha kecil akan s­emakin meningkat setelah se­lu­ruh pengrajin kembali ber­pro­duk­si. Menurutnya, tekanan biaya ba­han baku berpotensi memicu pro­tes yang lebih luas.

“Saya yakin ketika semua pel­aku usaha kecil kembali pro­duksi, keluhan mereka akan se­ma­kin terdengar. Mereka akan men­yuarakan aspirasi kepada ka­mi sebagai pengurus untuk di­te­rus­kan kepada pemerintah,” te­gasnya.

Ia juga menyoroti im­ple­men­tasi kebijakan pemerintah terkait program Peraturan Pre­si­den (Perpres) tentang Pajale (pa­di, jagung, dan kedelai) yang di­ni­lai belum berjalan optimal sejak era pemerintahan sebelumnya hi­ng­ga saat ini. “Pemerintah se­be­narnya memiliki Perpres Paale, te­tapi implementasinya dari masa ke masa belum maksimal, entah apa kendalanya,” kata Hedy. lp6/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper