Mata Banua Online
Senin, April 6, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Harga Plastik Naik, PKL Menjerit

by Mata Banua
5 April 2026
in Ekonomi & Bisnis
0
HARGA PLASTIK NAIK – Harga berbagai jenis plastik dan kemasan mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan bahan baku seperti nafta dan resin akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada pasokan. Kenaikan harga terjadi hampir pada semua jenis produk yang dijual dipasaran, mulai dari plastk packing, kantong kresek, wadah makanan dan minuman, botol, hingga alat makan sekali pakai.(foto:mb/ant)

JAKARTA – Harga plastik semakin melejit. Kondisi itu pun membuat pedagang kaki lima (PKL) yang menggunakan plastik sebagai salah satu komponen dagangannya menjerit.

Hal tersebut seperti yang dia­la­mi pedagang es di Pasar Pagi Ko­ta Cirebon. Naiknya harga plas­tik membuat keuntungan me­re­ka menjadi terkikis. Pasalnya, ke­na­ikan harga plastik tidak dii­r­ingi dengan naiknya harga jual da­ga­ngan mereka. “Pembeli pada pro­tes,tidak mau harga (mi­num­an) es naik,” ujar pedagang es.

Berita Lainnya

Perajin Tahu-Tempe Makin Tergencet

Perajin Tahu-Tempe Makin Tergencet

5 April 2026
Bulog Klaim Stok Beras Capai 4,4 Juta Ton

Bulog Klaim Stok Beras Capai 4,4 Juta Ton

5 April 2026

Ia mengatakan, sejak harga gelas plastik atau cup mengalami ke­naikan, ia sempat menaikkan har­ga jual minuman esnya men­ja­di Rp 6.000 per cup, atau naik Rp 1.000. Namun, karena di­pro­tes pembeli, ia terpaksa kembali pa­da harga lama, yakni Rp 5.000 per cup. “Ya mau bagaimana lagi. Apalagi dagangan juga se­pi,” tuturnya.

Dia menungkapkan, harga ju­al dagangan yang tidak ikut naik ak­hirnya membuat ke­un­tu­ng­an­nya terkikis. Pasalnya, modal ya­ng harus dikeluarkannya semakin besar.

Pantauan di lapangan me­nun­juk­kan kenaikan harga terjadi pa­da hampir seluruh jenis kemasan, mu­lai dari kantong kresek, mika ma­kanan, hingga cup minuman. Lon­jakan ini disebut-sebut se­ba­gai yang terparah sepanjang se­jarah.

Seorang pemilik Toko Plas­tik Laksno di Pasar Pucang Anom mengungkapkan tren ke­na­ikan ini mulai menggila sejak mo­men Idulfitri pada Maret 2026 la­lu. Ia mengaku hanya bisa pas­rah menghadapi ketetapan harga dari produsen.

“Kami tidak bisa polah-polah. Dari harga Rp9.000 itu tiba-tiba naik menjadi Rp15 ribu, se­mua jenis plastik naiknya ham­pir 40 persen,” kata Mimin.

Kenaikan harga yang men­ce­kik ini bukan tanpa sebab. Ber­dasarkan informasi dari pihak pab­rik, Mimin menyebut pasokan energi minyak bumi terganggu aki­bat perang yang tak kunjung re­da di Timur Tengah. M­e­ng­ing­at biji plastik merupakan tu­run­an minyak bumi dan gas alam, maka harga jual pun ikut ter­seret naik. “Iya [karena] pe­rang. Ktanya kan biji plastik ini di­buatnya dari minyak bumi,” tu­tur­nya.

Kondisi ini kian pelik karena pe­dagang harus menomboki. Ban­yak pelanggan yang sudah le­bih dulu memborong stok de­ng­an harga lama sebelum lon­jak­an terjadi. “Prtengahan puasa itu se­mua pelanggan datang beli plas­tik dengan jumlah banyak. Dan kami tidak tahu, kalau ter­nya­ta harga plastik akan ber­tam­bah mahal,” ujarnya.

Selain sebagai pedagang, Mimin juga menyuarakan kek­ha­watirannya sebagai ibu rumah tangga. Ia memprediksi kenaikan har­ga kemasan ini akan memicu efek domino pada harga pangan di pasar, mengingat plastik ada­lah komponen pengemasan utama.

“Kalau harga plastik naik, har­ga lain-lainnya juga naik, har­ga tempe naik harga tahu naik me­ngikuti. Terus rakyat ba­gai­ma­na kayak gini. Hidup rakyat ma­lah ketekan terus ini,” ke­luh­nya.

Sementara itu, Menteri Pe­r­da­gangan (Mendag) Budi Santoso memastikan pemerintah ten­gah mencari sumber alternatif un­tuk bahan baku plastik guna m­e­ngantisipasi gangguan impor da­ri negara-negara di Timur Tengah.

Mendag Budi Santoso men­yam­paikan kondisi di Timur Te­ngah mengakibatkan dampak ter­hadap aktivitas impor nafta yang di­gunakan untuk memproduksi pla­stik. cnn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper