
JAKARTA – Harga plastik semakin melejit. Kondisi itu pun membuat pedagang kaki lima (PKL) yang menggunakan plastik sebagai salah satu komponen dagangannya menjerit.
Hal tersebut seperti yang dialami pedagang es di Pasar Pagi Kota Cirebon. Naiknya harga plastik membuat keuntungan mereka menjadi terkikis. Pasalnya, kenaikan harga plastik tidak diiringi dengan naiknya harga jual dagangan mereka. “Pembeli pada protes,tidak mau harga (minuman) es naik,” ujar pedagang es.
Ia mengatakan, sejak harga gelas plastik atau cup mengalami kenaikan, ia sempat menaikkan harga jual minuman esnya menjadi Rp 6.000 per cup, atau naik Rp 1.000. Namun, karena diprotes pembeli, ia terpaksa kembali pada harga lama, yakni Rp 5.000 per cup. “Ya mau bagaimana lagi. Apalagi dagangan juga sepi,” tuturnya.
Dia menungkapkan, harga jual dagangan yang tidak ikut naik akhirnya membuat keuntungannya terkikis. Pasalnya, modal yang harus dikeluarkannya semakin besar.
Pantauan di lapangan menunjukkan kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh jenis kemasan, mulai dari kantong kresek, mika makanan, hingga cup minuman. Lonjakan ini disebut-sebut sebagai yang terparah sepanjang sejarah.
Seorang pemilik Toko Plastik Laksno di Pasar Pucang Anom mengungkapkan tren kenaikan ini mulai menggila sejak momen Idulfitri pada Maret 2026 lalu. Ia mengaku hanya bisa pasrah menghadapi ketetapan harga dari produsen.
“Kami tidak bisa polah-polah. Dari harga Rp9.000 itu tiba-tiba naik menjadi Rp15 ribu, semua jenis plastik naiknya hampir 40 persen,” kata Mimin.
Kenaikan harga yang mencekik ini bukan tanpa sebab. Berdasarkan informasi dari pihak pabrik, Mimin menyebut pasokan energi minyak bumi terganggu akibat perang yang tak kunjung reda di Timur Tengah. Mengingat biji plastik merupakan turunan minyak bumi dan gas alam, maka harga jual pun ikut terseret naik. “Iya [karena] perang. Ktanya kan biji plastik ini dibuatnya dari minyak bumi,” tuturnya.
Kondisi ini kian pelik karena pedagang harus menomboki. Banyak pelanggan yang sudah lebih dulu memborong stok dengan harga lama sebelum lonjakan terjadi. “Prtengahan puasa itu semua pelanggan datang beli plastik dengan jumlah banyak. Dan kami tidak tahu, kalau ternyata harga plastik akan bertambah mahal,” ujarnya.
Selain sebagai pedagang, Mimin juga menyuarakan kekhawatirannya sebagai ibu rumah tangga. Ia memprediksi kenaikan harga kemasan ini akan memicu efek domino pada harga pangan di pasar, mengingat plastik adalah komponen pengemasan utama.
“Kalau harga plastik naik, harga lain-lainnya juga naik, harga tempe naik harga tahu naik mengikuti. Terus rakyat bagaimana kayak gini. Hidup rakyat malah ketekan terus ini,” keluhnya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan pemerintah tengah mencari sumber alternatif untuk bahan baku plastik guna mengantisipasi gangguan impor dari negara-negara di Timur Tengah.
Mendag Budi Santoso menyampaikan kondisi di Timur Tengah mengakibatkan dampak terhadap aktivitas impor nafta yang digunakan untuk memproduksi plastik. cnn/mb06

