
SURABAYA – Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Ahmad Rizal Ramdhani mengeklaim stok beras 4,4 juta ton yang terdapat dalam gudang penyimpanan milik Bulog adalah capaian tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mewanti-wanti potensi penurunan produksi beras nasional sepanjang Januari hingga Mei 2026, meskipun kinerja pada awal tahun memang sempat menunjukkan peningkatan kuantitas.
Ahmad juga mengungkapkan bahwa stok beras tersebut bahkan melampaui catatan yang ditorehkan Bulog pada tahun lalu yang mencapai angka 4,2 juta ton. “Khusus untuk hari ini, stok berasnya Bulog itu 44 juta ton. Ini adalah stok tertinggi dalam sejarah Indonesia merdeka karena stok tertinggi tahun lalu saat kita swasembada pangan di tahun 2025 adalah 4,2 juta ton. Nah, sekarang di bulan April ini, [stok beras Bulog] tembus di atas rekor tahun lalu. Jadi, ini stok tertinggi, saya sampaikan 4,4 juta ton,” ucap Ahmad Rizal pada sela-sela kunjungan kerja di Pasar Wonokromo, Surabaya, Sabtu.
Ia bahkan optimistis bahwa stok beras nasional akan meningkat dalam waktu dekat. Ketersediaan bahan pangan sumber karbohidrat mayoritas masyarakat Tanah Air itu diprediksi akan mencapai 5 juta ton banyaknya pada Mei 2026.
“Nah, sekarang di bulan April ini [ketersediaan beras nasional] tembus di atas rekor tahun lalu. Jadi, ini stok [beras] tertinggi saya sampaikan 4,4 juta ton, dan prediksi kami mungkin nanti di akhir ulan April atau masuk bulan Mei itu [stok beras nasional] bisa tembus sekitar 5 juta ton,” tegasnya.
Ahmad Rizal pun menegaskan di tengah kondisi eskalasi konflik di Timur Tengah, catatan tersebut dinilai menjadi capaian yang penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
“Nah, ini patut membanggakan dengan situasi geopolitik yang agak hangat. Namun, kondisi pangan khususnya Indonesia cukup terkendali. Ini patut kita syukuri,” jelasnya.
Ahmad Rizal juga menegaskan baha stok 4,4 juta ton tersebut merupakan murni ketersediaan dari komoditas beras, bukan dalam wujud gabah kering giling (GKG) hasil produksi padi. “Jadi 4,4 juta ton itu sudah dalam bentuk beras. Syukur alhamdulillah, sekarang sudah mencapai di atas 35% capaian dari target 4 juta ton yang diperintahkan Bapak Presiden [Prabowo Subianto] kepada Bulog untuk menyerap beras 4 juta ton tersebut,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono membeberkan produksi beras nasional periode Januari hingga Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton atau turun 0,38 juta ton dibandingkan periode yang sama tahn sebelumnya. “Produksi beras sepanjang Januari-Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 0,38 juta ton atau menurun 2,22% jika dibandingkan periode yang sama 2025,” kata Ateng dalam Rilis BPS.
Penurunan ini sejalan dengan proyeksi melemahnya produksi pada periode Maret-Mei 2026. BPS memperkirakan produksi beras pada periode tersebut mencapai 11,91 juta ton atau turun 1,49 juta ton, setara penurunan 11,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. bisn/mb06

