JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS melaporkan kenaikan harga beras pada Maret 2026 terjadi di seluruh rantai distribusi, mulai dari penggilingan hingga eceran. Lonjakan paling tinggi tercatat pada beras premium di tingkat penggilingan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan rata-rata harga beras di tingkat penggilingan secara total naik 0,54% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan meningkat 5,66% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Adapun, harga rata-rata beras di tingkat penggilingan mencapai Rp13.617 per kilogram atau naik dari bulan sebelumnya di level Rp13.5 per kilogram.
Jika dirinci berdasarkan kualitas, BPS mencatat beras premium mengalami kenaikan paling signifikan. Di sisi lain, beras medium juga mengalami kenaikan, meskipun lebih moderat. “Menurut kualitas beras di penggilingan, beras premium naik 1,8% secara mtm dan naik 9,57% secara yoy. Beras medium naik secara mtm 0,61% dan secara yoy beras medium naik 4,40%,” kata Ateng dalam Rilis BPS, Rabu.
Kenaikan harga juga tercermin di tingkat distribusi lanjutan. Di tingkat grosir, terjadi inflasi beras sebesar 0,96% secara mtm dan 4,8% secara yoy. Jika ditinjau dari sisi harga, rata-ratanya mencapai Rp14.282 per kilogram pada Februari 2026 menjadi Rp14.419 per kilogram pada maret tahun ini.
Untuk di tingkat eceran, inflasi beras tercatat sebesar 0,65% secara mtm dan 3,71% secara yoy. Pada Maret 2026, harga rata-rata beras di tingkat eceran mencapai Rp15.197 per kilogram atau naik dibandingka bulan sebelumnya di level Rp15.099 per kilogram.
BPS menjelaskan bahwa data harga beras tersebut merupakan rata-rata nasional yang mencakup berbagai jenis kualitas beras serta mencerminkan kondisi di seluruh wilayah Indonesia.
Lebih lanjut dibagian lain BPS mewanti-wanti potensi koreksi produksi beras nasional sepanjang Januari-Mei 2026, meskipun kinerja pada awal tahun sempat menunjukkan peningkatan.
Menurut Ateng Hartono bahwa produksi beras periode Januari-Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton atau turun 0,38 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Produksi beras sepanjang Januari-Mei 2026 diperkirkan mencapai 16,57 juta ton atau mengalami penurunan sebsar 0,38 juta ton atau menurun 2,22% jika dibandingkan periode yang sama 2025,” kata Ateng.
BPS memperkirakan produksi beras pada periode tersebut mencapai 11,91 juta ton atau turun 1,49 juta ton, setara penurunan 11,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sejalan dengan itu, BPS mencatat potensi produksi padi pada Maret-Mei 2026 hanya sebesar 20,68 juta ton gabah kering giling (GKG) atau turun 2,59 juta ton GKG. Angkanya turu 11,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yan mencapai 23,26 juta ton GKG.
Ateng menegaskan bahwa angka potensi tersebut masih dapat berubah tergantung kondisi pertanaman di lapangan sepanjang Maret-Mei 2026. bisn/mb06

