Mata Banua Online
Kamis, Maret 26, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Iran dan Jalan Menuju Bom Atom

by Mata Banua
24 Maret 2026
in Opini
0
Muhammad Alwi Hasan (Anggota lakpesdam PCNU Nganjuk tim penulis buku “Muqoddimah Sejarah NU Nganjuk”)

A. Pendahuluan

Perdebatan mengenai program nuklir Iran telah menjadi salah satu isu geopolitik paling kontroversial dalam hubungan internasional modern. Sejak akhir abad ke-20, Republik Islam Iran berada di persimpangan antara ambisi teknologi nuklir, tekanan sanksi internasional, dan kecurigaan dunia bahwa program nuklirnya berpotensi menjadi jalan menuju pengembangan bom atom. Di tengah dinamika tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah Iran benar-benar sedang menuju kepemilikan senjata nuklir, ataukah program tersebut semata-mata bertujuan damai?

Berita Lainnya

Antara Rem Darurat dan Pembatasan Ekspresi Digital pada Medsos Anak

Antara Rem Darurat dan Pembatasan Ekspresi Digital pada Medsos Anak

25 Maret 2026
Beras 5 Kg Tak Sesuai Takaran

SKB Kesehatan Jiwa Anak Disepakati 9 Menteri, Bagaimana Islam Jadi Solusi?

25 Maret 2026

Pada 14 Agustus 2002 dunia tersentak. dalam sebuah Jumpa Pers di Hotel Williard Intercontinental Washington DC, Alireza Jafarzadeh, Kepala Perwakilan National Council Of Resistance Of Iran (NCRI), Sebuah federasi yang terdiri dari berbagai kelompok anti rezim Iran di Pengasingan. mengungkapkan bahwa Iran secara diam-diam (Covertly) sudah memiliki program senjata nuklir yang hingga kini berhasil ditutupi.1 Namun, Klaim NCRI ini dibantah keras oleh Jeffrey Lewis, Pakar non-proloferasi nuklir melalui Intelegence community AS, yang menyatakan bahwa fasilitias Nuklir di Iran tersebut masih dalam batas normal untuk kepentingan energi dalam negeri Iran. Iran memiliki sejarah panjang mengenai energi Nuklir.

B. Sejarah Program Nuklir Iran

Program nuklir Iran sebenarnya tidak dimulai pada era Republik Islam. Akar proyek nuklir Iran dapat ditelusuri pada masa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1950-an melalui kerja sama dengan Amerika Serikat dalam program “Atoms for Peace”. Saat itu, tujuan utama program tersebut adalah pengembangan energi nuklir untuk kebutuhan sipil.

Namun, pada 1979 setelah Rezim Shah digulingkan, dan Ayatulloh Ruhollah Khomeini Kembali dari pengasingannya diprancis dan kemudian mendirikan, sekaligus memimpin Republik Islam Iran. Pasca Revolusi 1979, program Nuklir Iran menjadi salah satu isu yang menonjol dan dipertimbangkan untuk dihentikan oleh rezim baru Iran. ketika itu program nuklir warisan Shah ini dinilai lebih merupakan pemaksaan negara Barat dan sangat mahal, bagi negara yang sangat kaya akan sumber daya minyaknya ini.22

Dian Wirengjurit,

Baru setelah adanya Fatwa baru yang di serukan oleh Ayatullah Ruhollah Khomeini tentang diperbolehkannya produksi nuklir dalam negeri hanya sebatas untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pertanian, dan kesehatan. Iran memulai kembali program nuklirnya pada tahun 1983, secara resmi. Iran mendapat suplai teknologi nuklir dan material dari china pada 1985.3 china menjadi sekutu utama Iran, Karena semenjak runtuhnya Rezim Pahlevi yang Pro-Barat (AS), Rezim Islam Iran memulai Hubungan diplomatik yang erat dengan beijing.

Selain china, sekutu utama Iran dalam program Nuklirnya adalah Moskowa (Rusia) pada tahun 1990 an, Pyongyang (Korea Utara), dan Pakistan melalui Ilmuan nuklirnya (Abdul Qadir Khan) pada tahun 2003. Iran diketahui memiliki beberapa fasilitas nuklirnya yang terdaftar di lembaga Atom Dunia/International Atomic Energi Agency (IAEA), Fasilitas-Fasilitas tersebut adalah:

1.Arak, pertama kali di ungkapkan kepada publik oleh kelompok oposisi NCRI pada 2002 di Washington.

2.Bushehr, secara resmi berdiri tahun 1974 era shah pahlavi.

3.Fordow, terletak 40 KM di sebelah utara kota Qom, Iran Tengah, Fasilitas ini diungkapkan ke publik pada tahun 2009 oleh Presiden AS Obama.

4.Isfahan, Merupakan pusat riset nuklir terbesar dan diperkirakan mempekerjakan sekitar 3000 ilmuan. Fasilitas ini diyakini oleh pihak barat sebagai tempat utama pembuatan senjata nuklir Iran.

5.Natanz, diungkap ke publik pada 22 Agustus 2006 oleh NCRI.

6.Parchin, berdiri pada tahun 2004.

7.Tehran, Tehran Nuclear Reseacrh Center (TNRC) yang didirikan pada 1967 dan dikelola oleh AEOI (Atomic Energi Organization Of Iran).

C.Iran dan Jalan Menuju Bom Atom

Kekhawatiran dunia internasional terutama berfokus pada kemampuan Iran dalam memperkaya uranium. Dalam teknologi nuklir, tingkat pengayaan uranium menjadi indikator penting apakah program tersebut bersifat sipil atau militer.

Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, uranium biasanya diperkaya hingga sekitar 3–5 persen. Namun untuk membuat senjata nuklir, uranium perlu diperkaya hingga sekitar 90 persen. Laporan pengawas nuklir internasional menunjukkan bahwa Iran telah memperkaya uranium hingga sekitar 60 persen, jauh di atas kebutuhan energi sipil dan mendekati tingkat yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.4

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bahkan melaporkan bahwa Iran memiliki lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya pada level tersebut. Jika uranium tersebut diperkaya lebih lanjut hingga 90 persen, secara teoritis jumlah tersebut dapat cukup untuk beberapa bom nuklir.5 Temuan lain juga menunjukkan bahwa tingkat pengayaan sempat mencapai sekitar 83,7 persen dalam beberapa proses, angka yang sangat dekat dengan tingkat yang diperlukan untuk pembuatan senjata nuklir.6

memang dari sebagian asesmen terhadap data dan informasi mengenai potensi militer pada program nuklir Iran, sepintas dapat di simpulkan bahwa Iran sedang berupaya memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan memproduksi alat ledak fisil nuklir. namun demikian, untuk dapat memiliki kemampuan ini akan tidak mudah karena Iran perlu melakukan 2 hal:

menghentikan pengawasan dan pemantauan IAEA terdahap proses pengayaan Uranium dan pengumpulan Plutonium direaktor air beratnya;

memproduksi material fisil dan membuat bom dilokasi rahasia dengan menggunakan pengetahuan dan kepakaran yang didapat dari program nuklir sipil.7

Yang pasti, Hingga sekarang belum pernah ada data dari IAEA atau komunitas Intelejen AS yang menyatakan bahwa Iran memang sedang mengembangkan, memproduksi, atau uji coba Nuclear Explosive Device apapun.

D. Penutup

Iran berada di persimpangan antara ambisi teknologi, tekanan geopolitik, dan kepentingan keamanan nasional. Program nuklirnya telah berkembang hingga titik yang mendekati ambang kemampuan senjata nuklir, meskipun Iran tetap menegaskan bahwa tujuannya bersifat damai.

Dengan demikian, “jalan menuju bom atom” bagi Iran bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan politik, ideologi, dan keseimbangan kekuatan global. Masa depan program nuklir Iran akan sangat ditentukan oleh dinamika hubungan internasional, terutama antara Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara besar lainnya.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper