
JAKARTA – Pengamat memperkirakan pemerintah akan mempertimbangkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BM) bersubsidi seperti Pertalite dan Solar apabila rata-rata harga minyak mentah dunia mencapai US$90 per barel per bulan.
Praktisi migas Hadi Ismoyo menjelaskan tolok ukur pemerintah dalam menentukan kebijakan harga BBM tidak didasarkan pada harga haran, melainkan rata-rata harga dalam periode tertentu, terutama per bulan. Karenanya, Hadi tidak heran jika pemerintah saat ini belum empertimbangkan kenaikan harga BBM subsidi.
Terlebih, pada Senin (9/3) harga minyak mentah acuan Brent sempat melonjak hingga US$104 per barel, tetapi terkoreks dan turun menjadi US$92,45 per barel. “Perlu diingat ada jenis harga peak (fluktuatif) dan harga rata-rata bulanan,” ujarnya.
Di tengah konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, Hadi enilai harga minyak mentah dunia masih berpotensi naik lebih tinggi.
Ia bahkan memprediksi harga puncak (peak) bisa mencapai US150 per barel apabila konflik terus meluas dan para pihak tidak menahan diri.
Prediksi tersebut sejalan dengan pernyataan MenteriEnergi Qatar Saad al-Kaabi yang sebelumnya juga menyebut potensi lonjakan harga minyak dunia hingga level tersebut.
Menurut Hadi, eskalasi konflik di Timur Tenah saat ini sudah menyasar berbagai fasilitas penting, tidak hanya instalasi militer dan kilang minyak, tetapi juga fasilitas air yng menjadi sumber kehidupan di kawasan gurun.
“Khusus Iran, ditambah dengan pengganti Imam Khamenei adalah putranya yang boeh jadi lebih radikal dan melanjutkan tradisi dendam yang berjilid-jilid,” ujar Hadi.
Hadi menilai pemerintah baru akan mempertimangkan kenaikan harga BBM subsidi apabila rata-rata harga minyak dunia dalam sebulan mencapai sekitar US$90 per barel. Artina, kenaikan harga harian hingga US$120 hingga US$150 per barel belum tentu langsung direspons dengan kebijakan kenaikan hargaBBM subsidi.
“Paling aman paka ektrapolasi berdasarkan historical kenaikan yang pernah terjadi. Saya sudah kasih angka tadi, prediksi saya bulan Maret ini rta-rata di sekitar US$90 per barel,” kata Hadi.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerinah menetapkan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$70 per barel.
Jika rata-rata harga minyak dunia dalam sebula berada di level US$90 per barel, berarti terjadi kenaikan sekitar 28 persen dari asumsi dalam APBN.
Namun demikian, Hadimenyebut kenaikan harga BBM subsidi di masyarakat tidak akan sepenuhnya mengikuti lonjakan harga minyak mentah karena adanya faktr harmonisasi harga.
Ia memperkirakan pemerinah dapat menahan kenaikan harga BBM pada kisaran 50 hingga 70 persen dari kenaikan harga minyak mentah.
Jika menggunakan asumsiharmonisasi 50 persen, kenaikan harga BBM diperkirakan tidak lebih dari sekitar 14 persen dari harga saat ini. cnn/mb06

