Oleh: Muhammad Zakif (Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas)
Rencana pengiriman pasukan TNI ke Gaza oleh presiden Prabowo Subianto menuai banyak sekali kritikan-kritikan oleh masyarakat, menurut Mahasiswa Ilmu politik Universitas Andalas Muhammad Zakif, langkah besaryang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut dinilai penuh resiko, Meski berlandaskan Resolusi DK PBB tentang dukungan gencatan senjata dan demiliterisasi, fakta di lapangan menunjukkan serangan Israel tetap berlangsung. langkah ini tentu sebagai pertaruhan berbahaya karena berpotensi besar membunuh prajurit prajurit Tentara nasional Indonesia (TNI).
Meski sudah diklaim oleh pemerintah Indonesia bahwa bahwa keterlibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam International Stabilization Force (ISF) ke Gaza tidak bersifat tempur maupun pelucutan senjata. Penagasan tersebut diklaim murni untuk kepentingan kemanusiaan. Pengerahan pasukan dilakukan dengan Merujuk pada mandat Dewan Keamanan PBB, khususnya Resolusi 2803, serta menyelaraskan dengan prinsip politik luar negeri bebas-aktif dan hukum internasional.
Langkah yang terlalu beresiko
Meski belum benar-benar beroperasi, rencana pengiriman 8.000 prajurit TNI ke Gaza dalam skema ISF dan BoP sudah memantik kritik pedas di masyarakat. Angka tersebut merupakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto di Sidang Majelis Umum PBB untuk mengirim hingga 20.000 pasukan perdamaian. TNI memastikan kesiapan personel dari satuan nontempur, termasuk zeni konstruksi dan tenaga medis militer, pengiriman TNI ke Gaza.
Akan tetapi, situasi di lapangan masih panas, tanpa kesepakatan politik yang kokoh antara pihak-pihak berkonflik, diperparah dengan masih berlangsungnya serangan militer Israel terhadap warga Gaza dan personel PBB, seakan-akan gencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025 lalu tidak pernah ada, rekam jejak Israel dalam menyandung upaya perdamaian dan melanggar berbagai resolusi PBB tanpa konsekuensi merupakan risiko nyata bagi keselamatan personel TNI di lapangan.
Pasukan tanpa peran tempur
Pemerintah Indonesia sudah menegaskan bahwa pasukan yang dikirim akan berada di bawah kendali Indonesia, dengan tugas kemanusiaan, bukan tempur. Mereka tidak akan terlibat dalam aksi yang berpotensi menempatkan mereka dalam konfrontasi langsung, dan hanya akan bertindak jika harus membela diri. Selain itu, banyak tantangan lain yang akan dihadapi pasukan internasional yang belum memahami konteks dan medan, seperti yang diketahui hamas bukan satu-satunya kelompok bersenjata di sana.
Kita tarik mundur Di Lebanon, tank militer Israel pernah menyerang posisi kontingen Indonesia yang bertugas dalam misi perdamaian UNIFIL pada Oktober 2024. Militer Israel juga melontarkan granat ke personel UNIFIL lainnya yang berpatroli sepanjang perbatasan Lebanon serta berulang kali melanggar gencatan senjata dengan kelompok Hezbollah.
Indonesia juga menekankan pasukannya tidak dihadapkan atau berkonfrontasi dengan pihak bersenjata manapun, harus dikirim dengan persetujuan Otoritas Palestina, berdasarkan penghormatan terhadap kedaulatan Palestina, dan dapat dihentikan sewaktu-waktu jika pelaksanaan ISF dinilai menyimpang dari kebijakan luar negeri Indonesia.
Pemerintah menegaskan misi ini wujud komitmen terhadap kemerdekaan Palestina dan pemulihan masyarakat Gaza setelah menghadapi kekejaman Israel dan sekutunya yang telah membumi hanguskan t Palestina dan membunuh puluhan ribu rakyat sipil disana, Sejak agresi besar-besaran Israel ke Gaza pasca 7 Oktober 2023 hingga detik ini, korban sipil melonjak drastis. Data Survei Kematian Gaza (GMS) mencatat lebih dari 75.000 warga Palestina tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Partisipasi Indonesia disebut berfokus pada pembangunan fisik dan bantuan kemanusiaan Akan tetapi, tujuan mulia tidak serta-merta terhindar dari risiko yang tinggi terhadap posisi Indonesia dan keselamatan pasukan TNI. Indonesia perlu mewaspadai risiko berkaitan dengan mandat yang problematik, batasan tindakan di lapangan, dan hambatan Israel terhadap terwujudnya perdamaian dan kemerdekaan di Palestina.TNI sudah berperan sebagai pasukan perdamaian setidaknya selama 70 tahun terakhir,misi itu bukan tidak berisiko. Ada tentara Indonesia yang pernah diculik, dan ada yang tewas.

