
NABI Muhammad saw. bersabda “Barang siapa yang ingin diluaskan rezkinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia menjalin hubungan silaturrahim.” Kelihatannya silaturrahim ini memiliki dua dimensi positif; memperluas pintu rezki dan membuat seseorang umurnya panjang.
Terkait dengan yang pertama mendapat rezki yang banyak, barangkli dambaan banyak orang dan hanya sedikit yang tidak mau rezkinya banyak, apalagi jika dalam diri seseorang telah hidup sifat rakus, baginya kekayaan seolah tidak ada batasnya.
Memiliki rezki yang banyak -rasanya- tidak ada larangan dalam agama, yang terlarang itu adalah apabila rezki diperoleh dari sumber yang haram, apalagi kalau kemudian dimanfaatkan pada jalan yang haram pula; sudah tentuini terlarang. Al-Baqarah 168 mengingatkan artinya “Hai sekalian manusia,makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
Lalu apa hubungan silaturrahim dengan banyak rezki? Silaturrahim adalah hubungan kita dengan orang lain yang harus dijaga dan dirawat dengan baik. Ia adalah satu perintah agama untuk dipelihara sebagaimana juga puasa Ramadhan Ramadhan untuk dilaksanakan. Allah memberi seseorang rezki tidak langsung kada yang bersangkutan, tetapi melalui orang lain.
Pedagang kaya, kekayaannya diperoleh melalui silaturrahim dengan orang lain. Ia baik menjaga hubungan silaturrahim, baik melayani pembeli, sehingga membuat banyak orang menjadi pelanggannya. Coba kalau pedagang itu tidak murah senyum, kasar melayani pembeli, tidak santun, bisa membuat hubungan silaturrahimnya dengan yang lain menjadi kurang bik yang pada akhirnya rezkinya diam-diam berkurang, karena minim pembelinya.
Lalu apa hubungan puasa dengan silaturrahim? Puasa mengajarkan banyak hal positif bagi kehidupan seseorang; umpamanya bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik agar tidak hilang begitu saja.
Bagaimana memaksimalkan pemanfaatan waktu sehingga ia benar-benar selalu bernilai ibadah dalam kehidupan. Perhatikan dengan sksama, semangat beribadah umat Islam pada bulan puasa, jauh di atas semangat beribadah mereka di luar bulan Ramadhan. Tempat-tempat ibadah seperti masjid dan langgar makmur karena dihiasi dengan berbagai kegiatan yang bernuansa agama. Buka bersama, shalat tarawih, tadarrus al-Quran dan lain-lain disamping sebagai tempat untuk melaksanakan shalat wajib.
Satu pelajaran penting ibadah puasa adalah kesadaran orang untuk mengayomi orang-orang tidak berada lebih besar dari kesadaran mereka di luar Ramadhan. Orang-orang kaya mengajak orang lain buka puasa bersama, memberi mereka bingkisan, bahkan mereka menunaikan zakat -sering-sering- juga pada bulan Ramadhan. Inilah -saya kira- salah satu kelebihan mereka yang kaya disamping memiliki harta berlebihan; dapat memberi perhatian lebihbesar untuk mereka yang papa dan ini mereka lakukan dalam upaya memelihara hubungan baik dengan sesama. (*)

