Mata Banua Online
Kamis, April 2, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Mencium Tangan Ulama

by Mata Banua
25 Februari 2026
in Ramadhan
0

 

Mukhyar Sani

ABU Hurairah, siapa dia? Hamba-hamba Allah yang selama ini banyak bersentuhan dengan dunia perhaditsan, -insya Allah- mengenal profil dan sosok perawi hadits yang satu ini.

Berita Lainnya

Himbauan Tunda Berangkat Umroh

Himbauan Tunda Berangkat Umroh

2 Maret 2026
Saat Berbuka Pilih Buah Jangan Sekedar Manis

Saat Berbuka Pilih Buah Jangan Sekedar Manis

2 Maret 2026

Sebelum menganut agama Islam, nama beliau adalah Abdus Syams bin Sakhr yang secara literlik lafal itu berartikan penyembah matahari. Ia menga­nut agama Islam tahun ketujuh Hijriyah ketika itu Nabi dan para sahabat sudah hijrah ke Madinah setelah kurang lebih 13 tahun mendakwahkan Islam di Mekah dan sekitarnya.

Sesudah menjadi muslim, namanya diganti menjadi Abdurrahman bin Sakhr. Lafal Abdurrahman secara literlik dapat diartikan mengabdi pada Yang Maha Penyayang; Allah swt.

Abu Hurairah berasal dari daerah Yaman, Yaman sejak dahulu terkenal sebagai daerah yang banyak melahirkan para ulama besar, bahkan para wali. Beliau meriwayatkan kurang lebih 5754 buah hadits; panjang pendek, bahkan menghafalnya.Kuniyah atau gelar beliau Abu Hurairah yang menggambarkan hubungan beliau dengan anak kucing. Lafal herrun berasal dari bahasa Arab, berarti “anak kucing.” Karena kesukaan memelihara dan menyayanginya, akhirnya beliau terkenal dengan panggilan Abu Hurairah, Bapak anak kucing.

Apa yang menarik dari Abu Hurairah ini? Beliau pernah menjabat sebagai Gubernur Bahrain pada zaman Khalifah Umar, dan pada zaman Muawiyah bin Abu Sofyan menjabat Gubernur di Madinah, bahkan dizaman Khalifah Ali bin Abu Thalib, beliau mendapat tawaran untuk jabatan yang sama, tetapi menolaknya. Bayangkan pejabat zaman itu, hafal dan meriwayatkan hadits sekian banyak; seandainya orang-orang penting zaman ini seperti itu, tentu insya Allah keadaan akan menjadi lain.

Di tahun tahun awal Abu Hurairah menganut agama Islam dan menjadi sabahat dekat Nabi Muhammad saw. ia merasa begitu susah untuk menghafal hadist. Paa zaman itu, kemampuan menghafal menjadi andalan banyak orang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Beliau diuntungkan oleh keadaan, apa itu? Beliau orang dekat Nabi Muhammad saw. seorang Nabi dan Rasul kekasih Allah, Nabi dan Rasul terakhir, yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki Rasul lain.

Mengetahui keadaan itu, Nabi kemudian bersabda maksudnya “Bentangkan selendangmu, akupun membentangkannya, sesudah itu beliau banyak memberikan hadits padaku dan aku tidak pernah lupa sedikitpun. Apa yang ditiupkan Nabi pada selendang itu, sehingga kemudian mudah bagi Abu Burairah untuk menghafal hadits, kita tidak tahu, namun sebagai Nabi tentu ada materi yang disampaikan untuk selendang itu dalam bentuk doa atau bentuk lainnya.

Bagaimana dengan keadaan sekarang, Nabi Muhammad saw. sudah wafat beberapa ratus tahun lalu, siapa yang kira-kira bisa melakukan hal yang kurang lebih dengan apa yang dilakukan abi itu walaupun dalam bentuk yang berbeda, dengan esensi yang kurang lebih sama. (*)

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper