
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai rawit melonjak tajam di berbagai daerah pada pekan pertama Ramadan 2026.
Angka kenaikan harga bahkan lebih dari 00 persen di sejumlah kabupaten/kota, dengan disparitas harga yang sangat lebar antar wilayah.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan lonjakan harga cabai rawit terjadi di lebih dari separuh wilayah Indonesia.
“Cabai rawit mengalami kenaikan yang sangat tinggi sekali, yaitu naik pada minggu ketiga di bulan Februari 69,89 persen atau dari Rp57.492 menjadi Rp68.928 (per kilogram),” ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026.
“Kalau kita cermati, cabai rawit yang mengalami peningkatan IPH (Indeks Perkembangan Harga) itu pada 59,44 persen wilayah di Indonesia. Jadi hampir lebih dari setengah wilayah di Indonesia mengalami peningkatan cabe rawit,” tambahnya.
Ia menjelaskan jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga cabai rawit mencapai 214 kabupaten/kota hingga minggu ketiga Februari 2026, meningkat dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 210 daerah.
BPS mencatat kesenjangan harga cabai rawit antarwilayah sangat tinggi, dengan harga terendah sekitar Rp23.462 per kilogram dan tertinggi mencapai Rp200 ribu per kilogram.
“Rp200 ribu ini di Kabupaten Nduga, kemudian di Kabupaten Mappi Rp190 ribu, dan di Kabupaten Intan Jaya Rp170 ribu (per kilogram). Ini semuanya di wilayah Papua yang mengalami peningkatan tertingginya,” kata Ateng.
Lonjakan tertinggi tercatat di Kabupaten Situbondo dengan kenaikan 121,23 persen menjadi Rp78.449 per kg. Kenaikan drastis juga terjadi di Kota Pasuruan sebesar 114,03 persen menjadi Rp78.192 per kg serta Kabupaten Nganjuk naik 100,81 persen menjadi Rp72.359 per kg. cnn/mb06

