
BANJARMASIN – Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin melakukan sidak ke pusat daur ulang sampah terpadu yang disebutnya Banjarmasin Recycle Center (BRC) di Kompleks Pergudangan 88 Bumi Basirih, Banjarmasin Selatan.
Yamin di Banjarmasin, Rabu, menginstruksikan BRC harus bisa beroperasi maksimal untuk mengolah sampah, khususnya sampah plastik dengan fasilitas dan peralatan yang ada.
BRC, menurut Yamin, sangat diharapkan perannya untuk mengatasi masalah sampah yang ratusan ton produksi warga kota ini setiap harinya, pengganti peran tempat pemrosesan akhir sampah (TPAS) Basirih yang telah ditutup Kementerian Lingkungan Hidup RI sejak Februari 2025.
Karena begitu vitalnya BRC ini untuk mengatasi darurat sampah di kota saat ini, Yamin menyatakan sangat memberi perhatian hingga harus melakukan sidak khusus.
Dia pun merasa operasional BRC belum memenuhi harapan sebagai pusat daur ulang terpadu, termasuk pengolahan plastik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).
Yamin mendapati sebagian mesin pengolah sampah rusak dan tidak diperbaiki secepatnya.
“Harusnya minimal 10 truk sampah per hari dapat diolah di BRC. Kalau cuma satu atau dua, kita rugi biaya, rugi waktu,” ujarnya.
Dia pun meminta pihak terkait yang mengelola BRC tersebut untuk segera berbenah dan mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari penguatan teknis, penganggaran yang tepat sasaran, hingga pelibatan pihak eksternal yang kompeten.
Menurut dia, Banjarmasin memiliki peluang besar dengan mengembangkan pengolahan sampah organik melalui maggot hingga 50 persen, memaksimalkan kompos sebagai pupuk, serta memperluas kerja sama RDF dan teknologi lanjutan seperti pirolisis plastik.
“Kalau sudah 50 persen terolah, itu baru layak diacungi jempol. Ini kerja keras, bukan kerja santai,” katanya. ant

