Oleh: Ummu Amila (Ibu Rumah Tangga di Batola)
Dunia saat ini menghadapi krisis yang kian kompleks. Konflik berkepanjangan, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, serta merosotnya nilai kemanusiaan menjadi potret nyata peradaban modern. Ironisnya, krisis tersebut justru muncul di tengah dominasi kekuatan global yang mengklaim diri sebagai penjaga demokrasi dan perdamaian dunia.
Amerika Serikat sebagai poros utama kepemimpinan global kapitalisme kerap tampil dengan wajah paradoks. Di satu sisi mengusung narasi kebebasan dan hak asasi manusia, namun di sisi lain aktif melakukan intervensi politik, ekonomi, bahkan militer terhadap negara-negara lain. Dunia Islam menjadi salah satu pihak yang paling terdampak. Banyak negeri Muslim terjebak dalam konflik, kemiskinan struktural, dan ketergantungan ekonomi akibat sistem global yang tidak adil.
Kapitalisme sekuler terbukti gagal menghadirkan keadilan. Orientasi keuntungan dan kekuasaan telah mendorong eksploitasi sumber daya alam secara masif tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan dan keberlanjutan kehidupan manusia. Kerusakan ekologi, perubahan iklim, dan bencana kemanusiaan adalah konsekuensi dari sistem yang menempatkan materi sebagai tujuan utama.
Lebih dari itu, penetrasi ideologi sekuler telah menggerus nilai-nilai Islam di berbagai aspek kehidupan umat. Mulai dari ekonomi berbasis riba, budaya individualistik, hingga pendidikan yang menjauhkan generasi muda dari identitas keislaman. Akibatnya, umat Islam kehilangan arah dan kekuatan politik untuk menentukan masa depannya sendiri.
Dalam situasi seperti ini, wacana kepemimpinan Islam kembali relevan untuk diperbincangkan. Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi juga mabda—ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk tata kelola negara dan hubungan internasional. Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Islam pernah menjadi pelindung umat manusia, tanpa memandang suku, ras, maupun agama.
Kepemimpinan Islam yang berlandaskan keadilan, rahmat, dan hukum Ilahi diyakini mampu menjadi alternatif atas kegagalan sistem global saat ini. Bukan untuk mendominasi atau menindas, melainkan untuk menghentikan kezaliman, menjaga keseimbangan alam, serta menjamin hak dan keselamatan seluruh manusia.
Sudah saatnya umat Islam membangun kesadaran kolektif dan keberanian berpikir alternatif. Dunia membutuhkan kepemimpinan yang tidak tunduk pada kepentingan kapital dan kekuasaan semata, tetapi berpihak pada keadilan sejati dan kemanusiaan universal.
Wallahua’lam

