Mata Banua Online
Selasa, Januari 13, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

“Game Online dan Krisis Moral Generasi Digital: Antara Hiburan dan Kehancuran”

by Mata Banua
12 Januari 2026
in Opini
0

Oleh: Zahwa Azizah (Aktivis Muslimah)

Game online kini bukan sekadar hiburan, tetapi telah menjadi fenomena sosial yang melekat kuat pada kehidupan generasi muda. Akses yang mudah, grafis yang menarik, serta ruang kompetisi yang menantang menjadikan game online sebagai bagian dari gaya hidup digital. Namundi balik daya tarik tersebut, tersimpan potensi bahaya yang serius ketika permainan virtual itu menguasai pikiran dan emosai seseorang. Dua peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Indonesia menjadi bukti nyata bagaimana dunia digital dapat menembus batas nalar manusia dan memicu tindakan kekerasan pada dunia nyata.

Berita Lainnya

Beras 5 Kg Tak Sesuai Takaran

Banjir Kalsel, Bukti Rusaknya Tata Kelola Lingkungan

12 Januari 2026
G:\2026\Januari\13 Januari 2026\8\Opini Selasa\Dicky Choirriyan.jpg

Ketika Menjadi Dokter Bagi Dirinya Sendiri

12 Januari 2026

Kasus pertama datang dari Depok. Mengutip dari CNN Indonesia.com (26/12/2025), polisi menetapkan seorang mahasiswa sebagai tersangka kasus ancaman bom yang ditujukan ke sepuluh sekolah di Kota Depok, Jawa Barat. Ancaman tersebut dikirim melalui surat elektronik dengan alamat palsu yang seolah-olah dikirim oleh pihak luar negeri. Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi berhasil menelusuri jejak digital dan menemukan pelaku sebenarnya. “Hasil penelusuran menunjukkan pelaku menggunakan email buatan untuk menebar ancaman ke sejumlah sekolah di Depok,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi.

Kasus kedua bahkan lebih menyayat hati. Mengutip dari Kompas.com (29/12/2025), seorang anak laki-laki di Medan diduga membunuh ibunya sendiri setelah terlibat pertengkaran. Berdasarkan keterangan polisi, konflik bermula saat sang ibu menghapus game online di ponsel anaknya, yang kemudian memicu kemarahan hingga terjadi kekerasan fatal.”Motif awalnya adalah rasa marah setelah game online dihapus oleh korban,” kata Kapolsek Medan Tuntungan Kompol Jeni Panjaitan.

Kejadian ini tidak muncul begitu saja. Dalam banyak kasus, game online memunculkan ketergantungan psikologis yang dikenal sebagai gaming disorder. Seseorang dapat merasa lebih nyaman hidup dalam dunia maya, di mana ia memiliki kendali dan identitas yang kuat, daripada di dunia nyata yang penuh tuntutan. Ketika kesadaran moral melemah, game yang berisi unsur kekerasan dapat menjadi inspirasi untuk bertindak agresif. Pengulangan aksi menembak, menyerang, atau menghancurkan musuh dalam game, tanpa disadari, menumpulkan rasa empati dan menormalkan kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah.

Sebagai manusia yang hidup di tengah era digital, persoalan ini bukan semata kesalahan teknologi, tetapi kegagalan manusia dalam mengatur diri. Game hanyalah alat,yang menentukan arah penggunaannya adalah hati dan akal manusia. Ketika seseorang kehilangan keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab, maka game dapat berubah menjadi candu yang mematikan. Orang tua, pendidik, bahkan pemerintah perlu memandang serius hal ini, bukan sekadar dengan pelarangan, tetapi melalui pendekatan edukatif dan spiritual.

Fenomena maraknya kekerasan yang terinspirasi dari game online tidak dapat dilepaskan dari cara pandang masyarakat modern terhadap hiburan digital. Seperti yang terlihat, bagaimana generasi muda kini hidup dalam “kepungan” budaya virtual yang membentuk cara berpikir, cara berinteraksi, hingga cara mereka menyalurkan emosi. Dunia maya yang seharusnya menjadi ruang rekreasi justru berubah menjadi medan yang menormalisasi kekerasan, mematikan empati, dan mengikis batas antara realitas dan imajinasi.

Akar masalahnya tidak sekadar terletak pada anak yang bermain game, melainkan karena sistem sosial dan ekonomi yang membentuk cara pandang manusia terhadap kehidupan. Dalam sistem kapitalisme sekuler yang menuhankan kebebasan dan keuntungan, industri game hanya dipandang sebagai ladang bisnis, bukan ruang pembinaan karakter. Nilai-nilai moral dan tanggung jawab sosial diabaikan, sementara konten kekerasan diproduksi besar-besaran karena terbukti laku di pasaran. Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam budaya visual yang sarat agresi, tanpa bekal moral untuk menyeleksi mana yang pantas dan mana yang tidak.

Perlu ditegaskan bahwa krisis yang terjadi adalah krisis peradaban. Ketika orientasi hidup manusia lepas dari nilai spiritual, maka hiburan berubah menjadi candu, dan kesenangan digital menjadi pengganti makna hidup. Generasi yang seharusnya tumbuh sebagai penerus bangsa dan penerus peradaban justru terjebak dalam dunia yang dikendalikan layar, kehilangan arah, kehilangan kontrol, bahkan kehilangan empati terhadap sesama.

Dari sudut pandang Islam, Islam menawarkan solusi yang bersifat mendasar yakni, dengan mengembalikan pendidikan dan kehidupan pada nilai-nilai yang berlandaskan iman dan akhlak. Dalam Islam, manusia tidak dibiarkan bebas tanpa batas, setiap tindakan memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah. Oleh karena itu, pengendalian diri menjadi pondasi agar seseorang tidak diperbudak oleh hawa nafsu, termasuk dalam bentuk kecanduan digital.

Solusi yang ditawarkan di dalam Islam mencakup beberapa hal penting. Pertama, penguatan peran keluarga sebagai benteng pertama dalam pembinaan karakter. Orang tua perlu memahami dunia digital anak-anak mereka, bukan sekadar melarang, tetapi mendampingi dan mengarahkan agar mereka memahami konsekuensi moral dari setiap pilihan hiburan. Kedua, perbaikan sistem pendidikan agar tidak hanya menekankan prestasi akademik, tetapi juga pembentukan akhlak dan literasi digital islami. Sekolah dan lembaga pendidikan harus menjadi tempat menanamkan kesadaran bahwa teknologi adalah amanah, bukan pelarian.

Ketiga, penguatan komunitas dan kontrol sosial. Masyarakat perlu membangun lingkungan yang menumbuhkan nilai-nilai produktif, seperti kegiatan sosial, olahraga, atau dakwah digital yang positif sebagai alternatif dari game yang merusak. Keempat, perubahan sistemik, yaitu menolak logika kapitalisme yang menjadikan hiburan sebagai komoditas tanpa batas. Islam menawarkan sistem kehidupan yang memadukan nilai spiritual dan tanggung jawab sosial, di mana setiap aktivitas ekonomi dan budaya harus berorientasi pada kemaslahatan, bukan semata – semata pada keuntungan.

Hal ini menunjukkan bahwa solusi sejati bukan sekadar membatasi akses game atau membuat aturan teknis, tetapi mengembalikan arah kehidupan manusia menuju pandangan hidup yang benar. Ketika iman menjadi pusat orientasi, hiburan tidak lagi menjerumuskan, melainkan menjadi sarana kebahagiaan yang bermakna. Islam hadir bukan untuk mematikan kesenangan, tetapi untuk menuntun manusia agar menikmati hidup dengan nilai, arah, dan tujuan yang benar.Sistem Islam adalah sistem sempurna yang terbukti mampu mengatur dan menyelesaikan seluruh urusan atau permasalahan manusia hingga ke akarnya. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita mengganti sistem kita yang rusak ini dengan sistem sempurna dari Allah SWT. yaitu Daulah Islam (Khilafah).

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper