Mata Banua Online
Senin, April 6, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Saat Penjaga Pintu Lupa Siapa Tuan Rumah

by Mata Banua
5 Januari 2026
in Opini
0
G:\2025\2026\Januari\6 Januari 2026\8\8\Deza Putra Adelyen.jpg
Deza Putra Adelyen (Mahasiswa Ilmu Politik & Demisioner Ketua Komisariat GmnI Universitas Andalas)

Laut kita diserang, tetapi bukan dengan kapal perang. Oktober 2024, kapal survei migas Indonesia di Blok Arwana dikepung kapal penjaga pantai asing.

Bukan perang, bukan invasi. Hanya “patroli yurisdiksi,” kata mereka. Kapal putih, bukan abu-abu, supaya tidak terlihat seperti ancaman militer.

Berita Lainnya

Upaya Indonesia dalam Penanganan Isu Nuklir Iran

Upaya Indonesia dalam Penanganan Isu Nuklir Iran

5 April 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Demi Menghemat Anggaran Negara, Haruskah PPPK Jadi Korban ?

5 April 2026

Bakamla dan TNI Angkatan Laut bergerak cepat. KN Tanjung Datu-301, KN Pulau Dana-323, KRI Sutedi Seno Putra-378 mengepung balik kapal asing tersebut sampai mundur. Kemenangan taktis memang, tetapi kemenangan strategis belum tentu.

Besok mereka bisa datang lagi. Lusa mereka datang lagi. Sampai biaya menjaga laut sendiri menjadi terlalu mahal untuk ditanggung.

Inilah wajah baru perang maritim abad ke-21. Bukan tentang menenggelamkan kapal musuh, tetapi tentang siapa yang lebih tahan lelah menjaga.

Anggaran pertahanan Indonesia 2025 hanya Rp165 triliun atau 0,8 persen dari Produk Domestik Bruto. Angka ini jauh di bawah standar NATO sebesar 2 persen dan tetangga seperti Singapura yang mencapai 3 persen. Dengan anggaran sebesar itu, kita tidak mungkin mengejar jumlah kapal.

Perang Tanpa Peluru, Kekalahan Tanpa Darah

Data Bakamla 2024 menunjukkan peningkatan frekuensi insiden di Laut Natuna Utara. bukan kebetulan, melainkan strategi sistematis untuk mengikis kedaulatan secara perlahan tanpa memicu perang terbuka.

Nelayan Natuna tahu persis apa yang terjadi di laut. Mereka adalah mata dan telinga terdepan negara ini. Namun, apa yang mereka lihat sering kali tidak sampai ke Jakarta dengan cukup cepat untuk direspons secara efektif.

Pemerintahan Prabowo Subianto telah meluncurkan program ambisius berupa Fregat Merah Putih kelas Arrowhead 140. KRI Balaputradewa-322 diluncurkan 18 Desember 2025 dengan sistem peluncur rudal vertikal 64 sel. Simbolismenya kuat karena Indonesia mampu membangun kapal perang modern di dalam negeri.

Namun kapal sebesar itu butuh waktu bertahun-tahun untuk operasional penuh. Maka pemerintah membeli dua kapal PPA kelas Thaon di Revel dari Italia sebagai solusi cepat menutup kekosongan.

Nelayan sebagai Sensor, Bukan Tentara

Indonesia adalah “tanah air” begitu ucap Bung Karno. Satu kesatuan darat dan laut yang tak terpisahkan. Filosofi ini dapat diterjemahkan ulang untuk era digital.

Pertahanan semesta tidak lagi soal mobilisasi fisik rakyat dengan bambu runcing. Sekarang tentang integrasi data digital dari rakyat ke sistem komando pertahanan. Kemerdekaan sejati harus berbasis material seperti teknologi dan ekonomi, bukan sekadar semangat. Kata Tan Malaka.

Indonesia sudah mulai bergerak ke arah tepat. Kerja sama dengan SRT Marine Systems untuk National Maritime Security System menggunakan kecerdasan buatan untuk mendeteksi kapal yang mematikan transponder AIS. Kerja sama dengan CSIRO Australia memanfaatkan citra satelit untuk melacak kapal asing yang bersembunyi.

Perlu dilakukan sekarang mempercepat integrasi nelayan ke dalam sistem ini. Bukan dengan mempersenjatai mereka seperti yang dilakukan Vietnam dengan milisi maritimnya. Beri mereka aplikasi seluler yang terhubung ke Pusat Komando TNI Angkatan Laut.

Ketika nelayan melihat kapal mencurigakan, mereka melaporkan secara waktu nyata. Data itu langsung diproses kecerdasan buatan untuk menentukan ancaman dan kapal patroli terdekat dikirim untuk verifikasi. Sederhana, murah, efektif.

Dengan anggaran terbatas, Indonesia harus mengadopsi strategi campuran antara kualitas tinggi dan kuantitas murah. Beberapa kapal besar berkualitas tinggi seperti Fregat Merah Putih untuk efek gentar dan simbol kekuatan.

Tetapi sebagian besar investasi harus ke ribuan aset kecil seperti drone laut otonom, ranjau pintar, sistem sensor pantai, kapal cepat rudal.

Filipina memberikan contoh menarik dengan strategi “Assertive Transparency.” Mereka mempublikasikan secara agresif setiap tindakan intimidasi musuh ke media global, mengundang jurnalis asing untuk mendokumentasikan insiden.

Indonesia perlu lebih berani dalam perang narasi dan kognitif seperti ini. Kamera beresolusi tinggi dan videografi adalah senjata baru yang efektif.

Pemerintah Prabowo-Gibran telah menunjukkan komitmen dengan kenaikan anggaran pertahanan 2025 mencapai Rp165 triliun. Tetapi angka besar tidak otomatis menjadi kekuatan besar jika strukturnya masih berat personel.

Audit rutin terhadap kesiapan tempur kapal harus dilakukan secara independen. Definisi “50 kapal siap tempur” harus jelas, apakah sekadar laik layar atau benar-benar laik tempur dengan seluruh sensor dan rudal berfungsi optimal.

Hal paling penting adalah mempercepat integrasi digital pertahanan semesta. Nelayan, kapal survei, operator pelabuhan harus terhubung dalam satu jaringan pengawasan maritim nasional.

Setiap hari tertunda, setiap insiden di Natuna adalah bukti bahwa kita belum sepenuhnya menjadi tuan rumah di laut sendiri. Indonesia bukan negara kecil, melainkan negara kepulauan terbesar di dunia.

Namun kedaulatan maritim tidak datang dari ukuran geografis. Kedaulatan datang dari kemampuan mengelola, mengawasi, dan melindungi.

Karena dalam perang zona abu-abu, yang menang bukan yang paling kuat. Yang menang adalah yang paling cerdik bertahan dan paling gigih mempertahankan haknya. Laut ini milik kita, jangan biarkan siapa pun membuat kita ragu akan hal itu.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper