BANJARBARU – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan menerapkan inovasi hybrid engineering yaitu menggabungkan rehabilitasi alami dengan struktur fisik ramah lingkungan, sebagai strategi mitigasi perubahan iklim di kawasan pesisir.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalsel, Rusdi Hartono melalui, Kasi Konservasi Ekosistem Laut, Supriadi di Banjarbaru, Senin mengungkapkan langkah awal penerapan hybrid Engeneering itu, pihaknya akan melaksanakan demplot di Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut (Tala).
Supriadi mengatakan, melalui penerapan hybrid engineering diharapkan tanaman mangrove yang ditanam tingkat hidupnya lebih tinggi sekitar 80 persen dibandingkan rehabilitasi yang dilaksanakan secara alami.
Seperti diketahui, di Kalsel kawasan hutan mangrove yang mengalami kerusakan mencapai 12.300 hektar tersebut di lima kabupaten yakni Kabupaten Barito Kuala (Batola), Banjar, Tanah Laut (Tala), Tanah Bumbu (Tanbu) dan Kabupaten Kotabaru.
“Hingga kini dari luas lahan mangrove yang kritis, baru sebagian kecil atau 198 hektar yang direhab, tetapi setiap tahun akan dilaksanakan rehab dan mulai tahun 2026 akan diterapkan hybrid engineering,” katanya.
Rebah kawasan mangrove yang mengalami kerusakan itu, sebut Supriadi, untuk normalisasi kawasan mangrove dalam rangka memperkaya sumber daya ikan, karena mangrove merupakan sarang ikan di kawasan pesisir.
“Kita berharap melalui rehab kawasan mangrove tersebut sebagai salah satu upaya menjaga sumber daya ikan di kawasan pesisir,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Supriadi menambahkan, program penanaman mangrove hibrid ngineerign ini bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim di kawasan pesisir kritis.
Dengan pendekatan ini, DKP berharap dapat memperkuat ketahanan wilayah pesisir terhadap abrasi, banjir rob, dan kenaikan muka air laut.
Menurut dia, program ini berfokus pada tiga ekosistem utama, yaitu mangrove, terumbu karang dan lamun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, rehabilitasi difokuskan pada mangrove dan terumbu karang di zona APL (Area Penggunaan Lain).
Hybrid engineering tidak hanya mengandalkan struktur fisik, melainkan juga prinsip konservasi. Rusdi menjelaskan bahwa struktur fisik yang

