Mata Banua Online
Minggu, April 12, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Wawali: Penting Sistem Pelayanan Publik yang Berempati

by Mata Banua
28 Oktober 2025
in Banjarmasin
0
D:\2025\Oktober 2025\29 Oktober 2025\5\hal 5\sca.jpg
WAKIL Walikota Banjarmasin Hj Ananda saat memberikan arahan pada kegiatan program edukasi pengembangan SDM di bidang layanan publik berbasis digital yang digelar di Aula Kayuh Baimbai, Senin (27/10). Foto:Foto:mb/ant/hms pemko bjm)

BANJARMASIN – Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj Ananda menyatakan penting sistem pelayanan publik yang berempati, tidak hanya mengedepankan kecanggihan teknologi, tapi tetap ada sentuhan manusia.

Ananda pada kegiatan program edukasi pengembangan SDM di bidang layanan publik berbasis digital yang digelar di Aula Kayuh Baimbai, Senin, menyatakan, di tengah sistem serba otomatis, pemerintah tak boleh kehilangan sisi kemanusiaan.

Berita Lainnya

Dispersip Perkuat Pemahaman Instrumen Baru Akreditasi Perpustakaan Sekolah

Dispersip Perkuat Pemahaman Instrumen Baru Akreditasi Perpustakaan Sekolah

9 April 2026
Mulai Hari Ini, Pemko Terapkan WFH

Mulai Hari Ini, Pemko Terapkan WFH

9 April 2026

“Sekarang hampir semua bisa diselesaikan dari ujung jari. Tapi di balik semua kemudahan itu, ada satu hal yang tidak boleh hilang: sentuhan manusia,” ujarnya.

Menurut dia, pelayanan publik digital bukan hanya tentang efisiensi, tetapi juga tentang hubungan.

Ananda bahkan menyebut masyarakat sebagai “bestie” atau teman yang perlu dirangkul, bukan sekadar dilayani.

“Mereka bukan robot. Mereka sahabat kita, warga kota kita, atau kalau kata anak muda sekarang, bestie kita. Teknologi bisa menciptakan sistem yang sempurna, tapi hanya manusia yang bisa menciptakan hubungan yang bermakna,” ujarnya.

Sebagaimana dalam tema kegiatan ini, kata Ananda, “Service Excellent di Era Digital: Menghadirkan sentuhan manusia dalam teknologi”, karena semua harus melihat ulang esensi pelayanan.

Ananda membagikan pengalaman pribadinya semasa menjadi pramugari haji Garuda Indonesia.

“Dari situ saya belajar bahwa pelayanan sejati lahir dari empati, bukan sekadar kecepatan,” ujarnya.

“Waktu itu saya belajar bahwa pelayanan bukan cuma soal keterampilan, tapi soal hati. Dari situ saya sadar, kadang warga tak butuh solusi cepat, mereka hanya ingin didengarkan,” ucapnya.

Ananda menyatakan pentingnya mengubah pola komunikasi dalam pelayanan publik.

“Kita ubah kata ‘tidak tahu’ menjadi ‘sebentar, saya bantu carikan informasinya’, dan ‘tidak bisa’ menjadi ‘saya bantu carikan solusinya’. Satu kalimat kecil bisa membuat warga merasa dihargai,” ujarnya.

Dia menuturkan, pelayanan publik berbasis digital harus tetap mengandung empati. Walau chatbot dan aplikasi bisa menjawab cepat, interaksi manusia tetap menjadi faktor kunci.

“Di dunia yang serba otomatis, satu-satunya hal yang tidak bisa digantikan mesin adalah perasaan manusia. Karena masyarakat bukan objek pelayanan, mereka adalah partner kita dalam membangun kota,” demikian ucap Ananda. ant

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper