Mata Banua Online
Senin, April 6, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

RI Dibanjiri Baju Impor Ilegal

by Mata Banua
7 Oktober 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\Oktober 2025\8 Oktober 2025\7\7\Foto Berita HL.jpg
Karyawan beraktivitas di salah satu pabrik di Jawa Barat.(foto: bis/rds)

JAKARTA – Ikatan Pengusaha Kecil dan Menengah (IPKB) mendesak pemerintah untuk memberikan dukungan kepada industri kecil dan menengah (IKM) sektor tekstil dari segi jaminan akses pasar hingga penindakan impor ilegal.

Ketua Umum IPKB Nandi Herdiaman mengatakan pihaknya kini mengalami tekanan imbas ma­sifnya produk tekstil yang mem­banjiri pasar sehingga pe­r­min­taan konveksi makin ber­ku­rang.

Berita Lainnya

Harga Plastik Naik, PKL Menjerit

Harga Plastik Naik, PKL Menjerit

5 April 2026
Perajin Tahu-Tempe Makin Tergencet

Perajin Tahu-Tempe Makin Tergencet

5 April 2026

“Akses ke pasar yang luas dan stabil sangat penting bagi IKM untuk meningkatkan pen­ju­alan dan pendapatan,” kata Nandi dalam keterangan tertulis, Se­nin (6/10).

Menurut dia, tanpa pasar ya­ng terjamin industri kecil dan me­ne­ngah akan sulit berkembang mes­kipun memiliki produk ber­ku­alitas. Nandi juga menyoroti per­soalan masuknya barang im­por ilegal yang semakin me­ng­ge­rus pasar produk lokal.  Dia me­ni­lai lemahnya pengawasan di pe­labuhan dan perbatasan menjadi sa­lah satu penyebab utama ma­rak­nya impor ilegal.

“Kurangnya pengawasan ya­ng efektif di pelabuhan membuat ba­rang-barang ilegal mudah ma­suk ke Indonesia,” tuturnya.

Angka tersebut nyaris men­de­kati nilai dan volume impor pa­k­aian bekas pada 2024 lalu ya­ng mencapai US$1,5 juta dengan volume 3,86 juta kg sepanjang tahun lalu.  Jika dibandingkan de­ngan tahun 2023, nilai impor pa­kaian bekas tahun lalu hingga saat ini meningkat fantastis.

Pasalnya, BPS mencatat pa­da tahun 2023 nilai impor pa­kaian bekas hanya US$29.759 de­ngan volume 12.856 kg. Se­mentara itu, pada 2022 impor pa­kaian bekas senilai US$272.146 dengan volume 26.224 kg.

Bahkan, menurut dia, ada ban­yak produk impor ilegal yang beredar tanpa dokumen resmi se­perti perizinan impor (PI) dan La­poran Surveyor (LS) impor. Ko­n­disi ini tidak hanya me­ru­gi­kan pelaku IKM, tetapi juga me­nim­bulkan distorsi harga di pasar do­mestik.

“Produk ilegal seringkali di­jual lebih murah, sehingga me­ne­kan produk dalam negeri yang se­harusnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya.

Nandi berharap pemerintah, te­rutama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Menteri Ke­u­angan yang baru, dapat mem­perkuat pengawasan dan me­nindak tegas praktik impor ile­gal.

“Kami harap komitmen Dir­jen Bea Cukai dan Menkeu yang ba­ru bisa membendung importasi ilegal,” ucapnya.

Apabila arus barang ilegal bi­sa dikendalikan dan kebutuhan da­sar IKM terpenuhi, maka dia me­mastikan produk lokal akan mam­pu berjaya kembali di pasar do­mestik. Selain pasar, per­mo­dalan juga menjadi faktor krusial bagi IKM. Banyak pelaku usaha ke­cil kesulitan meningkatkan ka­pa­sitas produksi karena ter­ba­tas­nya akses ke sumber pembiayaan ya­ng memadai.

“Permodalan dibutuhkan bu­kan hanya untuk memperbesar pro­duksi, tapi juga untuk riset dan pengembangan produk baru agar mampu bersaing,” jelas Nandi.

Dia juga menambahkan, pen­dampingan juga menjadi salah sa­tu kebutuhan yang tak kalah pen­ting. Melalui pelatihan, men­to­r­ing, dan konsultasi, pelaku IKM dapat meningkatkan ke­mam­puan manajemen, efisiensi produksi, hingga strategi pe­ma­saran.

“Tanpa pendampingan yang te­pat, banyak IKM sulit naik kelas ka­rena minimnya kemampuan tek­nis dan manajerial,” tuturnya.

Dalam pandangannya, pri­o­ri­tas kebutuhan tiap IKM bisa ber­beda-beda tergantung kondisi ma­sing-masing. Namun, Nandi me­nilai bahwa akses pasar kerap men­jadi hal yang paling men­desak.

“Tanpa pasar yang stabil, su­lit bagi IKM untuk meni­ngkatkan penjualan dan pen­da­patan, bahkan permodalan pun tidak akan efektif jika produknya tidak laku di pasar,” pungkasnya. bis/rds

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper