Mata Banua Online
Minggu, April 5, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Banjarmasin Kawal Tiga Isu Krusial Kekerasan terhadap Anak

by Mata Banua
4 Juni 2025
in Banjarmasin, Kotaku
0
D:\2025\Juni 2025\5 Juni 2025\5\hal 5\Wawali Banjarmasin Hj Ananda didampingi Kadis P3A.jpg
WAKIL Walikota Banjarmasin Hj Ananda didampingi Kadis P3A Ramadan saat menyampaikan sosialisasi Kekerasan Terhadap Anak. (Foto:mb/via)

BANJARMASIN – Pemerintah Kota Banjarmasin berkomitmen melindungi hak-hak anak yang menjadi korban kekerasan.

Wakil Walikota Banjarmasin Hj Ananda menyatakan keprihatinan mendalam terhadap tiga isu besar yang mengancam masa depan generasi muda, yakni kekerasan terhadap anak, anak yang berhadapan dengan hukum, dan perkawinan anak.

Berita Lainnya

Pemko Banjarmasin Berlakukan WFH

Pemko Banjarmasin Berlakukan WFH

1 April 2026
Permohonan Pindah KTP ke Banjarmasin Meningkat

Permohonan Pindah KTP ke Banjarmasin Meningkat

1 April 2026

“Data menunjukkan bahwa kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan terhadap anak yang paling banyak terjadi dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di Kota Banjarmasin,” ujarnya pada Sosialisasi Kekerasan Terhadap Anak, Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH), dan Perkawinan Anak, di Banjarmasin Creative Hub, Rabu (4/6).

Ia juga merasa miris karena pelaku terbanyak justru berasal dari lingkaran terdekat anak, bahkan dari keluarga sendiri.

Ananda juga menyoroti fenomena mencengangkan di media sosial, yaitu munculnya grup-grup yang mempromosikan incest sebagai hal yang wajar. Ia menyebut hal itu sebagai kejahatan terorganisir yang mengancam masa depan generasi bangsa.

“Tidak ada ruang bagi kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan terhadap anak – baik di dunia nyata maupun digital,” tegasnya.

Menyinggung persoalan ABH, ia menekankan pentingnya pendekatan keadilan restoratif. Ia menyatakan bahwa banyak anak pelaku justru merupakan korban dari lingkungan yang tidak mendukung tumbuh kembang mereka, “Anak tetaplah anak. Mereka berhak atas kesempatan kedua,” tekannya lagi.

Selain itu, dirinya juga menyoroti tingginya angka perkawinan anak di Kalimantan Selatan, termasuk Banjarmasin.

Menurutnya, faktor kemiskinan, budaya, dan minimnya edukasi menjadi penyebab utama. Ia menyebut perkawinan anak bukan solusi, melainkan sumber masalah baru seperti putus sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, dan kemiskinan antargenerasi.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergerak bersama. “Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan seruan dan tekad kolektif,” pungkasnya. via

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper