Mata Banua Online
Jumat, April 10, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Dokter: Faktor Genetik Pegang Peran Penting pada Autisme

by Mata Banua
16 April 2025
in Mozaik
0
D:\2025\April 2025\17 April 2025\11\Halaman 1-11 Kamis\dokter.jpg
(foto;mb/web)

Dokter spesialis anak dr. Amanda Soebadi, Sp.A, Subsp.Neuro.(K),M.Med mengatakan faktor genetik memegang peran penting sebagai penyebab anak mengalami autisme.

“Faktor genetik ini memang ternyata memegang peranan penting pada risiko relative autism (autisme level tiga atau berat),” ujar dokter spesialis anak lulusan FK Universitas Indonesia itu dalam webinar yang dipantau dari Jakarta, Selasa.

Berita Lainnya

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

10 Februari 2026
5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

10 Februari 2026

Ia menjelaskan, saudara kandung sama ayah sama ibu dari seorang anak dengan kondisi gangguan spektrum autism (GSA) memiliki risiko 9 kali lebih besar dari anak dengan kondisi umum untuk mengalami autisme.

Sementara bila saudara kandung mengalami autisme klasik atau yang disebut dengan level tiga (berat), maka memiliki risiko yang lebih berat.

“Kalau dia hanya half sibling artinya sama ayah beda ibu atau sama ibu beda ayah tetap saja risiko dia meningkat 5 hingga 11 kali lipat,” katanya.

Kemudian bila seseorang memiliki sepupu dengan gangguan autisme maka seorang anak memiliki risiko mengalami autisme sebesar dua kali lipat dari populasi umum.

Meski genetik memegang peran penting dalam autisme pada anak, namun tidak ada penelitian yang mengukur risiko autisme pada anak dengan faktor lingkungan yakni berbagai pola asuh atau parenting style yang berbeda.

Dia mengatakan pada anak autisme, orang tua kerap menjadi sosok yang disalahkan berbagai pihak terutama soal pola asuh.

“Memberi nilai parenting satu ke itu sangat sulit dan parenting style pada anak dengan karakteristik berbeda itu tidak sama,” ujarnya pula

Anak dengan risiko tinggi autisme cenderung memiliki ibu dengan pola asuh yang mengatur atau memberi instruksi dibanding merespons inisiatif dari anak, misalnya menyuruh anak mandi usai pulang sekolah kemudian melakukan beberapa hal setelahnya.

Sementara pola asuh anak secara responsif yakni menegosiasikan beberapa hal yang akan dilakukan anak dengan berdiskusi.

Meski demikian, menurutnya pola asuh baik direktif dan responsif memang belum dapat disimpulkan secara pasti soal apakah autisme pada anak membuat orang tua cenderung mengambil sikap direktif atau sikap direktif orang tua merupakan faktor risiko autisme. ant

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper