Mata Banua Online
Selasa, April 7, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Daya Beli Masyarakat Anjlok

by Mata Banua
9 April 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\April 2025\10 April 2025\7\hal Ekonomi (10         April )\30092024-bi-bio-24-pusat_perbelanjaan_7_1727684368.jpg
Ilustrasi(foto;mb/web)

JAKARTA – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyebutkan daya beli masyarakat DKI Jakarta menurun sebesar 25 persen saat Lebaran 2025 atau Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah. “Penurunan daya beli bisa sekitar 25 persen saat Lebaran,” kata Ketua APBI DPD DKI Jakarta Mualim Wijoyo saat dihubungi.

Mualim mengatakan ada beragam faktor mengapa daya beli masyarakat menurun saat Lebaran, yakni sebagian besar masyarakat lebih memilih merayakan Lebaran dengan pulang kampung ataupun mendatangi tempat wisata.

Berita Lainnya

Harga Cabai Rawit Merah Rp83.150 per Kg

Harga Cabai Rawit Merah Rp83.150 per Kg

6 April 2026
Modus Haji Ilegal Mencuat Lagi

Modus Haji Ilegal Mencuat Lagi

6 April 2026

Untuk peningkatan pengunjung kebanyakan di sektor kuliner, seperti restoran lantaran sebagian masyarakat memanfaatkn liburan untuk makan di mal. “Barangkali karena banyak ART yang pulang ke kampung sehingga mal/resto menjadi jalan keluar untuk sebagian masyarakat tadi,” jelasnya.

Faktor lainnya, beberapa toko di pusat perbelanjaan yang masih tutup lantaran liburan hari raya. Selain itu, kata dia, kondisi ekonomi global yang saat ini terbilang tidak baik-baik saja yang mempengaruhi penurunan daya beli.

“Kondisi penurunan daya beli sebetulnya sudah dirasakan di tahun 2024 yang sampai saat ini belum pulih. Adanya penurunan masyarakat kelas menengah merupakan sinya penurunan daya beli dan tentunya ada faktor-faktor lain,” ucapnya.

Oleh karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk bisa lebih bijaksana dalam mencetuskan kebijakan agar tidak membuat kegaduhan yang merugikan masyarakat. Salah satunya, mengenai kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 12 persen.

“Sarannya pemerintah jangan membuat kebijakan yang merugikan, seperti awal tahun lalu PPN 12 persen walaupun ditunda tetapi terlanjur membuat kegaduhan,” kata Mualim.

APPBI DKI juga mendukung adanya pemberantasan impor ilegal agar produk lokal maupun usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa lebih berdaya saing. rep/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper