Mata Banua Online
Senin, April 13, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

“Darurat Kekerasan Seksual Anak di Kalsel: Saatnya Bertindak, Bukan Sekedar Perihatin!”

by Mata Banua
25 Maret 2025
in Opini
0
D:\2025\Maret 2025\26 Maret 2025\8\master  opini.jpg
Foto: ilustrasi

Oleh : Ainah (Guru dan Pemerhati Generasi)

Secara naluriah orang tua mana yang tidak ingin anaknya sukses di masa depan, ingin keadaan anaknya jauh lebih baik dibandingkan dirinya, baik dari sisi Pendidikan, jabatan, pangkat, kedudukan, maupun pendapatan. Tetapi keinginan dan harapan itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan, apalagi di zaman modern saat ini, banyak tantangan dan hambatan yang harus di lewati.

Berita Lainnya

Beras 5 Kg Tak Sesuai Takaran

Demo No Kings, Kebangkrutan AS dan Penegakan Sistem Pemerintahan Islam

12 April 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Demo NoKings, Kebangkrutan Amerika Serikat dan Penegakan Khilafah

12 April 2026

Kadang, bisa jadi keinginan dan harapan itu bisa hilang karena orang-orang terdekat atau orang kepercayaan, salah satunya adalah ketika anak menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang dekat atau orang kepercayaan. Sehingga pupuslah harapan anak dan juga keluarga untuk masa depan mereka.

Sebagai contoh merebaknya kasus kekerasan seksual pada anak di bawah umur, seperti yang terjadi di daerah Kalimantan Selatan kabupatenBanjar KecamatanGambut, seorang kakek tega melecehkan para murid di salah satu Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA).Kasus ini dibenarkan Ketua RT setempat. Ia menjelaskan bahwa pengungkapan kasus bermula ketika seorang anak mengadu kepada ibunya bahwa dirinya mengalami pelecehan saat membeli jajanan di sebuah warung dekat sekolah. (radarsampit.jawapos.com, 12/03/2025).Diduga terdapat sekitar 31 siswi yang diketahui menjadi korban dalam kasus ini.

Kepala UPTD PPA Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Banjar, Nopi Mekarsari mengatakan, bahwa pihaknya mendapat fakta bahwa kasus ini terjadi karena para korban masih belum memahami apa tentang sex education. Jadi pelaku memanfaatkan kepolosan anak.

Memberikan sex education kepada anak tentulah tidak cukup, karena masih banyak predator-predator anak bermunculan. Karena permasalahan ini terjadi tidaklah cukup hanya karena anak-anak tersebut tidak memahami sex education, tetapi karena tidak lain akibat sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan hari ini.

Perihatin, sikap ini wajar muncul pada semua orang tua akan keselamatan dan keamanan anak-anak mereka dari para predator pelecehan seksual ini. Namun, sikap perihatin saja tak akan mengubah keadaan. Maka seharusnya kita sebagai bagian dari masyarakat untuk mengkaji juga apa sebenarnya yang menjadi penyebab menjamurnya kasus pelecehan sampai saat ini.

Adanya pemisahkan aturan agama dari kehidupan, sehingga menjadikan sesorang merasa bebas untuk berbuat dan bertindak tanpa terikat dengan aturan agama. Sehingga wajar, ketika nafsu bangkit maka mereka berubah menjadi predator yang mencari mangsa. Hal ini ditambah lagi dengan penerapan hukum bagi pelaku yang tidak membuat jera.

Negara dalam sistem kapitalis sangat lemah dalam memperhatikan urusan rakyatnya. Rasa aman sangat mahal di sistem ini, keamanan hanyalah milik orang-orang yang punya uang. Hal ini juga dikarenakan negara mandul, tidak mampu memberikan sanksi tegas bagi pelaku.Walaupun berbagai regulasi sudah diberlakukan, akan tetapi tidak ada memberikan efek jera bagi pelaku.

Kekerasan seksual terhadap anak hanya akan bisa diselesaikan jika menerapkan Islam secara sempurna. Hal ini dikarenakan dalam Islam ada tiga pilar yang akan menjaganya, yaitu pertama, keimanan kuat yang dibentuk dari keluarga muslim.Kedua, kontrol Masyarakat, yang akan selalu mengingatkan Masyarakat dan negara yang keliru/salah dalam berbuat. Dan ketiga adalah peran penting negara dengan memberikan edukasi dan menerapkan sanksi yang akan membuat jera bagi pelaku pelecehan seksual ini.

Menyelesaikan kasus kekerasan seksual pada anak tidak bisa setengah-setengah, namun harus totalitas.Penjagaan dan perlindungan terhadap anak hanya bisa terwujud jika sistem kehidupan kita adalah Islam.Hanya Islam yang mampu mewujudkan kota ramah anak.

Sudah saatnya kita tidak hanya perihatin dengan menjamurnya kasus pelecehan seksual pada anak.Tapi dibutuhkan tindakan kita semua yaitu dengan meningkatkan keimanan, selalu saling mengingatkan dan lebih lagi negara harus menerapkan aturan yang tegas sehingga membuat jera pelaku pelecehan ini.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper