
BANJARMASIN – Persoalan darurat sampah di Kota Banjarmasin masih ramai diperbincangkan oleh warga hingga kalangan akademisi setempat. Ini, karena hingga kini belum ada solusi yang tepat untuk mengatasi membludaknya sampah tersebut pasca-ditutupnya Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih.
Baru-baru ini Tim Peneliti dari Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad al-Banjari (Uniska MAB) menawarkan solusi untuk mengatasi darurat sampah yakni dengan konsep eco-green.
Doktor S Purnamasari selaku ketua research dari Tim Peneliti Uniska MAB mengatakan, pihaknya masih terus melakukan penelitian agar nantinya solusi yang ditawarkan itu menjadi roadmap yang jelas dan menjadi bahan recomendasi policy public, serta diharapkan dapat meminimalisir darurat sampah di Kota Banjarmasin saat ini.
Dia menjelaskan, mengadopsi prinsip-prinsip eco green atau ekologi hijau dalam kehidupan sehari-hari adalah solusi lingkungan berkelanjutan dan penting bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.
Konsep eco-green saat ini sudah mulai ramai diperbincangkan. Eco-green adalah sebuah konsep yang mengedepankan untuk lebih peduli terhadap lingkungan atau bisa disebut sebuah konsep yang ramah terhadap lingkungan dengan merujuk pada pendekatan yang mengintegrasikan aspek-aspek ekologi dan keberlanjutan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Ini melibatkan pemikiran ekologis dalam perencanaan, desain, penggunaan sumber daya, dan konsumsi. Pada konsep ini mengajak kita untuk back to nature.
“Eco-green merupakan singkatan dari ecological green. Ecological yang dalam bahasa Indonesia adalah ekologi, berasal dari bahasa yunani yaitu dari kata oikos yang berarti habitat dan logos yang berarti ilmu,” jelas Dr Purnamasari, Senin (17/3).
Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Sedangkan green yang dalam bahasa Indonesia berarti hijau bisa diartikan berubah atau menjadi hijau, untuk membuat hijau, atau untuk menjadi atau tumbuh hijau.
Adapun sebagai salah satu bentuk upaya riilnya adalah dengan mendorong pemanfaatan limbah sampah agar dapat mengurangi pencemaran melalui penggunaan teknologi dan bahan-bahan yang ramah lingkungan.
Dia menambahkan, manusia dapat mengurangi pencemaran udara dan air, bahkan melalui pengurangan limbah yaitu dengan mengurangi sampah serta meningkatkan praktik daur ulang sebagai komponen penting dari eco green agar berdampak positif pada kesehatan manusia.
Penerapan prinsip-prinsip eco green living tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memiliki dampak positif pada kesehatan individu dan ekonomi global. Mengurangi emisi karbon dapat membantu mengurangi polusi udara, yang pada gilirannya dapat mengurangi tingkat penyakit pernapasan dan meningkatkan kualitas udara. Selain itu, mengadopsi gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dapat membuka peluang ekonomi baru, seperti industri energi terbarukan dan teknologi hijau, yang dapat menciptakan lapangan kerja baru dan memacu inovasi.
“Oleh karena itu sebagai bentuk sinergitas atas upaya ini kami melakukan beberapa kali penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang didanai oleh APBU Uniska MAB, terkait pemanfaatan sampah menjadi berkah, sampai pada pengolahan sampahnya menjadi ecobric dan bagaimana dari hasil pemanfaatan sampah itu menjadi omset tambahan keluarga dan mendapatkan investasi bahkan permodalan.
“Kita juga memberikan pelatihan dalam packaging, pemasaran online sehingga ini dapat menciptakan lapangan kerja baru dan memacu inovasi dalam berkarya/berwira usaha, menghasilkan pendapatan, terutama lagi tentunya menciptakan eco-green living yang bermanfaat untuk masyarakat luas,” tandas dosen Uniska MAB ini. ril/ms

