
Oleh: Nor Aniyah, S.Pd (PemerhatiMasalahSosialdanGenerasi.)
Kasus tawuran di kalangan pemuda semakin mengkhawatirkan masyarakat di berbagai daerah. Pasalnya, kasus ini terjadi di mana-mana dan sudah banyak memakan korban. Kriminalitas dalam wujud tawuran ini kini telah menjadi fenomena sosial yang berulang dengan kadar kejahatan yang makin mengerikan. Baru-baru ini Polsek Cidaun Cianjur menindak lanjuti laporan masyarakat terkait adanya kelompok geng motor yang diduga hendak melakukan tawuran hingga membuat resah warga karena pelaku membawa senjata tajam (rri.co.id).
Di kota Semarang, Polrestabes berhasil mengamankan puluhan anggota gengster dari lima kejadian berbeda dalam sepekan. Ada 49 anak di bawah umur yang sempat diamankan dalam penindakan tersebut. Bahkan Polrestabes kota Semarang mengungkap sejak Januari hingga September 2024, ada 21 kejadian dengan dengan 117 pelaku yang ditangkap. Setelah ditelusuri saat pelaku tawuran ditanya kenapa mereka tawuran alasannya karena ada yang menantang di media sosial. Mereka akan memenuhi tantangan itu demi pamor grup dan gengsi. Mereka akan menggunakan senjata tajam dalam aksinya. Sebagiannya juga selalu beraksi dalam kondisi terpengaruh minuman keras (detik.com).
Tawuran yang sudah dipandang tradisi di negeri ini khususnya di kalangan pemuda termasuk pelajar, sejatinya dipicu banyak faktor. Di antaranya adalah lemahnya kontrol diri, krisis indentitas pemuda, disfungsi keluarga, dan tekanan ekonomi atau hidup, lingkungan rusak, hingga lemahnya hukum dan penegakkannya. Lemahnya kontrol diri dan krisis identitas pemuda hari ini tidak lepas dari jauhnya mereka dari Islam. Sebab, hanya Islam yang mampu membentuk kepribadian mulia pada diri seseorang.
Kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan yang berjalan hari ini, membentuk pola pikir sekuler dan pola sikap liberal dalam diri pemuda. Alhasil, tujuan hidup pemuda hanya berputar pada aspek materi atau mencari kesenangan duniawi, termasuk menyalurkan emosi melalui tawuran. Hidupnya tidak produktif karena dipenuhi aktivitas kesia-siaan, bahkan membuat onar di tengah masyarakat.
Terbentuknya pemuda yang sekuler liberal juga tidak lepas dari disfungsi peran keluarga. Keluarga terutama ibu yang berperan mendidik anak memiliki kepribadian Islam, hari ini justru abai terhadap peran tersebut. Penerapan sistem ekonomi Kapitalisme yang menciptakan kemiskinan struktural, memaksa para ibu bekerja membantu ekonomi keluarga. Belum lagi banyak orang tua yang tidak memahami peran dan tanggung jawabnya terhadap anak.
Anak terlibat tawuran juga dipengaruhi media yang mengedepankan bisnis dibanding edukasi. Tayangan-tayangan media hari mengarahkan potensi besar pemuda pada hal-hal negatif atau kemaksiatan. Potensi besar pemuda pun tersalurkan pada kerusakan bukan kebangkitan. Belum lagi negara yang abai terhadap pembentukan kepribadian mulia pada generasi. Negara dengan kebijakan kapitalisnya menerapkan sistem pendidikan sekuler yang justru merusak pemikiran generasi. Kebijakan-kebijakan terkait generasi pun jauh dari kebijakan yang manusiawi dan berujung pada menyia-nyiakan potensi besar pemudanya.
Buah pemikiran sekuler Barat semakin kuat mencengkram negeri ini. Lihatlah begitu rusaknya perilaku generasi muda harapan bangsa. Maraknya aksi-aksi tidak terpuji semakin banyak. Kehancuran generasi tidak lain sebagai akibat penerapan sistem Kapitalisme demokrasi. Efek jangka panjang negeri ini akan kekurangan generasi berkualitas melanjutkan estafet kepemimpinan.
Berbeda dengan penerapan aturan Islam kaffah dalam sebuah negara berasas akidah Islam yang disebut Khilafah. Islam menetapkan negara sebagai penanggung jawab segala urusan umat, termasuk pembentukan generasi berkualitas, unggul, dan bertakwa. Apalagi generasi didudukkan sebagai pembangunan peradaban Islam yang mulia. Ada beberapa mekanisme yang akan dijalankan Khilafah untuk menjauhkan generasi dari kerusakan. Mekanisme tersebut bersumber dari syariat Islam dan saling berkelindan satu sama lain. Khilafah menempatkan keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak. Ibu adalah guru yang memiliki tanggung jawab mengenalkan anak identitas dirinya sebagai Muslim. Hingga berpikir dan beramal hanya dengan sandaran Islam. Hal ini akan menjadi pengontrol diri anak agar tidak mundah berbuat maksiat.
Selain itu, Khilafah memiliki sistem pendidikan yang akan menghasilkan generasi berkepribadian mulia yang mampu mencegahnya menjadi pelaku kriminal. Sebab, inilah tujuan utama pendidikan Islam. Anak tidak hanya disiapkan terjun ke dunia kerja dan mendapatkan materi, tetapi anak disiapkan menjadi generasi hebat yang mengarahkan potensinya untuk berkarya dalam kebaikan, mengkaji Islam dan mendakwahkannya, serta terlibat dalam perjuangan Islam.
Negara juga menyiapkan kurikulum pendidikan dalam keluarga sehingga terwujud keluarga yang harmonis, yang senantiasa memberikan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak yang tumbuh di dalam keluarga, dan memberikan pengaruh yang positif kepada lingkungan sekitar. Adapun masyarakat Islam akan menjadi lingkungan yang kondusif bagi anak. Sebab, standar-standar yang terbangun adalah standar halal haram. Apalagi masyarakat dalam Khilafah membangun budaya amar ma’ruf nahi munkar sehingga mereka tidak akan membiarkan kemaksiatan sekecil apapun di tengah masyarakat.
Adapun kebijakan Khilafah terkait pemuda akan menumbuhsuburkan ketakwaan dan mendorong produktivitas pemuda. Sistem ekonomi Islam yang diterapkan Khilafah juga menjamin kesejahteraan masyarakat individu per individu. Sehingga fungsi keluarga berjalan sesuai koridor syariat. Ibu akan fokus mendidik generasi bukan sibuk mencari nafkah.
Selain itu, Khilafah juga akan menjaga media dari konten-konten yang mengandung unsur kekerasan dan ide-ide yang bertentangan dengan Islam. Jika ada yang terlanjur tersebar, Khilafah akan bertindak cepat menghilangkannya. Konten-konten media yang diperbolehkan hanyalah yang mengedukasi dan menguatkan ketakwaan generasi. Karena itu, hanya Khilafah yang mampu memberantas budaya tawuran yang sudah menggejala dalam sistem Kapitalisme.
Negeri ini harus segera berbenah, agar kehancuran generasi dapat diantisipasi dan tidak semakin meluas, dengan terus berdakwah Islam kaffah di berbagai kesempatan di mana pun berada. Dengan satu harapan, kembalinya syariat Islam ditegakkan. Sistem Islam yang terbukti melahirkan para generasi tangguh dan memiliki prestasi mendunia. Sistem yang sudah dijamin Allah SWT dan Rasul-Nya.[]

