Mata Banua Online
Sabtu, April 11, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Solusi Tegaknya Kembali Bangunan Keluarga dari Keterpurukan

by Mata Banua
11 September 2024
in Mozaik
0

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd (Penulis, Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi.)

Kejadian tragis dalam lingkungan keluarga masih menjadi fenomena di negeri ini. Seperti yang terjadi di Kecamatan Balikpapan Barat pada Jumat (23/8/2024). Seorang ibu bernama Hj. RK meninggal secara tragis dibunuh anak kandungnya sendiri bernama AR. Kejadian itu seketika membuat warga geger dan ngeri (balpos.com). Kasus pembunuhan dalam keluarga juga terjadi di kawasan Pontianak, Kalimantan Barat. NAA (6) dibunuh secara tragis oleh ibu tirinya IF (24) di sebuah rumah pada Sabtu (24/8/2024). Dari hasil prarekonstruksi terungkap korban sudah sering mengalami penyiksaan berupa tindak kekerasan (rctiplus.com).

Berita Lainnya

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

10 Februari 2026
5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

10 Februari 2026

Sungguh keluarga Muslim masih diwarnai suasana kelam. Penerapan Sekularisme Kapitalisme membuat hubungan keluarga kalah dengan materi. Kapitalisme dengan asas pemisahan agama dari kehidupan atau Sekularisme telah menjadikan orientasi kehidupan manusia adalah materi. Baik dalam bentuk harta, kekuasaan, popularitas, hingga kepuasan atas perilaku yang diinginkan dan disukainya.

Agama disisihkan dalam mengatur kehidupan. Sehingga siapapun yang hidup di dalamnya tidak lagi memperhatikan perbuatan yang dilakukannya sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an atau tidak. Sekularisme juga menjadikan emosi tidak stabil, mudah menggebu-gebu hingga berujung pada aktivitas menyimpang. Kegagalan meraih materi membuat hubungan keluarga diabaikan sehingga tega melakukan tindak kekerasan bahkan pembunuhan. Perlu dipahami banyaknya kasus penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi di antara anggota keluarga menggambarkan jenis kriminalitas ini telah menjadi fenomena. Jika telah menjadi fenomena berarti penyebabnya bukan hanya dari aspek internal, tetapi juga aspek eksternal yang bersifat sistemik.

Disadari atau tidak negara memiliki wewenang mengatur rakyatnya berperan dalam menghilangkan atau merusak hubungan antar anggota keluarga. Pasalnya, negaralah yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan berikut kurikulumnya. Sementara pendidikan saat ini berbasis sekuler atau telah berkiblat kepada Barat. Agama yang berperan besar dalam membentuk kepribadian generasi tidak menjadi point of view dalam menyusun kurikulum pendidikan. Ini sekaligus menjadi bukti kegagalan sistem pendidikan sekuler yang berlaku. Sistem pendidikan sekuler telah mengabaikan pentingnya membangun keluarga sesuai tuntunan syariat.

Kegagalan sistem ekonomi dan politik yang berasaskan sekuler di negeri ini juga tampak nyata. Kebijakan politik ekonomi neoliberal sebagai buah penerapan ideologi Kapitalisme berefek pada semakin beratnya beban hidup keluarga Muslim. Sebab sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam sebuah keluarga sangat sulit diwujudkan. Sistem ekonomi Kapitalisme telah menjadi penyebab utama tingginya harga bahan-bahan pokok dan mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan. Hal itu tentu menjadi pemicu mudahnya seseorang stress dan tidak mampu mengontrol emosi.

Berbeda dengan penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan di bawah institusi Khilafah. Islam menjadikan negara sebagai raa’in atau pengurus yang menjaga fungsi dan peran keluarga. Rasulullah Saw bersabda, “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.”(HR. Muslim dan Ahmad).

Negara wajib membantu rakyatnya hidup dalam suasana tenang, aman, damai, dan suasana keimanan. Negara adalah pihak yang berperan paling efektif untuk membangun dan menjaga aqidah umat, baik individu maupun masyarakat. Banyak peran yang dapat dilakukan Khalifah atau kepala negara dalam rangka menjaga aqidah umat.

Pertama, melalui pendidikan. Sistem pendidikan wajib didasarkan kepada Islam. Pelajaran keislaman terkait aqidah, syariah (termasuk akhlak), dan sejarah Islam diberikan sejak dini bukan hanya di rumah juga di sekolah. Metode pendidikannya pun dilandasi dasar keimanan dan disampaikan dengan metode pemikiran (fikriyah) sehingga para pelajar benar-benar paham. Arah pendidikan ditujukan untuk membentuk kepribadian Islam dan menguasai sains dan teknologi.

Untuk mewujudkan kepribadian Islam ditanamkan aqidah Islam, pola pikir Islam dan pola sikap Islam yang akan melahirkan perilaku Islami. Sementara untuk menguasai sains dan teknologi diberikan sesuai kebutuhan dengan tetap didasarkan pada aqidah Islam. Alhasil, aqidah Islam akan memberikan kekuatan dan kesabaran seorang hamba dalam menghadapi kesulitan dan beratnya kehidupan. Keimanannya menjadi perisai untuk sabar dan tetap dalam kewarasan ketika bertemu masalah, sehingga tidak berbuat maksiat.

Kedua, untuk menjaga aqidah harus ada penerapan aturan-aturan Islam. Sebab, penerapan syariat Islam secara sempurna akan mewujudkan Maqashid Syariah. Sehingga kebaikan terwujud dalam keluarga, juga masyarakat serta negara. Melalui penerapan peraturan Islam dengan perundang-undangan berarti sedang terjadi proses penyatuan aqidah dengan syariah. Ketaatan kepada syariah akan mengokohkan aqidah dan penanaman aqidah akan semakin membuat masyarakat menaati syariah.

Dengan begitu anggota keluarga memahami peran masing-masing dalam menumbuhkan keluarga sakinah, mawadah dan warahmah. Demikian juga setiap individu dalam masyarakat akan memiliki kepedulian yang tinggi dan aktif terlibat dalam aktivitas dakwah. Inilah solusi tegaknya kembali bangunan keluarga dari keterpurukannya menuju kebangkitan.

Islam menjadikan negara menerapkan Islam kaffah, sehingga terwujud sistem kehidupan yang baik. Negara mewujudkan Maqashid Syariah sehingga kebaikan terwujud di dalam keluarga dan juga masyarakat serta negara. Yang akan menjadi kunci kekuatan utama dan akan membuat umat Islam menjadi bangkit.

Allah SWT berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. ar-Ruum [30]: 41).

Ayat tersebut menemukan faktanya hari ini, ketika kerusakan di tengah-tengah manusia semakin tampak dan nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Dampak pendidikan sekuler melahirkan para pelajar yang bermasalah. Penerapan sistem ekonomi kapitalis semakin memperlebar kesenjangan sosial di tengah masyarakat.

Kaum Muslim sudah layaknya menyadari kerusakan sosial hari ini terjadi akibat penerapan ideologi sekularisme liberalisme. Dalam negara yang menerapkan ideologi sekularisme liberalisme, kebebasan berperilaku dibiarkan membanjiri masyarakat, termasuk keluarga Muslim sehingga mendorong terjadinya berbagai kejahatan sosial. Lalu mengapa umat masih berdiam diri dari upaya penegakan syariah Islam?[]

Solusi Tegaknya Kembali Bangunan Keluarga dari Keterpurukan

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd (Penulis, Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi.)

Kejadian tragis dalam lingkungan keluarga masih menjadi fenomena di negeri ini. Seperti yang terjadi di Kecamatan Balikpapan Barat pada Jumat (23/8/2024). Seorang ibu bernama Hj. RK meninggal secara tragis dibunuh anak kandungnya sendiri bernama AR. Kejadian itu seketika membuat warga geger dan ngeri (balpos.com). Kasus pembunuhan dalam keluarga juga terjadi di kawasan Pontianak, Kalimantan Barat. NAA (6) dibunuh secara tragis oleh ibu tirinya IF (24) di sebuah rumah pada Sabtu (24/8/2024). Dari hasil prarekonstruksi terungkap korban sudah sering mengalami penyiksaan berupa tindak kekerasan (rctiplus.com).

Sungguh keluarga Muslim masih diwarnai suasana kelam. Penerapan Sekularisme Kapitalisme membuat hubungan keluarga kalah dengan materi. Kapitalisme dengan asas pemisahan agama dari kehidupan atau Sekularisme telah menjadikan orientasi kehidupan manusia adalah materi. Baik dalam bentuk harta, kekuasaan, popularitas, hingga kepuasan atas perilaku yang diinginkan dan disukainya.

Agama disisihkan dalam mengatur kehidupan. Sehingga siapapun yang hidup di dalamnya tidak lagi memperhatikan perbuatan yang dilakukannya sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an atau tidak. Sekularisme juga menjadikan emosi tidak stabil, mudah menggebu-gebu hingga berujung pada aktivitas menyimpang. Kegagalan meraih materi membuat hubungan keluarga diabaikan sehingga tega melakukan tindak kekerasan bahkan pembunuhan. Perlu dipahami banyaknya kasus penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi di antara anggota keluarga menggambarkan jenis kriminalitas ini telah menjadi fenomena. Jika telah menjadi fenomena berarti penyebabnya bukan hanya dari aspek internal, tetapi juga aspek eksternal yang bersifat sistemik.

Disadari atau tidak negara memiliki wewenang mengatur rakyatnya berperan dalam menghilangkan atau merusak hubungan antar anggota keluarga. Pasalnya, negaralah yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan berikut kurikulumnya. Sementara pendidikan saat ini berbasis sekuler atau telah berkiblat kepada Barat. Agama yang berperan besar dalam membentuk kepribadian generasi tidak menjadi point of view dalam menyusun kurikulum pendidikan. Ini sekaligus menjadi bukti kegagalan sistem pendidikan sekuler yang berlaku. Sistem pendidikan sekuler telah mengabaikan pentingnya membangun keluarga sesuai tuntunan syariat.

Kegagalan sistem ekonomi dan politik yang berasaskan sekuler di negeri ini juga tampak nyata. Kebijakan politik ekonomi neoliberal sebagai buah penerapan ideologi Kapitalisme berefek pada semakin beratnya beban hidup keluarga Muslim. Sebab sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam sebuah keluarga sangat sulit diwujudkan. Sistem ekonomi Kapitalisme telah menjadi penyebab utama tingginya harga bahan-bahan pokok dan mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan. Hal itu tentu menjadi pemicu mudahnya seseorang stress dan tidak mampu mengontrol emosi.

Berbeda dengan penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan di bawah institusi Khilafah. Islam menjadikan negara sebagai raa’in atau pengurus yang menjaga fungsi dan peran keluarga. Rasulullah Saw bersabda, “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.”(HR. Muslim dan Ahmad).

Negara wajib membantu rakyatnya hidup dalam suasana tenang, aman, damai, dan suasana keimanan. Negara adalah pihak yang berperan paling efektif untuk membangun dan menjaga aqidah umat, baik individu maupun masyarakat. Banyak peran yang dapat dilakukan Khalifah atau kepala negara dalam rangka menjaga aqidah umat.

Pertama, melalui pendidikan. Sistem pendidikan wajib didasarkan kepada Islam. Pelajaran keislaman terkait aqidah, syariah (termasuk akhlak), dan sejarah Islam diberikan sejak dini bukan hanya di rumah juga di sekolah. Metode pendidikannya pun dilandasi dasar keimanan dan disampaikan dengan metode pemikiran (fikriyah) sehingga para pelajar benar-benar paham. Arah pendidikan ditujukan untuk membentuk kepribadian Islam dan menguasai sains dan teknologi.

Untuk mewujudkan kepribadian Islam ditanamkan aqidah Islam, pola pikir Islam dan pola sikap Islam yang akan melahirkan perilaku Islami. Sementara untuk menguasai sains dan teknologi diberikan sesuai kebutuhan dengan tetap didasarkan pada aqidah Islam. Alhasil, aqidah Islam akan memberikan kekuatan dan kesabaran seorang hamba dalam menghadapi kesulitan dan beratnya kehidupan. Keimanannya menjadi perisai untuk sabar dan tetap dalam kewarasan ketika bertemu masalah, sehingga tidak berbuat maksiat.

Kedua, untuk menjaga aqidah harus ada penerapan aturan-aturan Islam. Sebab, penerapan syariat Islam secara sempurna akan mewujudkan Maqashid Syariah. Sehingga kebaikan terwujud dalam keluarga, juga masyarakat serta negara. Melalui penerapan peraturan Islam dengan perundang-undangan berarti sedang terjadi proses penyatuan aqidah dengan syariah. Ketaatan kepada syariah akan mengokohkan aqidah dan penanaman aqidah akan semakin membuat masyarakat menaati syariah.

Dengan begitu anggota keluarga memahami peran masing-masing dalam menumbuhkan keluarga sakinah, mawadah dan warahmah. Demikian juga setiap individu dalam masyarakat akan memiliki kepedulian yang tinggi dan aktif terlibat dalam aktivitas dakwah. Inilah solusi tegaknya kembali bangunan keluarga dari keterpurukannya menuju kebangkitan.

Islam menjadikan negara menerapkan Islam kaffah, sehingga terwujud sistem kehidupan yang baik. Negara mewujudkan Maqashid Syariah sehingga kebaikan terwujud di dalam keluarga dan juga masyarakat serta negara. Yang akan menjadi kunci kekuatan utama dan akan membuat umat Islam menjadi bangkit.

Allah SWT berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. ar-Ruum [30]: 41).

Ayat tersebut menemukan faktanya hari ini, ketika kerusakan di tengah-tengah manusia semakin tampak dan nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Dampak pendidikan sekuler melahirkan para pelajar yang bermasalah. Penerapan sistem ekonomi kapitalis semakin memperlebar kesenjangan sosial di tengah masyarakat.

Kaum Muslim sudah layaknya menyadari kerusakan sosial hari ini terjadi akibat penerapan ideologi sekularisme liberalisme. Dalam negara yang menerapkan ideologi sekularisme liberalisme, kebebasan berperilaku dibiarkan membanjiri masyarakat, termasuk keluarga Muslim sehingga mendorong terjadinya berbagai kejahatan sosial. Lalu mengapa umat masih berdiam diri dari upaya penegakan syariah Islam?[]

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper