Mata Banua Online
Minggu, April 12, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Kesenjangan Desa-Kota Belum Terselesaikan, Adakah Solusinya?

by Mata Banua
11 September 2024
in Mozaik
0
D:\2024\September 2024\12 September 2024\8\8\foto opini 1.jpg
Ilustrasi. (foto:mb/web)

Oleh :Meliana Dewi, S.TrGz (Pemerhati Politik)

Sejak lama, banyak yang berasumsi bahwa anak-anak yang hidup di desa itu tidak lebih pandai dari anak-anak kota atau mungkin daya saingnya tidak sehebat anak-anak yang ada di kota. Tentusaja, akan banyak data dan fakta yang menyangkal anggapan itu. Meski begitu, masih banyak terlihat pada anak-anak yang tumbuh di pedesaan atau daerah nan jauh dari ibukota merasa minder karena menganggap kualitas dirinya berbeda dari anak-anak yang tumbuh di perkotaan.(goodnewsfromindonesia.id,21 Juli 2024)

Berita Lainnya

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

10 Februari 2026
5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

10 Februari 2026

Di desa yang mayoritas penduduknya adalah petani, mungkin pembicaraan yang ada di dalam ruang sosial mereka tidak membahas soal ANIME LITTLE RE-CONCERT, salah satu dari banyaknya event-event Jepang yang sering diadakan di Jakarta.Jikapun ada, tapi tidak seramai apa yang dibicarakan orang-orang yang ada di Jakarta. Hal ini akan mempengaruhi tren dan pola-pola lain yang ada pada lini kehidupan manusia yang ada di dalamnya, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.Dengan kehidupan yang dikelilingi oleh industri-industri raksasa, mereka akan jarang membahas soal kebiasaan hidup yang dilakukan orang desa. Pembicaraan mereka tidak membahas waktu-waktu yang baik untuk melakukan tanam di kebun atau di sawah.Mereka tidak memahaminya, kalaupun ada, jumlahnya akan sangat sedikit. Di kota, manusianya lebih dekat dengan teknologi dan berbagai kemajuan lainnya. Hal ini juga akan mempengaruhi banyak pola yang menentukan kebiasaan dan watak dari kelompo kini.(goodnews from indonesia.id,21 Juli 2024)

Anak-anak di kota terbiasa berbaur dengan orang baru, yang kemudian akan menentukan karakter dan membentuk keberanian darinya di kemudian hari. Meskipun banyak mereka yang di kota yang merasakan sepi dari keluarganya, sedangkan di desa, anak-anak memiliki banyak waktu dan mendapat kehangatan dari keluarganya. Namun tidak seperti di kota, kenyataannya masih banyak terlihat sekolah yang tidak terakses oleh internet atau justru wilayah perkampungannya masih terisolasi, baik dari akses jaringan atau minimnya infrastruktur publik lainnya. Misalnya jalan rusak, tidak adanya listrik sebagai akses penerangan, dan masih banyak lainnya.(goodnews from indonesia.id,21 Juli 2024)

Pentas kebudayaan yang dilakukan anak-anak kota akan terlihat sangat mewah karena didukung dengan ornamen teknologi yang memadai diliput media sanasini. Meski mungkin, yang lebih memahami kebudayaan lokal bisa jadi adalah anak-anak yang tumbuh di desa. Inia dalah faktamiris yang terjadi. 79 tahun kemerdekaan, pemerintah belum mampu menuntaskan kekeliruan yang ada. Terlebih dampak buruknya, terbangun stigma sepertiapa yang sudah disebutkan pada paragraf awal.(goodnews from indonesia.id,21 Juli 2024)

Bung Hatta pernah berkata, “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tapi Indonesia akan bersinar karena lilin-lilin di desa.”Badan pusat statistik (BPS) pada maret 2024 presentase penduduk miskin di daerah perkotaan sebesar 7,09% sementara penduduk miskin di pedesaan sebesar 11,79% dari jumlah penduduk Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa angka kemiskinan dipedesaan dengan jumlah yang tinggi sedangkan di perkotaan dengan jumlah yang rendah.Dimana kesejahteraan desa dan kota belum terlihat secara merata, pasalnya diwilayah perkotaan untuk fasilitas sudah memadai sedangkan wilayah pedesaan fasilitas belum memadai. kenyataannya masih banyak terlihat sekolah yang tidak terakses oleh internet atau justru wilayah perkampungannya masih terisolasi, baik dari akses jaringan atau minimnya infrastruktur publik lainnya. Misalnya jalan rusak, tidak adanya listrik sebagai akses penerangan.

Ketika kita mencermati seperti di daerah Pekanbaru di Indragiri Hilir Riau yaitu jembatan lapuk anak-anak kesekolah tantang bahaya, kompas.com, 18 Maret 2024, Anak-anak di desa pulau kecil, kecamatan Reteh, kabupaten Indragiri Hilir,Riau harus menantang bahaya, setiap kali pergi kesekolah. Pasalnyamerekaharusmenitijembatankayu yang sudahlapuk demi bisamenyeberangisungai. Namun tidak ada pilihan lain anak-anak itu, selain melewati jembatan yang berada di jalanMaju Jaya tersebut. Termasuk saat musim hujan, yang membuat anak-anak dan warga semakin sulit dan berisiko untuk melintas. Sebab, jembatan kayu yang sudah berusia puluhan tahun itu kerap terendam saat debit air sungai meningkat. Padahal, bagi warga di lingkungan RT 001/RW 001 dan sekitarnya, jembatan ini adalah akses utama mereka dalam beraktivitas.Kondisi ini tentusangat berbahaya, karena sewaktu-waktu jembatan bisa ambruk atau roboh.

Penyebab kondisi desa dan kota belum merata inia dalah pembangunan desa diklaim dapat memeratakan. Pembangunan membawa kesejahteraan maasyarakat desa. Sayangnya realitanya tidak demikian. Hingga hari ini masih banyak penduduk miskin di desa, dan masih banyak desa tertinggal. Maraknya urbanisasi terlebih paska lebaran membuktikan adanya kesejangan tersebut dalam hal memperoleh lapangan pekerjaan. Terlebih dalam sistem hari ini, maraknya korupsi bahkan oleh pejabat desa, menjadikan pemerataan hanya ilusi. Sistem desentralisasi yang diterapkan juga mengakibatkan tidak merata karena kemampuan daerah yang berbeda-beda.

Solusi Islam mengatasi KesenjanganDesa-Kota

Pembangunan dalam sudut pandang Islam telah terbukti, bahwa mampu menyejahterakan rakyatnya secara merata, baik di desa maupun di kota. Dimana negara Islam berperan penting dalam mengurusi atau meriayah rakyatnya, yang berkewajiban untuk menjamin seluruh kebutuhan rakyatnya mulai dari sandang, pangan, dan papan, serta pendidikan, kesehatan, dan keamanan.Justru seperti inilah yang seharusnya sebagai standarjaminan pemerataan pembangunan di desa maupun di kota, dan setiap warga memiliki hak yang sama yaitu mendapatkan fasilitas hidup layak tanpa memandang ras, suku dan bangsa,hal ini dikarenakan tertanamnya suatu tekad yang kuat dan aturan yang dipakai berlandaskan syariat Islam. Tentudenganketaatanatasperintah Allah Swtdan tundukatasaturan Nya hidup akan menja diberkah.

Sebagaimana firman Allah Swt sebagai pengingat yang artinya “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuaiapa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S Al – A’rafayat 96)

Wallahua’lambishawab

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper