Mata Banua Online
Sabtu, April 11, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Menghidupkan Spirit Nasionalisme Pemuda

by Mata Banua
20 Agustus 2024
in Opini
0
D:\2024\Agustus 2024\21 Agustus 2024\8\8\Mujhammad Aufal Fresky.jpg
Muhammad Aufal Fresky (Magister Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi)

 

Pemuda hari ini adalah calon pemimpin di masa depan. Tidak hanya itu, pemuda menjadi aset penting yang nantinya bisa berkontribusi besar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Lantas, sudah siapkah pemuda kita hari ini? Jangan-jangan masih belum begitu mengerti bahwa harapan masyarakat begitu besar kepada generasi muda. Belum lagi, tantangan yang dihadapi pemuda hari ini begitu ragam dan kompleks. Masalah-masalah terkait pencarian jati diri sudah seharusnya tuntas sejak dini. Hal itu untuk kembali memperteguh identitas kita sebagai pemuda yang mana merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Bahkan menjadi elemen penting yang nantinya ikut mempengaruhi beragam perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Lagi-lagi timbul pertanyaan: sejauh apa pemuda hari ini mencintai Tanah Air-nya? Sebesar apa rasa nasionalis medalam jiwa pemuda hari ini? Jangan-jangan hanya dalamu capan?

Berita Lainnya

Arak-arakan Pegon, Tradisi Turun Temurun Warga Pesisir Selatan Jember

Arak-arakan Pegon, Tradisi Turun Temurun Warga Pesisir Selatan Jember

7 April 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Menghidupkan Kembali Kejayaan Pelabuhan Panarukan

7 April 2026

Menurut Fuad (2020) generasi muda bangsa seharusnya memahami tentang identitas bangsanya sendiri bahwa suatu bangsa terikat akan kesamaan tujuan dan rasa senasib sepenanggungan tanpa memperdulikan perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan. Sehingga patut kiranya jika pemuda hari ini juga berperan dalam memererat persatuan nasional. Menjadi agen yang selalu merukunkan dan mendamaikan potensi konflik atau gesekan di tengah masyarakat. Jangan sebaliknya, justru menjadi kompor dan provokator yang menimbulkan kegaduhan, bahkan sampai terjadi pertikaian yang memakan korban jiwa. Pemuda mesti memiliki kesadaran penuh bahwa persatuan nasional merupakan modal utama untuk mewujudkan cita-citanasional. Seperti halnya terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera. Pemuda semacam itu biasanya memiliki nasionalisme yang berkobar-kobar dalam dadanya. Memprioritaskan kepentingan bangsa dan negara dibandingkan kepentingan pribadi ataugolongannya.

Dinamika perubahan zaman memang menuntut adaptasi dan kecekatan pemuda kita. Lebih-lebih dalam membaca peluang dan kesempatan emas yang bisa dimanfaatkan di depan mata. Pengaruh globalisasi atau westernisasi tak boleh mengikisnasionalisme dalam dada. Sebab itulah, pemuda harus pandai-pandai menyaring mana budaya yang baik dan mana yang buruk. Percayalah, tidak semua budaya atau kebiasaan dari luar negeri itu pasti membawa kemaslahatan atau kemajuan untuk bangsa ini. Bisa jadi membawa kemudharatan atau kehancuran. Tentu saja karena sebagian budaya asing tersebut tidak sesuai dengan adat ketimuran, lebih-lebih sebagian kadang berlawanan dengan norma agama. Semisal, kebiasaan minum alkohol, pergaulanbebas, dan semacamnya.

Pemuda hari ini dituntut untuk memiliki karakter yang kokoh. Tidak gampang terombang-ambing gerak zaman yang kadang kala membuat kita kehilangan spirit nasionalisme. Seolah-olah semua tradisi yang datangnya dari luar negerti itu cocok untuk diterapkan di Indonesia. Seakan-akan semua yang datangnyadariluar negeri itupastirelevanuntukdiadopsi di negeri ini. Padahal, belumtentu. Bahkan, kita sendiri bisa menjadi pioner perubahan yang nantinya bisa mempengaruhi dunia. Bahkan, saya pribadi yakin, pemuda Indonesia memiliki kapasitas yang tidak kalah saing dengan pemuda mana pun di dunia. Saya optimis, suatusaat, pemuda kita bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia. Pemuda yang seperti itulah yang kita butuhkan. Pemuda yang tidak hanya mementingkan ambisi pribadinya. Pikirannya jauh kedepan. Visinya besar. Spirit nasionalismenya selalu menyala-nyala. Baginya, Indonesia bukan sekadar tempat dia lahir, tumbuh, dan besar. Bukan hanya tempat mengais rezeki. Namun, lebih dari itu, Indonesia telah menyatu dalam tulang sumsumnya. Kecintaannya tersebut terwujud dalam segala gerak-geriknya. Seperti halnya selalu mengabarkan kepada dunia terkait hal-hal positif yang datangnya dari Indonesia, selalu berupaya untuk meredam terjadinya potensi konflik di tengah masyarakat, menjadi agen yang membawa kesejukan, melawan segala jenis radikalisme dan ekstrimisme yang berpotensi merongrong persatuan nasional, dan sebagainya.

Pemuda yang paham akan sejarah bangsanya biasanya lebih mengerti bagaimana cara menghargai jasa-jasa pahlawan. Dengan berkaca pada masa silam perjalanan bangsaini, kita akan sadar bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari penjajah. Namun, berkat perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Mereka, para pendahulu kita, telah mati-matian berkoban harta, jiwa, dan raga untuk kemerdekaan Indonesia yang saat ini kita semua sedang menikmatinya. Maka sudah saatnya, institusi pendidikan, baik dari tingkat SD hingga perguruan tinggi untuk lebih menggaungkan lagi terkait urgensi memahami sejarah Indonesia. Syukur-syukur ada kurikulum khusus yang dirancang oleh Kemendikbud- Ristek untukmembangkitkan semangat nasionalisme pemuda Indonesia. Apalagi ditambah dengan adanya gerakan skala nasional untuk lebih mencintai bangsa ini lewat beragam cara tentunya. Spirit nasionalisme pemuda wajib dibangun lewat edukasi sejarah, Sebab, di dalamnya tesimpan beragam nilai-nilai kepahlawanan. Sehingga pemuda kita memiliki role model yang jela suntuk mengarungi hidupnya. Nasionslisme pemuda hari ini dihidupkan bukan untuk melawan Belanda atau Jepang atau bangsa lainnya. Kita sedang berperang bukan untuk melawan penjajahan dalam artian fisik. Kita saat ini, bersama-sama melawan kebodohan, radikalisme, ekstrimisme, judi, narkoba, miras, mafia hukum, dan segala hal bisa menjadi ancaman dan potensial untuk menghancurkan bangsa dan negara ini. Sekali lagi, mari kita hidupkan spirit nasionalisme dalam jiwa untuk masa depan Indonesia yang lebih gilang gemilanglagi.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper