Mata Banua Online
Senin, April 6, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Hj Raudatul Jannah Gaungkan Program 8000 HPK Cegah Stunting

by Mata Banua
25 Maret 2024
in Pemprov Kalsel
0

 

BANJARMASIN – Dalam rangka untuk lebih mempercepat penurunan stunting dan mengatasi masalah gizi buruk, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan mengadakan pertemuan pemanfaatan teknologi digitalisasi program gizi dan sosialisasi Percepatan Penurunan Stunting melalui Program 8000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Banjarmasin.

Berita Lainnya

Pemprov Kalsel Komitmen Pengurangan Jumlah Pengangguran

Pemprov Kalsel Komitmen Pengurangan Jumlah Pengangguran

5 April 2026
BPSDMD Kalsel Dorong Lahirnya Pemimpin Birokrasi Adaptif

BPSDMD Kalsel Dorong Lahirnya Pemimpin Birokrasi Adaptif

5 April 2026

Kepala Dinas Kesehatan Pro­vinsi Kalsel, Hj Raudatul Jannah melalui Kepala Bidang Kesehatan Ma­syarakat, Nurul Ahdani menegas­kan bahwa gizi dan kesehatan remaja putri sebagai calon ibu di masa depan memiliki peran yang sangat penting dalam pencegahan stunting.

“Prevalensi stunting nasional berdasarkan studi status gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 mencapai angka 21,6 persen, dengan Provinsi Kali­mantan Selatan mengalami penurunan cukup signifikan yaitu sebanyak 5,4 persen dari 30 persen pada tahun 2021 menjadi 24,6 persen pada tahun 2022,” kata Acil Odah, sapaan akrab Hj Raudatul Jannah.

Menurutnya, angka tersebut ma­sih perlu diperhatikan dan dicipta­kan solusi untuk mengatasi hal ter­sebut. Program 1000 HPK sebagai upa­ya pencegahan stunting dinilai belum menghasilkan hasil yang maksimal.

“Saya kira diperlukan perluasan intervensi hingga 8000 HPK, dengan perhatian khusus pada kelompok 7000 HPK selanjutnya. Apalagi Program 8000 HPK difokuskan pada peme­nuhan layanan kesehatan ibu, bayi, anak, remaja dan kelompok usia reproduksi,” ujarnya.

Untuk itu, Acil Odah mengung­kapkan melalui program 8000 HPK, remaja putri dan kelompok usia reproduksi perempuan sebagai calon ibu harus didorong untuk mem­per­hatikan gizi dan kesehatannya secara serius.

Hal ini sangat penting untuk menghindari kelahiran anak dengan stunting di masa depan. Namun, hasil surveilans gizi melalui SIGIZI­TERPADU di Provinsi Kalsel menunjukkan bahwa cakupan remaja putri yang mengkonsumsi tablet tambah darah (TTD) masih rendah sebesar 55,91 persen dan remaja putri yang terindikasi anemia masih tinggi yaitu sebesar 34,25 persen.

“Pentingnya pencegahan stunting juga menjadi fokus kerja sama antara semua pemangku kepentingan dalam menangani masalah gizi di Indo­nesia,” ungkapnya.

Acil Odah juga berharap melalui perluasan intervensi hingga 8000 HPK, kiranya seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan stunting dapat lebih efektif dan efisien dalam menangani perma­salahan stunting sehingga target nasional penurunan stunting 14 persen dapat terwujud pada tahun 2024.

Sementara itu, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Ardiansyah menyampaikan tujuan kegiatan meningkatkan pemanfaatan teknologi digitalisasi pada pelaksanaan surveilans gizi dan melakukan sosia­lisasi 8000 HPK dalam upaya per­cepatan penurunan stunting.adpim/ani

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper