Mata Banua Online
Minggu, April 5, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Sikap Individualistis dan Minimnya Kepedulian

by Mata Banua
6 November 2023
in Opini
0

Oleh. Noor Faizah Rahmi (Pendidik dan Pemerhati Generasi)

Rumah ditemukannya mayat ibu dan anak tinggal kerangka di Perumahan Bukit Cinere Indah, Depok, pernah dikenal sebagai rumah tinggal terbaik di mata para tetangganya. Berlokasi tepatnya di Jalan Puncak Pesanggrahan VIII, rumah itu selalu terjaga kebersihannya, juga koleksi tanamannya yang terawat. “Dulu salah satu rumah terbaik, selalu rapi, catnya selalu baru, ada kotor sedikit catnya langsung dicat lagi,” kata Toto Trinyoto, 74 tahun, satu di antara tetangga lama rumah itu saat ditemui pada Sabtu, 9 September 2023.

Berita Lainnya

KorupsiBerjamaah dan SimbolisKepala Daerah

KorupsiBerjamaah dan SimbolisKepala Daerah

31 Maret 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

SKB Kesehatan Jiwa Anak Disepakati 9 Kementerian dan Lembaga

31 Maret 2026

Menurut dia, keluarga terdiri dari suami, istri dan satu anak itu rajin menjaga kebersihan, termasuk menjaga jalur hijau di depan rumahnya. Untuk urusan kebersihan dan pemeliharaan tanaman, Toto mengungkap ada tukang yang dipekerjakan oleh keluarga itu. “Paling enggak dia (korban) ke luar memantau,” ujar Toto. Toto menambahkan bahwa keluarga korban termasuk salah satu penghuni pertama di perumahan tersebut, tetapi tidak pernah sosialisasi dengan warga.

Dia mengatakan terakhir kali melihat Grace Arijani Harahapan—istri dalam keluarga itu—ke luar rumah saat membuang sampah, menyusul ke petugas pengumpul sampah yang sedang memarkir kendaraannya di depan rumah Toto. Tapi ini pun, kata Toto, sudah cukup lama. “Anaknya sama sekali tidak pernah ke luar, kalau anak kecil kan biasanya sepedaan di jalan sini,” katanya sambil menambahkan, “Ibunya juga saya lihat hanya sesekali, itu juga saat membuang sampah dan keluar naik taksi.”

Diberitakan sebelumnya, rumah tempat temuan mayat ibu dan anak tinggal kerangka berlokasi di kawasan perumahan elit di Cinere, Depok. Kondisi rumah sudah tidak terawat dan aliran listrik diputus PLN. Dua jasad tersebut adalah seorang ibu berinisial GAH (64 tahun) dan anaknya DAW (38 tahun). Mayat keduanya diduga sudah lama membusuk di dalam kamar mandi.

Dari pantauan di lokasi, rumah 2 lantai yang didominasi warna merah jambu dengan pagar dan jendala putih terlihat berdebu. Rumput di halaman juga sudah berkembang liar.

Kasubdit 4/Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Samian menyatakan, pihaknya telah memeriksa 10 saksi sehubungan dengan kasus penemuan mayat tinggal kerangka di kawasan Cinere, Depok. Menurut dia, dua dari 10 saksi itu berinisial S dan K. Nama dan nomor telepon dua saksi ini tertulis dalam secarik kertas yang ditemukan polisi di lokasi kejadian.

Polisi sebenarnya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sejak mayat ditemukan. Namun, perkara ibu-anak tewas tersebut dilimpahkan ke Polda Metro Jaya dan digelar olah TKP lanjutan hari ini. Olah TKP lanjutan melibatkan Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jatanras (kejahatan dan kekerasan) Polda Metro Jaya, Puslabfor Bareskrim Polri, dan RS Polri Kramat Jati yang berlangsung sejak pukul 14.30 hingga 16.45 WIB.

Polisi telah menyita dokumen dari TKP, seperti beberapa catatan, bukti kelahiran, dan bukti pembayaran. Samian mengutarakan tak tertutup kemungkinan untuk melakukan olah TKP lagi jika diperlukan. Dengan begitu, penyelidik Polda Metro Jaya dapat menyimpulkan penyebab kematian dua mayat tinggal kerangka tersebut. “Nanti setelah hasil dari penyelidikan induktif ini, kami padukan dengan hasil penyelidikan deduktif. Apabila perlu, kami pasti juga akan kembali ke TKP,” ucap dia.

Kasus Cinere memiliki kemiripan dengan kasus Kalideres. Kedua keluarga cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari lingkungan tempat mereka tinggal. Fakta ini sungguh menyedihkan mengingat kediaman mereka bukanlah lingkungan yang sepi tetangga atau area yang minim penduduk. Para korban justru tinggal di perumahan yang cukup elite pada masanya. Namun, kematian mereka baru terbongkar setelah membusuk di dalam rumah.

Ini menandakan bahwa pola hubungan antarindividu yang tecermin dalam kehidupan sosial saat ini telah bergeser. Kepedulian, empati, dan kemanusiaan berubah menjadi apatis dan individualistis. Sikap individualistis dan minimnya kepedulian ini memang menjadi karakteristik masyarakat kapitalistis. Secara umum, individualisme bisa diartikan sebagai suatu pandangan yang lebih mementingkan kebebasan dan kemerdekaan pribadi atau individu dibandingkan kepentingan orang lain. Dari pandangan ini, kapitalisme menganggap kehidupan pribadi adalah privasi yang harus dihormati. Ibarat kata, “Urus saja dirimu sendiri, tidak perlu mengurus kehidupan orang lain.” Jika individualisme sudah membudaya, jangan heran jika kasus serupa akan kembali berulang. Tetangga hilang, bahkan meninggal, tidak diketahui rimbanya.

Islam memiliki aturan lengkap dalam membangun masyarakat Islam dengan membiasakan sikap saling menghormati, membantu, dan peduli sesama.

Pertama, Islam mengharuskan beramar makruf nahi mungkar, yakni sikap saling menasihati dalam kebaikan serta mencegah individu melakukan kerusakan. Dengan terbiasanya masyarakat berdakwah, tidak ada sikap apatis dan individualis seperti halnya dalam sistem kapitalisme.

Kedua, sikap saling peduli dan tolong-menolong merupakan ciri khas masyarakat Islam dan kewajiban yang harus ditunaikan bagi setiap muslim. Allah Swt. memerintahkan hal ini  dalam QS Al-Maidah: 2,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.”

Ketiga, negara menerapkan sistem sosial yang berlandaskan syariat Islam. Peradaban kapitalisme hanya melahirkan kesenjangan sosial yang memengaruhi pola kehidupan sosial masyarakat. Alhasil, jika seseorang kehilangan kejayaan finansialnya atau terbelit masalah, orang lain akan cenderung menjauhi dan tidak mau tahu urusan mereka.  Namun, dalam Islam, kepedulian dan saling membantu saudara, tetangga, dan siapa pun yang sedang menghadapi masalah, adalah kewajiban.

Islam memerintahkan agar hak-hak tetangga dipenuhi, di antaranya menghibur dan meringankan beban penderitaannya dengan nasihat, tidak menampakkan wajah gembira tatkala ia dirundung duka, menjenguknya ketika sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya, serta membantu pengobatannya bila ia membutuhkannya. Rasulullah úý bersabda,

“Bukanlah seorang mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR Bukhari). Dalam hadis lain, Nabi úý bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari).

Semua ini hanya terwujud jika napas kehidupan sosial masyarakat berasas pada akidah Islam, bukan sistem sekuler kapitalisme.

 

 

Tags: Noor Faizah RahmiPendidik dan Pemerhati Generasi
Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper